Rabu, 30 September 2020

Day 17; Ways to Win My Heart

0 komentar

Hari ketujuhbelas #30DaysWritingChallenge, ternyata saya sudah melalui setengah dari Challenge ini tanpa absen. Tema hari ini adalah “Ways to Win My Heart” duh sesungguhnya saya malas sekali dengan tema ini. 

Kayaknya tulisan ini akan jadi tulisan tersingkat saya, gak tau saya gak bisa basa-basi tentang tema ini. Udah ya langsung aja sini saya kasih tau kamu, meski saya gak tau nih apakah ada seseorang yang memakai kisi-kisi ini untuk memenangkan hati saya, tapi yaudah lah ya karena kebetulan ini juga temanya. 

Kelak kalau kamu memang ingin memenangkan hati saya, kamu gak perlu membelikan saya barang-barang sebagai hadiah ataupun memberikan saya kejutan-kejutan romantis, kamu juga gak perlu 24/7 ada dan selalu bersama saya, kamu bebas menikmati waktumu bersama hobi atau teman-temanmu. 

Cukup pastikan kamu adalah orang pertama yang mengulurkan tangan untuk saya, saat saya kembali berada pada titik terbawah saya. Kamu adalah orang pertama yang memeluk saya, saat sedih tiba-tiba menyirnakan ceria saya. Kamu adalah orang yang akan selalu mengapresiasi sekecil apapun hal yang saya lakukan. Dan kamu adalah orang yang akan selalu menyempatkan waktumu untuk mendengarkan cerita dan pikiran-pikiran random saya.

Sudah, sesederhana itu. Kamu auto dapat “medali emas” dari saya. Hehe

Selasa, 29 September 2020

Day 16; Someone I Miss

0 komentar

Pukul satu dini hari, aku sudah berusaha memejamkan mata dari pukul sepuluh, namun kantuk tak jua datang dan membiarkan pikiran-pikiranku semakin ramai dan membuat hatiku kian gusar. 

Sesungguhnya aku sudah sangat letih hari ini, sepulangnya dari kantor aku hanya ingin tidur, membiarkan otakku beristirahat setelah dipakai bekerja di akhir pekan. Namun sudah tiga jam aku berusaha memerintahkan seluruh tubuhku untuk beristirahat, tak mereka turuti. Otak dan hatiku lagi-lagi sepertinya sedang melakukan diskusi yang akan selalu berakhir tanpa kesepakatan. Mereka rasanya selalu berjalan sendiri-sendiri. Aku bahkan seperti sudah tidak memiliki kendali atas mereka yang seringkali ribut sendiri.

Entah sudah berapa kali aku membuka tutup aplikasi di handphoneku. Tak ada yang menarik, namun berkali-kali aku ulangi. Sampai kemudian aku membuka satu media sosial yang sudah lama sekali tidak aku gunakan, seketika aku terdiam, membaca satu nama yang sudah lama sekali aku hindari dari berbagai bentuk komunikasi, di bawah namanya tertulis pesan yang begitu membuat hatiku sesak.

Raka                         Yesterday 

Aku kangen kamu      20

Ragu-ragu aku buka pesan darinya. Hatiku semakin sesak mendapati pesan yang sama ia kirimkan berkali-kali sejak beberapa waktu lalu, waktu yang sama saat aku akhirnya memutuskan untuk tak lagi berusaha lebih atas hubungan kita. Waktu yang sama saat aku akhirnya memberanikan diri untuk menghapus "kita" dari memoriku. 

Kamu tau Ka, andai pesan pertamamu kuterima lebih cepat, mungkin sudah dengan cepat kubalas "Aku juga kangen kamu." Mungkin, sudah kubanjiri notifikasimu dengan pesan-pesan bahagia dariku untukmu seperti yang selalu aku lakukan, dulu. Mungkin, "kita" masih kubiarkan tinggal di memoriku. 

Namun mungkin, jika pesan pertamamu kuterima lebih cepat, kamu tidak akan pernah merasakan bagaimana pedihnya diabaikan saat kamu benar-benar merindukan. 

Ka, terima kasih sudah membiarkan aku mengetahui aku tak merindu seorang diri. Tapi, Ka, rinduku sudah terbiasa tanpamu. Semoga rindumu pun segera terbiasa tanpaku.

Ku putuskan untuk membatalkan pesan yang telah kutulis untuknya. Bukan karena aku tak menghiraukannya tapi aku paham betul bahwa menurutnya “hilang” lebih dapat membuatnya tenang.

Ditulis untuk #30DaysWritingChallenge hari keenam belas, dengan tema Someone I Miss.

Senin, 28 September 2020

Day 15; If I Could Run Away

0 komentar

Kita beneran gak bisa ya? Kita pindah aja ke tempat yang gak ada yang kenal kamu sama aku. 

