Senin, 15 Desember 2014

Gugusan Kamu

0 komentar

Minggu, pukul sepuluh malam.

Malam ini kerlip bintang bersemarak dalam pekat langit nan hitam. Pun pula sinar bulan. Namun keduanya tak mampu begitu saja mengenyahkan gundah yang sedari tadi aku risaukan.

Aku pandangi lagi lekat lekat kemerlap bintang, namun sesuatu yang begitu membentang semakin tak terkalahkan.

Aku pandangi lagi diam diam sinar bulan, namun kosong dalam relung semakin tak terbantahkan.

Aku pandangi dan pandangi lagi, berusaha mencari sebab hati meracau sedari tadi namun tak jua mendapat jawaban.

Langit semakin pekat dan bintang semakin giat berkerlip. Kuhitung dalam diam gugusan bintang yang terbentang.

Satu.
Dua.
Tiga.
...
...
...
Kamu.

Terpaku aku dalam sunyi dengan apa yang baru saja diucap bibir ini. Mengunci mati racauan hati sedari tadi. Mengisi ruang di relung secara perlahan. Hanya dengan sebuah gugusan.....

....
....
....

Kamu.

Kamis, 16 Oktober 2014

Selamat Jalan, Wa...

0 komentar

12 October 2014,
09:50 WIB.

Waktu rasanya berjalan semakin cepat, gak kerasa sudah enam hari semenjak kepergian almarhum. Rasanya masih gak percaya, almarhum pergi secepat itu. Tapi mungkin delapan bulan berjuang melawan kanker bagi beliau berjalan begitu lama. Sakit yang gak pernah hilang bahkan selalu bertambah. Dan semua itu akhirnya berakhir. Kalau ingat itu, rasanya ingin marah sama diri sendiri karna susah sekali ikhlas melepas kepergian almarhum.

Sepuluh tahun lebih tinggal di satu rumah yang sama dan selama itu almarhum begitu menyayangi kami. Dan bahkan selama itu almarhum lebih sering menemani saya kemanapun. Jadi, bagaimanalah saya bisa semudah itu untuk melepas kepergiannya? Almarhum bahkan sudah lebih dari seorang paman, buat saya almarhum sudah seperti orang tua saya sendiri.

Selama hidupnya, saya jarang sekali mendengar almarhum mengeluh bahkan ketika almarhum terkena kanker. Dan saya tidak mampu untuk menahan tangis ketika almarhum menulis bahwa kepalanya sakit luar biasa (karena almarhum sudah tidak bisa berbicara ketika terkena kanker). Saya menyesal rasanya telat mengetahui sakit yang almarhum derita. Maafkan kami, Wa...

February 2014, ketika almarhum batuk dan mengeluarkan darah, dokter memvonis beliau terkena kanker thyroid stadium dua. Rasanya hati saya runtuh ketika mendengar hal tersebut. Ya Allah, mengapa kami begitu bodoh tidak mengetahui penyakit itu bersarang ditubuh almarhum? Bahkan ketika tanda-tandanya sudah ada.

Maret 2014, almarhum menjalani operasi pertama. Leher almarhum harus dilubangi untuk menyelamatkan pernafasnnya. Karena kanker sudah hampir menutupi pernafasannya. Operasi berjalan lancar. Namun dua hari setelah kepulangan almarhum ke rumah, almarhum batuk dan mengeluarkan darah dari mulut dan lubang pernafasan di lehernya. Rasanya begitu menyakitkan melihat almarhum masih sempat menghibur saya untuk kuat dan meyakinkan saya bahwa almarhum akan selalu bersemangat untuk sembuh.

May 2014, seharusnya 16 May 2014 almarhum dijadwalkan untuk operasi kedua. Operasi tersebut operasi inti untuk mengangkat kankernya. Tanggal tersebut tepat sekali dengan ulang tahun saya. Kesembuhan almarhum saya harap menjadi kado ulang tahun untuk saya saat itu. Namun, 4 hari sebelum operasi, dokter membatalkan operasinya dikarenakan kanker sudah naik menjadi stadium 4. Dan sudah menyebar ke lidah almarhum. Jika operasi tetap dijalani, lidah almarhum harus ikut diangkat. Kami tidak sanggup membayangkannya. Dan akhirnya setelah berdiskusi juga dengan almarhum, kami memutuskan untuk menunda dan menjalani kemo terlebih dulu untuk mengecilkan sel kanker tersebut.

