Kamis, 26 September 2013

Angkasa... -2-

0 komentar
Lo dimana?
Lo baik-baik aja kan?
Jangan buat gue khawatir. Lo dimana, Thi?
Udah satu jam dan lo belum datang juga. Thi, please kasih tau gue keberadaan lo.
Lo udah sampai rumah, Thi?
Kubaca pesan singkat dari Angkasa. Ternyata dia meninggalkan beberapa pesan tadi. Juga beberapa panggilan.
Gue udah sampai rumah kok.
Balasaku singkat untuk pesan terakhirnya. Tanpa bertanya kembali apakah dia sudah sampai di rumahnya atau belum. Entahlah, aku tidak terlalu menyukai bertanya tentang hal-hal seperti itu. Aku merebahkan tubuhku, memainkan ulang kejadian sore tadi di Pulchra Café dalam lamunanku.
“Thia Salsabilla, lo memang bukan perempuan yang mampu membuat gue jatuh hati pada pandangan pertama. Tapi, lo mampu membuat gue mencintai diri gue sendiri, pada setiap hal yang terjadi dalam hidup gue.” Ucap Angkasa dengan raut wajah serius namun menenangkan.
“Lo buat gue mengerti, bahwa seharusnya kita terlebih dulu mencintai diri sendiri bukan sibuk mencari siapa yang akan kita cintai. Dari ke-enjoy-an lo menikmati waktu kesendirian lo, gue kemudian paham, bahwa sepatutnya tak perlu ada yang dirisaukan. Nikmati dan berbahagia saja selama masa tersebut. Jika sendiri saja tak mampu membuat kita bahagia, lalu bagaimana dengan berdua? Gue masih ingat betul perkataan lo itu.” Lanjutnya. Aku hanya diam mendengarkannya.
Kemudian lamunanku kembali ke waktu pertama kali kita berjumpa. Hari itu aku datang seorang diri ke Bandung. Begitupun dengan Angkasa. Kami duduk di meja yang sama. Aku tak banyak bicara kala itu, terlalu asik menikmati acaranya. Sampai akhirnya Angkasa menegurku basa-basi, bertanya ini itu yang aku jawab sekedarnya. Aku bukan tipe seseorang yang bisa dengan mudahnya akrab dengan orang yang baru kukenal. Aku bisa saja dengan mudahnya risih dengan pria seperti dia, tapi ternyata tidak.
Pertemuan kedua kami terjadi jauh setelah acara gathering tersebut. Itu pun tidak disengaja. Kami bertemu di salah satu mall, ketika jam makan siang. “Thia!” Sapanya seraya menyunggingkan senyum. Aku tak langsung membalas sapaannya, sibuk mengingat namanya. “Gue Angkasa. Pasti lo lupa. Gathering bloging Bandung itu lho.” Seakan mengerti aku tak ingat namanya.
Tanpa kami sadari selama ini, ternyata kantor kami berdekatan. Berawal dari situlah akhirnya kami sering bertemu. Ia beberapa kali meminta bantuanku untuk membaca ulang naskah yang telah ia edit.
Thi, bantuin gue mau gak? Baca ulang naskah yang udah gue edit.
“Kan dia yang editor, kok minta tolong sama gue?” Gumamku membaca pesan singkatnya.
“Jika memang Tuhan menciptakan setiap makhluknya berpasangan, mengapa aku masih saja berpasangan dengan kesendirian? Tanyaku pada Tuhan.” Ucapku mengulang satu kalimat dalam naskah yang telah Angkasa edit. Berawal dari kalimat tersebut, kami akhirnya berbagi pemikiran tentang kesendirian.
“Kenapa pertanyaan tersebut masih ditanyakan? Bukankah itu terlihat seperti kita tidak menikmati kesendirian itu sendiri?” Tanyaku pada Angkasa.
“Mengapa harus dipertanyakan? Nikmati dan berbahagia saja selama masa tersebut. Jika sendiri saja tak mampu membuat kita bahagia, lalu bagaimana dengan berdua?” Tanyaku lagi sebelum Angkasa menjawab pertanyaanku sebelumnya.
“Lo bahagia?” Tanyanya singkat.
“Tentu. Bukankah kita harus menikmati setiap fase dalam hidup?”
“Lo gak mau berbahagia berdua dengan orang yang mencintai lo?” Tanyanya lagi.
“Pasti mau, tapi daripada sibuk mencari seseorang itu, membuat kita lupa untuk mencintai diri sendiri, mencintai setiap hal yang telah DIA beri, bukankah jadinya sia-sia? Terlalu tinggi resiko untuk menyerahkan diri kita kepada seseorang yang tidak mencintai dirinya sendiri. Bagaimana kita bisa yakin dia kelak akan tetap mencintai jika dirinya sendiri saja tak mampu ia cintai?” Jawabku. Angkasa hanya tersenyum mendengarnya.