Berkali-kali aku dengarkan voice note dengan suara lirih yang membuat hatiku perih mendengarnya. Aku tidak tau harus membalas apa. Aku tidak dapat menjawabnya dengan “iya” karena keadaannya sungguh benar-benar tidak berpihak pada kami. Aku pun tak mampu menjawab “tidak” karena jauh di dalam hatiku, mungkin aku lah yang begitu menginginkan kehadirannya di hidupku. Rasanya semua jawaban yang kuberikan akan tetap melukainya. 

Aku memilih mematikan handphone pribadiku. Mungkin ia akan mampu membenciku jika aku mengabaikannya. Mungkin ia akan melupakanku jika ia membenciku. 

Aku mengaktifkan kembali handphone pribadiku, setelah berminggu-minggu aku mengabaikannya. Berharap ia menyerah, namun ternyata ia masih seperti pertama kali aku kenal; Risa, perempuan yang begitu gigih. Begitu banyak pesan dan voice note darinya.

           Aku bingung harus bagaimana sama kamu, Sa. 

Ku kirim pesan singkat untuknya yang langsung ia balas dengan cepat.

Risa

Gak apa. Gak usah dipikirin. Aku cuma mau kasih tau semua yang perlu kamu tau.

            Me

            Maafin aku ya, Sa. 

Belum selesai aku menuliskan pesanku untuknya, pesan darinya sudah kembali ia kirimkan.

Risa

Makasih ya, Ka. 

Yang ternyata menjadi pesan terakhir darinya untukku. Berminggu-minggu setelahnya, tak ada lagi pesan darinya bahkan meski hanya sekedar sapaan. Seharusnya aku berbahagia karena mungkin ia sudah bisa melupakan semua tentangku dan kita, namun nyatanya hatiku begitu sakit mengetahui bahwa aku telah kehilangannya. Kubaca pesan terakhir yang seharusnya aku kirimkan untuknya, 

Sa, jika ada tempat untukku melarikan diri dari semua kekacauan hidupku, hatimu adalah tujuanku. Tapi, Sa, aku tau diri bahwa bukan aku yang pantas untuk berada di hatimu.


Ditulis untuk tema hari kelimabelas #30DaysWritingChallenge; If You Could Run Away, Where Would You Go?

Minggu, 27 September 2020

Day 14; Describe My Style?

0 komentar

Tema keempat belas #30DaysWritingChallenge adalah "Describe Your Style". Tema yang sebenarnya kurang saya suka sampai bikin saya belum juga menerbitkan tulisan untuk hari ini meski sudah sesiang ini, selain susah untuk saya bikin jadi cerita, saya juga gak tau harus cerita tentang style apa? Style penampilan saya? Style menulis saya? Style apa?

Kalaupun style yang dimaksud adalah gaya saya berpenampilan, apa yang spesial dari penampilan saya? Gak ada :))))) Saya cuma cewek yang menyukai celana dibanding rok, kaos atau kemeja dibanding dress, sepatu casual dibanding heels, jilbab segiempat dibanding pashmina, tas ransel dibanding shoulder bag, dan tentu dengan makeup seadanya di usia saya yang sudah di penghujung duapuluh iniuntuk yang terakhir ya faktor karena saya gak bisa makeup juga sih. 

Dan dengan penampilan saya yang seadanya itu, saya pernah dapat ucapan gak enak didengar, katanya "Gimana mau dapat jodoh kalau penampilannya masih kayak gitu? Masih suka pakai celana jeans, kaos dan tas ransel. Kayak anak SMP." Waktu pertama kali dengar, saya kesal banget, bukan karena perkara celana jeans, kaos dan tas ransel yang saya gunakan tapi yang lebih bikin saya mirip anak SMP itu adalah tinggi badan saya yang dikasih Tuhan cuma segini-gininya. Saya juga mau tau tinggi tapi apa daya gak bisa, segala usaha buat tinggi dari renang, skipping, minum susu sampai obat peninggi udah tapi tetap aja seada-adanya. Tuh kan saya malah ngomongin tinggi badan. :(((

Kalau dipikir-pikir, style atau gaya berpenampilan saya jauh lebih sederhana dibanding jalan pikiran saya yang kadang super ruwet sendiri ini. 

Sabtu, 26 September 2020

Day 13; His Favorite Book

0 komentar

“Astaga!” Teriak laki-laki berbaju abu saat melihatku duduk di salah satu anak tangga lantai empat. 

“Lo lagi. Lo kenapa suka ngagetin gue sih?” Dengan nadanya yang sedikit keras, atau mungkin karena lantai empat masih sepi pagi ini jadi terdengar sedikit keras untukku. Aku pun kaget dengan teriakannya, meski aku sudah menunggu kedatangannya. 

“Sorry, Dim. Kan gue cuma duduk. Gak ketawa.” Ucapku pada Dimas, laki-laki yang terpaksa bangun dari tidurnya karena kaget mendengar suara tawaku minggu lalu.

