Selasa, 04 Februari 2014

Surat Balasan Satu Tahun Lalu

0 komentar

Assalamulaikum, wanitaku...

Suratmu satu tahun lalu telah aku terima. Sebelumnya maafkan aku untuk tiga hal; pertama, karena tak juga memberitau dimana letak keberadaanku. Kedua, karena hal itu membuatmu kesulitan ketika mengantarkan suratmu hingga beberapa kali diterima oleh orang yang tak tepat. Ketiga, karena aku menuliskan balasan satu tahun setelahnya, aku tak menyadari kedatangan suratmu kala itu.

Wanitaku,
Kabarku di sini amat baik, IA begitu baik mencurahkan rahmatnya kepadaku setiap waktu. Aku yakin, semua itu juga karena doa yang tak pernah lelah engkau panjatkan. Pagiku tak secerah milikmu, sepertinya langit tengah bersedih akhir-akhir ini, matahari pun enggan menghiburnya. Kamu rindu subuh berjamaah denganku? Bersabarlah untuk sementara waktu, kelak aku tak akan melewatkan subuh berjamaah denganmu. Yang perlu kamu lakukan sekarang, solatlah pada awal waktu, karena itu sebaik-baiknya waktu. Bukankah kamu ingin kita bertemu dalam sebaik-baiknya waktu?

Wanitaku,
Pagi ini aku masih menyantap nasi goreng buatan ibu. Aku tak sabar untuk merasakan lezatnya masakanmu. Kamu juga tak perlu ragu, aku selalu menyisipkan namamu dalam setiap dhuha ku. Karena menyebutmu dalam tiap doaku adalah hal yang selalu membahagiakan pagiku. Maafkan aku karena membiarkanmu berangkat pagi-pagi buta untuk bekerja. Kelak, ketika bersama aku akan mengantar dan menjemputmu, walau sebenarnya aku lebih menyukai kamu berada di rumah saja tapi aku tak akan melarangmu. Aku percaya kamu mampu menyeimbangkan pekerjaan dan keluargamu.

Wanitaku,
Terima kasih telah percaya untuk tetap menunggu. Aku berjanji tak akan membuatmu menyesal untuk tetap menunggu kehadiranku. Aku di sini, akan berusaha semampuku menyiapkan segala hal yang terbaik bagi kebahagiaan kita kelak.

Wanitaku,
Tak perlu ragu, kelak kita akan berjumpa dalam sebaik-baiknya perasaan. Aku tak akan mampu menyakiti hatimu. Bagaimana mungkin aku mampu menyakiti hati seseorang yang telah IA percayakan kepadaku? Bagaimana mungkin aku mampu melukai hati seseorang yang telah mempercayakan aku tuk menjadi jalan menuju surga-NYA?

Wanitaku,
Maafkan aku masih menitipkanmu pada-NYA dan kedua orang tuamu. Bersabarlah dahulu, tak perlu gegabah karena pada saatnya tiba, aku pastikan akan menjemputmu dengan gagah. Tetaplah mendambaku dalam doa. Sampaikan salamku untuk kedua orang tuamu, katakan padanya, aku akan menjemputmu pada sebaik-baiknya waktu.

Dengan penuh rindu,
Calon imammu.

Selamat Dua Empat!

0 komentar

Tanggal empat bulan dua,

Untuk yang kedua puluh empat.

Hari ini mungkin untuk sebagian orang, biasa saja tak ada sesuatu yang spesial. Untukku tidak. Jika diperhatikan, hari ini semuanya serba dua dan empat. Tanggal empat bulan dua tahun dua ribu empat belas, surat cinta ke empat di bulan ke dua. Tak hanya tanggal, surat cinta ini juga ditujukan untuk dua orang yang begitu spesial yang telah melalui dua puluh empat tahun paling bahagia bersama; Mama & Ayah.

Selamat hari pernikahan yang kedua puluh empat tahun!

Hari ini pasti menjadi hari yang begitu spesial untuk kalian berdua. Melewati dua puluh empat tahun bersama aku yakin bukan perkara mudah. Berhasil menyatukan isi dua kepala yang berbeda untuk tetap beriringan bersama selama dua puluh empat tahun adalah sesuatu yang begitu indah pastinya. Bagaimana rasanya melewati dua puluh empat tahun bersama? Sebahagia pemikiranku, kah?