Rabu, 25 September 2013

Angkasa...

0 komentar
Sore ini hujan turun deras sekali, padahal siang tadi langit cerah bahkan matahari begitu terik. Aku berjalan cepat agar tubuhku tak semakin basah. Aku tak membawa payung hari ini, ah sial memang padahal biasanya aku tak pernah lupa membawa payung. Sore ini aku sudah membuat janji dengan seseorang yang emosinya melebihi singa ketika lapar jika ia dibiarkan berlama-lama menunggu. Dan—lagi-lagi—sialnya aku sudah telat hampir satu jam karena macet yang tidak jelas apa penyebabnya. Handphone ku pun mati karena kehabisan baterai. Entah akan jadi apa aku ketika bertemunya nanti, itu pun jika ia masih bersedia menunggu kedatanganku.
“Kenapa sih dia mesti milih kafe yang jauh dari kantor? Bikin repot aja.” Umpatku dalam hati.
Setelah berjalan kurang lebih 300 meter dari halte, akhirnya aku menemukan kafe tersebut, Pulchra Café, nama kafe tersebut. Dilihat dari luar kafe ini seperti rumah tua. Aku semakin tak habis dengan Angkasa, mengapa ia menginginkan bertemu di sini.
Berbicara tentang Angkasa, dia adalah pria yang baru satu tahun ini aku kenal. Kami bertemu di Bandung kala itu, ketika sama-sama menghadiri gathering salah satu komunitas menulis. Semenjak memutuskan untuk sendiri dan tidak lagi terikat dalam hubungan yang tidak jelas—menurutku—sebut saja pacaran, aku kerap aktif ikut serta dalam kegiatan tulis-menulis, rasanya seperti menemukan kembali diriku yang sebenarnya. Ya, walau tulisanku tidak seberapa bagus tapi rasanya menyenangkan. Angkasa sendiri menurutku sudah professional dalam menulis, melihat latar belakang pekerjaannya sebagai editor di salah satu penerbit.
Aku memasukki kafe dan dengan mudah melihat Angkasa duduk di salah satu meja. Raut wajahnya terlihat panik sekali. Aku semakin enggan bertemu dengannya. “Ia pasti marah besar. Duh kenapa hari ini sesial ini sih?” Gumamku dalam hati. Aku berjalan pelan, tak ingin buru-buru menghampirinya. Namun ternyata ia sudah melihatku—entah dia sedang kenapa—tiba-tiba berteriak memanggil namaku, membuat seisi kafe melihat kearahku.
“THIA!” Teriaknya. Membuatku memutuskan untuk segera menghampirinya agar ia tak lagi berteriak.
“Lo bisa…..” Belum selesai aku berbicara dia sudah terlebih dahulu memotong “Lo kemana aja? Ini kenapa basah semua gitu? Handphone lo kemana? Lo gak kenapa-kenapa kan?” Tanyanya tanpa koma, membuatku heran luar biasa.
“Lo kenapa?” Tanyaku, tak menghiraukan pertanyaannya.
“Duduk. Gue pesenin hot cappucinno ya.”
Aku duduk dan tetap bingung. “Dia kenapa? Kok tumben gak marah gue telat gini?” Pikirku. Padahal sebelumnya ia marah besar ketika Lintang—temannya yang sudah lama menyukainya—datang terlambat.
“Lo kemana? Naik apa ke sini? Engga bawa payung? Handphone lo kenapa? Kok gak kasih kabar?” Tanyanya lagi, tetap tanpa koma.
“Tadi macet, gue naik bus dan gak bawa payung. Handphone gue mati, baterainya habis jadi gak bisa kasih kabar lo.” Jawabku.
“Kenapa lo gak pulang aja sih daripada hujan-hujanan gitu. Gue pikir lo kenapa-kenapa. Tadi gue telpon kantor lo, katanya lo udah pulang. Gue jadi makin bingung.”
“Lo kenapa sih, Sa?”
“Gue khawatir! Lo pikir gue gak bakal khawatir kalau orang yang gue sayang gak ada kabar ketika gue yang minta dia untuk nemuin gue?” Jawabnya.
Seketika aku terdiam. Berusaha mencerna kata-katanya. Aku pikir otakku sudah membeku. “Dia bicara apa tadi? Khawatir? Orang yang dia sayang? Siapa? Gue?” Tanyaku dalam hati.
“Gue gak lagi bercanda, gue serius. Gue khawatir sama lo. Gue sayang sama lo!” Jawabnya seakan mampu membaca pikiranku.
“Lo bisa baca pikiran gue?”  Tanyaku, yang ia jawab hanya dengan senyum.