Kemoterapi yang seharusnya dijalani almarhum adalah 25 kali. Namun kenyataannya, almarhum hanya sanggup menjalani 10 kali kemo. Juni, July, Agustus keadaan almarhum naik dan turun, ada kalanya almarhum sehat dan bahkan mampu membawa kendaraan tapi ada kalanya bahkan almarhum tidak sanggup untuk berdiri.

Sampai akhirnya September 2014, keadaan almarhum semakin parah. Almarhum semakin sering mengeluh giginya sakit, lehernya panas, bibirnya kebal dan kepalanya semakin sakit. Almarhum bahkan tidak sanggup mengunyah dan menelan makanan. Tapi dokter pun tidak bisa memberi obat apapun, karena sumbernya adalah kanker itu sendiri. Almarhum mulai makan melalui hidung menggunakan selang, itupun hanya mampu cairan.

Tapi almarhum masih bersemangat untuk sembuh. Sampai ketika almarhum dan orang tua saya mendatangi dr. Warsito (menurut sumber dr. Warsito memiliki pakaian penghilang kanker) tapi kenyataan pahit harus almarhum terima bahwa nyatanya kankernya sudah tidak bisa disembuhkan. Mungkin dari situ lah almarhum mulai ikhlas jika sewaktu-waktu malaikat maut menjemputnya. Kami pun bersiap, tapi sungguh... tidak secepat ini, Ya Allah. Hanya berselang beberapa hari.

10 October 2014, almarhum jatuh ketika ke kamar mandi dan sempat tidak sadarkan diri, 11 October 2014 semuanya sudah kembali normal. Aktifitas sudah seperti biasa. Dan kami tidak menyangka 12 October 2014, kami kedatangan tamu yang tidak kami ketahui kedatangannya sampai akhirnya ia pergi membawa almarhum selama-lamanya, ya malaikat Izrail, malaikat maut.

Saya sampai detik ini tidak pernah menyangka hari itu saya menyaksikan langsung kepergiannya. Saya tidak menyangka saya akan melihat almarhum meregang nyawa. Tapi sungguh, Allah begitu baik. Tidak saya lihat almarhum kesakitan, almarhum pergi begitu tenang. Sampai kami mengira almarhum tidur. Saya bahkan masih mengira almarhum pingsan ketika saya tidak dapat menemukan detak nadinya. Karena kepergiannya sungguh begitu tenang.


Ya Allah.....
Aku menyesal begitu banyak menyakitinya.
Aku menyesal tidak mampu membahagiakannya.
Aku menyesal tidak maksimal merawatnya.
Aku menyesal karna ketakutan ketika almarhum menatap untuk terakhir kalinya.

Ya Allah......
Sungguh sampaikan maaf dan penyesalan ini.

Ya Allah........
Hatiku sakit.
Aku kehilangan sosok almarhum yang selalu melindungi.
Aku kehilangan sosok almarhum yang selalu menyayangi.
Aku kehilangan sosok almarhum yang selalu mendukung.
Hatiku hancur.

Ya Allah........
Sungguh berkali-kali aku meyakinkan hati untuk ikhlas, tapi selalu berakhir perih di dalam sini.
Maafkanku jika air mata ini hanya memberatkan kepergian almarhum.

Ya Allah........
Berjanjilah, untuk menjaga almarhum.
Melindungi almarhum, menempatkan almarhum di sisi-Mu yang paling baik.
Hilangkan segala sakitnya. Mudahkan almarhum menjawab setiap pertanyaan malaikat-Mu. Aku percaya, Engkau adalah sebaik-baiknya penjaga.

-his little nephew-

Selasa, 30 September 2014

In My Opinion, #ShamedByYou #ShameOnYouSBY

0 komentar

Sebagai pengguna aktif internet, khusunya media sosial twitter, pasti lah tidak asing dengan #ShamedByYou atau #ShameOnYouSBY. Hampir satu minggu dua kalimat bertagar tersebut sering wara wiri dalam linimasa saya. Dan bahkan berhasil menjadi Trending Topic World Wide. Walaupun akhirnya Twitter memutuskan untuk menghilangkan #ShameOnYouSBY dari Trending Topic.