“Ya gak ketawa sih, tapi lo duduk di tangga sepagi ini sambil nunduk pake jilbab putih lagi.” Jelasnya, yang membuatku mendengus “Dasar penakut” tentunya hanya di dalam hati. 

Aku pun bangun dari dudukku, lalu kuikuti ia yang sudah berjalan menuju kelasnya. Ku lihat di tangannya menggenggam satu buku kecil yang mirip dengan bentuk komik. “Itu komik?” Tanyaku penasaran.

“Iya.” Jawabnya seadanya.

“Komik apa?”

“Death Note. Kenapa?”

“Gak apa-apa. Nanya aja. Lo suka baca komik gitu?”

“Gak juga.” Ucapnya sambil meletakan buku yang ku maksud dan tasnya di kursi kelasnya.

“Lo mau numpang nonton lagi di sini?” Tanyanya padaku

“Gak boleh?” Tanyaku balik.

“Bebas. Tapi jangan berisik.” Ucapnya sambil membuka komik dan membacanya. Aku pun terdiam, sepertinya aku lebih baik diam daripada menimpalinya. Aku perhatikan raut wajahnya yang serius saat membaca halaman demi halaman komik tersebut. Dan tak lama, ia menyadari bahwa tidak ada yang aku lakukan selain mengamatinya.

“Kenapa?” Tanyanya sambil melirikku sebentar sebelum matanya kembali fokus membaca.

“Engga. Fokus banget habisnya. Seru ya?” Tanyaku, bukan karena aku tidak menyukai ia mengabaikanku tapi karena aku tidak pernah bisa mengerti mengapa orang bisa fokus membaca komik, aku pernah mencobanya namun pusing menentukan dari mana kemana aku harus membacanya agar paham dengan jalan cerita sedangkan bukunya sudah ramai sekali dengan gambar-gambar.

“Kenapa?” Ia balik bertanya.

“Ya, engga. Gue bingung aja. Gue gak bisa baca komik habisnya.”

“Kenapa?” Tanyanya dengan menggunakan kata tanya yang sama kembali.

“Ya, gak bisa. Bingung bacanya, dari mana kemana. Kenapa?” Aku menjawab dengan menyelipkan “kenapa” tanpa aku tau kenapa aku menyelipkan kenapa.

“Kenapa, gimana?” Tanyanya sambil menatapku bingung.

“Gak kenapa-kenapa.” Jawabku sambil tertawa. 

Kemudian ia pun menutup komik yang aku rasa sebenarnya belum ia selesaikan, mengambil tasnya dan mengeluarkan komik lain dari dalam tasnya. “Nih, baca. Ikutin aja alurnya.” Ucapnya seraya memberikan komik lain yang berjudul sama dengan yang ia baca.

“Kenapa suka sama Death Note?” Tanyaku penasaran.

“Seru, bisa ngebunuh orang cuma dengan nulis namanya di buku. Coba gue punya. Gue kan bisa nulis nama-nama orang yg ngeganggu gue.” Ucapnya sambil tersenyum sinis.

“Kok lo serem sih, Dim?” Tanyaku yang benar-benar ketakutan dengan ekspresi yang baru saja Dimas buat.

“Hahahahahaha. Bercanda, Sin. Lo nanya mulu lagian. Lo kelas jam sembilan?” Dimas tertawa lepas dan menutup komik yang sedang ia baca dan menatapku.

“Iya jam sembilan. Kenapa lo?” Tanyaku bingung melihat ia yang menatapku dengan tersenyum.

“Lo bisa ketakutan juga ya. Lucu lagi, gemes.” Ucapnya masih sambil tersenyum.

“Huh dasar. Udah ah, gue balik kelas. Pinjem ya.” Jawabku singkat sambil beranjak keluar kelas.

Sesungguhnya hatiku berdegup lumanyan kencang saat mendengar ia mengatakan bahwa aku lucu sambil tersenyum manis. Aku tidak pernah melihat Dimas tersenyum begitu manis dari sekian lama ku perhatikan dia dari jauh. Dimas tidak tau, bahwa aku sudah memperhatikannya sejak lama namun baru minggu lalu ku beranikan mendekatinya. Beruntungnya minggu ini aku mendapatkan alasan untuk dapat menemuinya kembali minggu depan tanpa harus terlihat dibuat-buat, thanks to his favorite book; Death Note. 

“Dibanding Death Note, kenapa gak ada Love Note. Jadi gue bisa nulis nama lo aja biar gak perlu repot-repot gue nyari topik tiap minggu biar bisa deket sama lo, Dim.” Ucapku yang tentu saja hanya dalam hati.

Ditulis untuk #30DaysWritingChallenge hari ketiga belas dengan tema Favorite Book. Oh iya, kalau ada kesamaan pemilihan judul buku di cerita ini dengan kesukaannya orang yang kalian kenal, tahan sahabat jangan gimana-gimana, ini cuma imajinasi aja lho. Hehe

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template