Senin, 16 September 2013

Hey, kakak sayang kamu!

0 komentar


September....
Lima belas tahun yang lalu, tiga september, pertama kalinya suara tangisnya memecah sepi malam itu. Mengubah cemas menjadi ucap syukur yang tiada henti diucap atas kelahiran putra kedua oleh kedua orang tua kami. Aku, saat itu tak berada disana. Tak menyaksikan kelahirannya. Mungkin masih terlalu kecil untuk ikut menyaksikan, usiaku saat itu baru tujuh tahun.

Waktu berjalan begitu cepat. Lima belas tahun rasanya terlalu cepat kami lalui. Ah, jika bisa aku putar ulang waktu, rasanya ingin sekali aku perbaiki segala prilaku yang menyakiti hatinya. Orang tua kami begitu percaya aku mampu menjadi kakak yang baik, yang dengan sepenuh hati menyayanginya, menjaganya. Namun tidak semudah itu. Beberapa kali aku marah atas kehadirannya, yang mengambil separuh hati orang tuaku.

Ia, dengan usianya yang begitu muda, kerap kali mengalah atas keegoisanku. Ah, bahkan seharusnya aku malu. Ia mengajariku banyak hal di usianya. Kasih sayangnya begitu tulus, walau tak mampu ia ucapkan. Aku, bahkan tak benar-benar mampu membencinya selama lima belas tahun ini. Jauh di dalam hati, aku begitu menyayanginya. Kelak, aku pastikan ia akan tersenyum bahagia dan tak akan pernah terluka. 

Sungguh, tak akan pernah ada saudara yang tak saling menyayangi. Pun kami.

Minggu, 15 September 2013

Belle~

0 komentar

Lapor kapten, misi temu kangen sudah terlaksana! Yeeaayy!

Akhirnya setelah sekian lama nahan rindu untuk jumpa, sabtu ini kita bisa haha hihi bareng lagi! Walau kurang satu tapi ini aja udah syukur sih tanpa babibu langsung ketemu~ udah gak tau berapa lama semenjak lulus kuliah satu tahun lalu, jarang banget ketemu gini. Ketemu sih sering ya tapi gak pernah lengkap. Ini juga gak lengkap sih.... ( '-')

Walau hari ini ketemu cuma untuk ngabisin duit padahal belum gajian sekedar makan, ngobrol dan belanja belinji (karena kini kita semua sudah jadi cewek) tapi rasanya seneng banget. Mereka (Etty; depan kiri, Acha; depan kanan, Amel; belakang kanan) itu teman masa-masa kuliah. Kalau dipikir ulang lagi, gak nyangka sih kita bisa sedekat ini. Diantara mereka bertiga pertama kali ketemu itu sama Acha, waktu PPSPPT (plis jangan tanya apa kepanjangannya, lupak). Dia tuh tadinya abis PPSPPT mau pindah kampus tapi karna semesta emang ngijininnya dia jadi semut dan gula sama gue (dimana-ada-acha-disitu-ada-dalila-dimana-ada-dalila-disitu-ada-acha) jadi batal dan tetep satu kampus. Pas PPSPPT, dia belum berhijab lho, tapi emang dasarnya Allah tuh baik ya jadi pas pertama kali mulai kuliah dia datang dengan hijab. Dan gue senang karna ada temen ribet pake hijab seusai solat hehe... Waktu berjalan, kita sekelas terus, dan akhirnya jadi seakrab ini. Dia itu apa-apanya gue deh pokoknya; apa-apa sama acha, ada apa-apa laporannya acha, punya pacar pun gegara apa-apanya dia. ("--)