Rasa kecewa terhadap Pemerintah yang mengubah Pilkada langsung dari rakyat menjadi Pilkada berdasarkan DPR lah asal muasal dua kalimat tersebut muncul hingga ramai diperbincangkan oleh media lokal maupun internasional.

Dan saya melalui tulisan ini, ingin sedikit membagi opini pribadi saya mengenai hal tersebut. Juga, tulisan ini tidak bermaksud untuk membela atau mendukung siapapun. Murni hanya opini saya.

Mengetahui bahwa pilkada langsung dihapuskan dan kita kembali memakai pilkada melalui DPR pun jujur saya kecewa. Karena ketika negara lain berjuang untuk bisa menerapkan demokrasi, negara saya malah memutuskan untuk mundur. Walau para pencetus hal tersebut beranggapan pilkada langsung membuang banyak anggaran dan banyak kecurangan, namun setidaknya dari sanalah masyarakat awam seperti saya belajar mengenal politik, belajar untuk mengenal siapa pemimpinnya. Ya, karena kami dituntun untuk memilih. Seharusnya, mereka memperbaiki bukan meniadakan kembali.

Saya sungguh berada dalam kubu yang kecewa. Sungguh saya kecewa dengan bapak ibu wakil rakyat yang malah merampas hak rakyat. Namun, tidak srrta merta membuat saya menyalahkan satu orang dan membuat saya beranggapan berhak untuk mencaci orang tersebut. Yaitu Bapak Presiden.

Di dalam benak saya, mungkin ini juga bukan hal mudah untuk Bapak Presiden mengambil keputusan. Beliau--yang mungkin tanpa kita ketahui--pastilah memiliki pertimbangannya sendiri. Terlebih, tidak mudah untuk mengurus suatu negara. Selama kurun waktu 10 tahun, saya rasanya sudah sering sekali melihat banyak makian dan cacian yang ditujukan untuk Bapak Presiden. Dan ketika dua kalimat tersebut menjadi Trending Topic World Wide, rasanya saya malu.

Saya tidak melarang untuk memberikan kritik, tapi rasanya kurang sopan bagi kita--warga negara--jika mencaci, memaki dan mengolok-ngolok pemimpin tertinggi di negeri ini. Apalagi melalui media sosial yang semua orang dimanapun dapat langsung mengetahui.

Ketika dua kalimat tersebut menjadi Trending Topic, saya langsung terbesit pertanyaan "Apa yang akan orang asing pikirkan terhadap negara saya?" Tidakkah itu memalukan? Jika warganya sendiri tidak menghormati pemimpinnya, akankah pihak asing menghormatinya? Akankah juga menghormati negara saya?

Saya sungguh tidak melarang kritik kritik yang timbul namun setidaknya kita dapat membedakan antara kritik dan cacian juga makian.

Dan mungkin, kekecewaan yang timbul akibat kemunduran demokrasi ini seharusnya menjadi pelajaran bagi semua, baik elit politik ataupun masyarakat awam, agar kita lebih dewasa untuk berpikir, berbicara dan bertindak. Agar kelak dapat kita nikmati hasil demokrasi yang bersih.

Rabu, 10 September 2014

Do'a Baikkah Ini?

0 komentar
"Panjatkan lah do'a-do'a baik dengan cara yang baik untuk orang lain, maka malaikat akan mendo'akan mu seperti yang kamu lakukan..."

Begitu lah kiranya, suatu kalimat yang pernah saya baca pada sebuah buku.

Setidaknya--sampai kemarin--saya masih beranggapan bahwa do'a yang baik adalah do'a yang membawa kebahagiaan. Do'a yang bila Allah kabulkan akan membawa senyum bahagia umatnya. Do'a yang tidak membuat siapapun bersedih atau harus meneteskan air mata--kecuali air mata bahagia. Do'a yang baik mestilah dipanjatkan dengan niat yang baik. Niat untuk tidak menyakiti siapapun melainkan membahagiakan siapapun.