Semoga iya. Walaupun tidak, biarkanlah jawabannya iya. Agar aku pun mampu untuk tetap percaya bahwa cinta sejati memang ada. Bahwa dia yang kelak tetap setia walau usia tak lagi muda bukanlah isapan jempol semata.

Tapi, aku yakin jawabannya pasti iya. Buktinya, setiap duka yang berbalut luka mampu kalian ubah menjadi suka. Walau nyatanya memang tak mudah, tapi kalian tetap percaya.... bahwa cinta memang seharusnya berjuang bersama.

Selamat dua puluh empat tahun...
Tetaplah saling menjabat walau ragu kadang menyeruak begitu dahsyat.
Tetaplah saling menatap walau letih kadang menyapu segala harap.

Tetaplah bersama untuk merayakan dua puluh empat tahun yang kedua!

Ditulis dengan penuh cinta,
Gadis kecilmu.

Minggu, 02 Februari 2014

Tsurhat Cinta Untuk Bapak Walikota

0 komentar

Yang terhormat, Bapak Walikota.

Sebelumnya perkenalkan, pak. Saya Dalila, dua puluh tiga tahun dan sedang mencari kerja. Orang tua saya berdarah Jakarta - Sumatera, Pak. Tapi walau begitu, saya sudah lahir dan tetap tinggal di Depok sampai sudah seusia ini. Belum berencana meninggalkan Depok juga.

Bapak Walikota,
Surat ini adalah surat ketiga di #30HariMenulisSuratCinta yang diselenggarakan oleh @PosCinta. Dan surat ini untuk bapak. Bapak punya waktu senggang sekitar lima menit kan? Iya Pak, hanya lima menit saja untuk membaca surat ini.

Dear Bapak Walikota,
Hari ini saya harus berangkat pagi-pagi buta, pak. Mungkin saat saya sudah harus menggigil karena dinginnya air subuh dan sudah berdiri di depan peron stasiun, bapak masih bercengkrama dengan anak-anak bapak. Pagi ini, saya mungkin bahkan lebih pagi hadirnya dari matahari. Tapi, saya bersemangat pak. Demi masa depan lebih baik, bukan begitu pak?

Depok - Jakarta memang tidak jauh, pak. Tapi bapak tau kan hari ini hari apa? Senin pak. Sayangnya, hari ini semua serba ganas pak. Saya sudah berada di depan peron stasiun sedaritadi tapi tak juga bisa masuk ke dalam kereta pak. Sudah tiga kali saya terpental-pental oleh mereka yang tenaganya sepuluh kali lipat dari saya. Padahal saya tidak besar pak, tidak akan menghabiskan banyak ruang dalam kereta, tapi bahkan saya tidak bisa masuk. Semangat saya sedari pagi tadi pun ikut terpental-pental entah kemana pak. Sebenarnya hari ini saya ada test untuk pekerjaan, tapi kesabaran saya juga sudah diuji sebelum sampai ke lokasi. Untungnya stok sabar saya sudah diisi ulang.

Pak, saya warga Depok sedari lahir. Kartu tanda penduduk saya juga Depok. Saya menghabiskan waktu sekolah, kecuali SMA, yang juga di Depok. Saya juga menghabiskan akhir pekan di Depok pak. Bahkan ketika harus dirawat, saya juga dirawat di rumah sakit Depok pak. Saya warga Depok sejati pak. Tapi, dari semua hal yang saya lakukan di Depok, ada satu yang kurang. Iya, saya tidak bekerja di Depok.

Bapak Walikota,
Saya dan Depok menjadi saksi kehidupan masing-masing. Depok lahir ketika saya masih berseragam putih-merah, kami beda tujuh tahun. Namun, Depok berkembang begitu cepat. Pertumbuhan ekonomi pun melaju pesat, bukan begitu pak? Saya bersyukur Depok memiliki walikota-walikota yang kompeten. Jika tidak, Depok tidak akan berkembang pesat seperti ini. Namun, dari semua itu, warga Depok masih banyak sekali yang bekerja di Ibukota. Untuk itu, bisakah bapak menyediakan lapangan pekerjaan lebih banyak untuk saya? Tidak tidak, lebih tepatnya untuk orang-orang seperti saya.