Kalau sama Amel, ini tadinya gue gak deket. Gak tau lupa deh tau-tau main ke rumah dia terus tau-tau jadi deket banget sampe-sampe nyokap gue pun akrab. Gue yang anak sulung, ketemu dia yang lebih tua 3 tahun, jadi serasa punya kakak. Ah, pokoknya aku bahagia deh bisa ketemu dia. Walau kalau curhat kadang jawabannya gak nyambung (maklumin aja, mungkin faktor umur) tapi pokoknya dia bisa deh menyabarkan gue yang keras kepalanya luarrrrr biasa. Walau dia yang paling tua diantara kita, tapi dia yang paling baru berhijab, gak apa. Aku sudah sangat senang akhirnya kamu kembali ke jalan yang benar, mbe ~~~\o/ hahaha. Dan, dia sudah jadi istri orang sejak semester 4. ( ._.)

Kalau sama Etty, dia ini dulu awal ngeliat dia tuh agak bete sebenernya diem aja dipojokan kelas. Mau masuk kuliah aja dianterin sama Aa-nya. Deuh, bikin gue sama acha jatuh hati~ hahaha. Awalnya sih pemalu, jaimnya luar biasa tapi akhirnya terkontaminasi sama hebringnya kita. Dia kecil-kecil gini umurnya 2 tahun diatas gue sama acha lhoooo ~~~~\o/ tapi engga pernah mau menerima kenyataan dia sudah tua (,--) dari yang pemalu sampe akhirnya bikin sensasi dengan pacaran sama sang ketua kelas, entah bagaimana pedekatenya. Etty juga sabar banget dan baik banget, saking baiknya kita pernah ke kostan dia, dia nya ngepel dan bebenah, kitanya boboookkkkk di kasur. ~~~\o/

Sejauh ini, Allah selalu baik. Memperkenalkan gue dengan mereka-mereka yang luar biasa baik. Yang dimanapun bisa bikin gue selalu ingat Allah. Yang selalu dengan ikhlas berbagi apapun; suka, duka, tawa, tangis, semangat. Walau sekarang cerita sudah gak seintensif dulu, tapi setidaknya kami saling tau kabar masing-masing.

Terima kasih untuk setiap hal yang sudah kita lakukan. Untuk setiap tangan yang setia mengusap tangis. Untuk setiap hati yang selalu menciptakan tawa. Tak perlu ragu mimpi-mimpi kalian tak menjadi nyata, tetap berusaha! Jangan menyerah! Ucapkan apapun yang kalian mau, lakukan apapun yang kalian bisa dan akan tiba saatnya semesta menjawab semua.



Sampai jumpa secepatnya!




Ps: Hijab mereka beraneka gaya ya? Aku masih tetap sama. Padahal mereka pemula. ( ._.)

Jumat, 13 September 2013

Mereka; Pahlawan Batik

0 komentar


Batik, kain yang selama ini dibangga-banggakan sebagai salah satu identitas nusantara. Yang ketika negara tetangga mengakui sebagai miliknya, "kita" lantas marah. "Kita."

Kita, yang (mungkin) hanya tau jadi. Memilih motif lantas membeli. Yang (mungkin) tak pernah berpikir tentang makna ide kreatif dari setiap motif. Yang hanya menjadikan batik sekedar simbol nasionalis dan juga prestige.

Ketika kini batik menjadi salah satu kain kebanggaan nusantara, aku rasa ada hal yang harus digaris bawahi. Bukan "kita" yang menjadi pahlawan hingga berhasil membut negara tetangga mengakui batik milik negeri ini, namun mereka, yang tetap setia mencipta karya, yang tanpa peduli usia pun meski sudah renta. Ibu-ibu dalam foto ini salah satunya. Bukan dengan emosi namun karya seni. Sudahkah berterima kasih kepada mereka?


Solo, satu tahun lalu.
 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template