Lalu, malam ini saya dihadapkan pada pertanyaan besar,

"Ya Allah, apakah do'a yang saya panjatkan ini baik? Ya Allah, apakah do'a yang saya panjatkan ini membawa kebaikan bagi orang lain? Ya Allah, apakah do'a yang saya panjatkan ini membawa kebahagiaan untuk saya? Untuk semua orang? Karena sungguh, saya tidak merasa do'a ini baik. Haruskah Ya Allah, saya panjatkan do'a ini? Haruskah Ya Allah, saya gantungkan do'a ini pada pintu-pintu di langitmu? Karena sungguh, saya tidak mampu berbahagia dalam memanjatkannya."

Sekiranya seperti itu.

Saya sungguh tidak mampu mengenali apakah do'a yang akan saya panjatkan ini baik. Sungguh, saya tidak tau apakah do'a yang akan saya panjatkan pantas.

I really never imagined the day would come where i would kneel and raise my hands, then pray like this....

"Ya Allah, jika memang engkau memilih untuk menyembuhkannya, maka angkatlah penyakitnya. Sembuhkanlah ia. Namun jika tidak, maka angkatlah penderitaannya. Lapangkan dan mudahkanlah segalanya."

Though,

It's hurt me so deeply.
It drives me so crazy.
It makes me so sorry.

But...... i did.
Yes, i did.

So,

God, please forgive me.
God, please give him the best.

Senin, 08 September 2014

Berhentilah Beranggapan...

0 komentar
8 September 2014, 12:35 WIB.

Di tengah suasana makan siang yang disambi dengan mengobrol ringan dengan rekan kantor.

A: Iya bulan depan si I nikah, tahun depan kamu ya, La.
Me: Aku mau nikah tapi keluar dari kantor ini dulu.
B: Iya, di kantor ini bilangnya gitu. Di kantor setelahnya juga gitu. Karena malu gak punya pasangan ngomong gitu lagi. Terus nanti keluar, masuk kantor baru ditanya kapan nikah jawabnya gitu lagi. Gak nikah-nikah deh.

Begitulah kira-kira percakapan yang bikin mood seharian ini jadi berantakan. Mungkin niatnya bercanda, tapi buat gue yang emang lagi nahan sakit karena hari pertama datang bulan juga ditambah kerjaan yang gak kunjung selesai, pernyataan tadi lebih mengarah pada menghina. Apalagi, jika pernyataan tadi keluar dari mulut seorang bapak yang sebenarnya sungguh gue hormati di kantor itu.

Di usia--yang baru--dua puluh tiga ini, rasanya memang terlalu dini untuk menjadi sensitif jika ada pertanyaan mengenai pernikahan, tapi rasanya sudah cukup pantas untuk tersinggung jika ada yang menjadikan hal tersebut menjadi hal candaan.

Entah udah berapa tulisan yang gue posting mengenai itu. Entah udah berapa kali gue ngomong dan nulis di setiap linimassa "siapa sih yang gak mau nikah? perempuan mana sih yang gak punya mimpi akan pernikahannya?"

Sungguh.....
Gue capek. Hahahahaha...

Bahkan ketika kedua orang tua masih santai ngeliat anak gadis pertamanya masih asyik dengan dunianya sendiri, ada orang orang yang sibuk berkomentar bahkan menertawakan dunianya.

Memang gak semua orang bisa seperti yang kita inginkan. Bisa mengerti yang kita pikirkan. Bisa memahami apa yang kita lakukan. Tapi, sungguh gue gak ngerti dan gak paham kalau sampai ada orang yang tega melontarkan candaan seperti tadi.

Mungkin menjadi single sampai bertahun-tahun untuk sebagian dari kalian adalah suatu hal hina, tapi kalian tidak benar-benar tau ada hal-hal yang mungkin sedang diperjuangkan. Ada tangis yang ia coba tahan. Ada senyum yang ia coba perlihatkan. Ada doa yang tak pernah henti dipanjatkan.

Jadi tolonglah, berhenti beranggapan paling mengerti sampai beranggapan tak masalah untuk menyinggung sedikit perasaan orang lain. 
 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template