Kelak saya akan menjadi istri dan ibu untuk anak-anak saya. Saya tidak dapat membayangkan jika harus meninggalkan mereka pagi-pagi buta untuk mencari uang yang hanya mampu untuk membelikan satu dua buah mainan. Lalu akan sampai di rumah ketika mereka sudah terlelap. Tapi tidak akan seperti itu kejadiannya jika saya dapat bekerja di Depok, pak. Saya bisa berangkat kerja setelah menyajikan sarapan untuk mereka, sepulang kerja masih dapat membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah lalu bercanda bersama dan tentunya saya masih mampu membelikan mereka satu dua buah mainan.

Sebelum surat ini bertambah panjang, baiknya saya harus mengakhiri surat ini karena bapak pasti akan sangat sibuk mengurusi setiap aspek di Depok. Semoga bapak bisa memikirkan kembali harapan saya tadi. Surat ini saya akhiri dengan doa agar bapak tetap selalu amanah menjalani tugas bapak. Saya yakin bapak tidak akan mengecewakan kepercayaan saya dan warga Depok lainnya. Saya juga berdoa semoga kita semua akan semakin ramah kepada lingkungan Depok yang sepertinya sangat cepat menua dari usianya, saya khawatir Depok akan jatuh sakit. Bagaimanapun, Depok adalah rumah untuk saya. Ke kota manapun saya pergi, Depok masih yang ternyaman untuk saya. Saya percayakan Depok kepada bapak. Semangat!

Salam hormat,
Saya.

*Ditulis sambil terjepit-jepit di kereta.

Sabtu, 01 Februari 2014

Dear February

0 komentar

Dear February,

January telah berlalu, dan hari ini adalah hari pertama kedatanganmu. Setelah tiga puluh satu hari melalui suka duka bersama January, kini hadirmu membawa sejuta harap baru bagiku. Karena mereka bilang, kamu adalah bulan penuh cinta.

Hari ini pun ada banyak harap yang mereka gantungkan padamu yang kubaca dalam lini masaku. Sebagian mereka berharap cinta yang baru, sebagian lagi berharap cinta yang lama tak cepat berlalu. Aku ada dalam opsi pertama. Entah mengapa aku masih terpaku dalam cinta yang sama begitu lama.

Jengah. Namun rasanya tak ingin beranjak dari sana. Entah memang ia yang begitu indah, atau memang aku yang tak mengerti caranya berpindah. Yang aku tau, cinta memang semestinya tetap berlama-lama dengan dia, yang tetap sama. Sampai tiba saatnya, waktu yang menghentikan semua.

Dear February,

Jika tak mudah untukmu menghadirkan cinta yang baru bagiku, sudikah engkau membuat seseorang yang sudah selama ini aku tempatkan pada kasta hati tertinggi untuk sekedar menyadari? Namun, tak perlu terlalu dipaksa. Karena cinta seharusnya kebebasan paling nyata.

Jika memang tak mudah juga menyadarinya, bisakah engkau berkompromi dengan waktu untuk menghentikan segala gejolak hati? Karena cinta nyatanya tak bisa hanya dari satu sisi.

Selasa, 21 Januari 2014

Pria Sabtu Minggu

0 komentar

Dear Pria Sabtu Minggu,
Ingatkah kamu beberapa waktu lalu, kita bertemu di depan sebuah pintu. Tanpa tegur atau senyum, kita saling tersipu malu. Beberapa kali mata bertemu namun tak jua kamu tau siapa aku, pun begitu denganku.

Dear Pria Sabtu Minggu,
Tak sadarkah kamu dengan letak dudukmu yang selalu di depanku? Aku pun tak tau mengapa selalu berada di belakangmu. Dan selama itu, aku tergugu-gugu melihat punggungmu yang seakan membeku. Beberapa jam berlalu namun waktu tak jua mampu mencairkan suasana yang sedaritadi kaku.

Dear Pria Sabtu Minggu,
Pagi ini entah sudah menjadi yang keberapa minggu kita bertemu. Dan selama itu, hanya segurat senyum satu-satunya jawaban dari setiap tatap mata yang tak pernah disengaja. Namun tak seperti sabtu sabtu lalu dan minggu minggu itu, kali ini kamu memilih duduk satu bangku di sampingku. Seketika degup jantungku seakan berpacu mengalahkan bom waktu.

"Siapa namamu?" Tanyamu.

Dear Pria Sabtu Minggu,
Tepat pada menit kesepuluh, kamu mencairkan waktu yang sekian lama kaku. Dan tepat pada saat itu, kamu membuat hatiku terbang begitu jauh.

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template