Sahabat, satu kata yang memiliki banyak makna. Setiap orang tidak akan benar-benar memiliki kesamaan dalam memaknai kata sahabat. Sahabat bisa saja adalah teman yang sudah sangat lama kita kenal dan masih memiliki hubungan baik. Atau bisa juga seseorang yang baru saja kita kenal namun mampu memberi ketentraman dalam hati. Ya, hati. Karena sesungguhnya kita menggunakan hati dalam memaknai arti sahabat.
Untukku, sahabat adalah ia yang mampu membahagiakan di saat duka datang. Sahabat adalah ia yang selalu mampu berbagi kebahagiaan. Sahabat adalah ia yang mampu menyisihkan waktu pun ketika dua puluh empat jam berlalu begitu cepat. Sahabat adalah ia yang menyapa walau tak sedang berjumpa. Sahabat adalah ia yang mampu menjaga walau tak sedang bersama. Dan sahabat adalah seseorang yang pertama kali aku ingat namanya di saat masalah mampu membuatku tak mengingat segala hal.
Dan DIA begitu baik, meski hanya memberi satu, namun memberi sahabat yang begitu sempurna. Yang dengan segala kelemahannya mampu membuatku kuat untuk tetap berdiri. Dan dengan segala kekuatannya mampu membuatku merasa lemah untuk menyadarkan bahwa aku memerlukan-MU.
My beloved bestfriend, My Mommy!
Kamis, 12 September 2013
Rabu, 11 September 2013
Doa Untuk Dato
Jika ada mimpi dan harap yang menjadi nyata, pasti selalu ada doa beliau di belakangnya. Pun jika ada mimpi dan harap yang tak kunjung menjadi nyata namun aku masih sabar menanti, pasti doa beliau adalah alasannya. Tak perlu memintanya untuk mendoakan. Ia sudah paham betul jika kita mendoakan seseorang, maka malaikat pun akan mendoakan.
Untuk semua kebaikannya, maka Allah......
Ampunkanlah segala dosanya,
Kabulkanlah segala pintanya,
Mudahkanlah urusannya,
Sehatkanlah badannya,
Tentramkanlah jiwanya,
Allah,
Berikanlah dunia yang damai untuknya,
Dan,
Kelak,
Gantilah dengan surgamu bila dunia tak lagi mendamaikannya.....
Dato,
We love you.
Minggu, 08 September 2013
Kami; Kebahagiaan Memahami
Matahari pagi ini begitu cerah seperti ingin bersama merayakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang mungkin sudah sejak lama aku tanyakan keberadaannya. Kali ini ia--kebahagiaan ini--datang menyambutku hangat.
Aku bahkan masih benar-benar ingat masa dimana aku mengutuk semua kebahagiaan. Masa dimana aku tak percaya setiap orang memiliki kebahagiaannya. Masa dimana aku bahkan tak mampu membahagiakan diriku sendiri. Sampai pada akhirnya Tuhan menghadiahiku kebahagiaan melalui kehadiran seseorang yang tak aku harapkan sebelumnya.
Aku--kala itu--sedang menjauh dari keramaian kota yang membuatku penat. Menjauh dari senyuman palsu mereka yang sudah tak lagi layak disebut makhluk sosial. Aku meninggalkan kota menuju desa kecil di ujung barat Indonesia. Bertekad menciptakan kebahagiaanku sendiri. Tak ada niat seperti mengajar anak-anak ataupun misi sosial lainnya, di sana aku hanya benar-benar ingin menciptakan bahagiaku sendiri. Aku kala itu tinggal seorang diri di satu rumah yang aku sewa untuk enam bulan.
Setiap pagi aku dapat melihat dengan jelas betapa indahnya matahari terbit. Pandanganku tak dihalangi oleh gedung-gedung tinggi. Indah. Damai. Penduduk di sini sangat ramah, mereka kerap kali berkunjung ke tempatku membawakan makanan buatan mereka sendiri. Tulus. Pun di saat bahasa menjadi penghalang kami. Ah, yang perlu diketahui, walau aku masih berada di Indonesia, namun mereka tak mampu berbahasa Indonesia dengan baik.
Awalnya aku tidak perduli dengan keadaan itu, sampai kemudian datang seorang pria yang datang dengan sejuta mimpi--yang menurutku terlalu muluk. Ia, yang mengetahui bahwa aku datang dari kota, dengan penuh percaya diri mengajakku untuk membantunya--mengajar penduduk di sini. Pahlawan kesiangan, pikirku saat itu. Untuk apa mengajarkan bahasa kepada mereka jika hati mereka sudah mampu berbicara? Tak seperti penduduk kota yang mampu sejuta bahasa namun hati bisu.
Sekeras aku berusaha menolak, sekeras itu pula pria ini membujuk. Karena dibanding hati, komunikasi tetap menjadi faktor utama saling memahami. Jelasnya kepadaku. Aku pun memutuskan membantunya, sedikit demi sedikit mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka. Entah apa yang ada dipikiran pria ini aku masih belum mengerti, bahkan ia tidak sepertiku yang kesulitan berkomunikasi. Ia sangat fasih berbahasa daerah. Lalu apa yang membuat ia kesulitan untuk saling memahami?
Pertanyaan itu lalu dijawab oleh Tuhan dengan membiarkan hati kami saling memahami.
Aku--kala itu--sedang menjauh dari keramaian kota yang membuatku penat. Menjauh dari senyuman palsu mereka yang sudah tak lagi layak disebut makhluk sosial. Aku meninggalkan kota menuju desa kecil di ujung barat Indonesia. Bertekad menciptakan kebahagiaanku sendiri. Tak ada niat seperti mengajar anak-anak ataupun misi sosial lainnya, di sana aku hanya benar-benar ingin menciptakan bahagiaku sendiri. Aku kala itu tinggal seorang diri di satu rumah yang aku sewa untuk enam bulan.
Setiap pagi aku dapat melihat dengan jelas betapa indahnya matahari terbit. Pandanganku tak dihalangi oleh gedung-gedung tinggi. Indah. Damai. Penduduk di sini sangat ramah, mereka kerap kali berkunjung ke tempatku membawakan makanan buatan mereka sendiri. Tulus. Pun di saat bahasa menjadi penghalang kami. Ah, yang perlu diketahui, walau aku masih berada di Indonesia, namun mereka tak mampu berbahasa Indonesia dengan baik.
Awalnya aku tidak perduli dengan keadaan itu, sampai kemudian datang seorang pria yang datang dengan sejuta mimpi--yang menurutku terlalu muluk. Ia, yang mengetahui bahwa aku datang dari kota, dengan penuh percaya diri mengajakku untuk membantunya--mengajar penduduk di sini. Pahlawan kesiangan, pikirku saat itu. Untuk apa mengajarkan bahasa kepada mereka jika hati mereka sudah mampu berbicara? Tak seperti penduduk kota yang mampu sejuta bahasa namun hati bisu.
Sekeras aku berusaha menolak, sekeras itu pula pria ini membujuk. Karena dibanding hati, komunikasi tetap menjadi faktor utama saling memahami. Jelasnya kepadaku. Aku pun memutuskan membantunya, sedikit demi sedikit mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka. Entah apa yang ada dipikiran pria ini aku masih belum mengerti, bahkan ia tidak sepertiku yang kesulitan berkomunikasi. Ia sangat fasih berbahasa daerah. Lalu apa yang membuat ia kesulitan untuk saling memahami?
Pertanyaan itu lalu dijawab oleh Tuhan dengan membiarkan hati kami saling memahami.
Rabu, 04 September 2013
Sepucuk Rindu~
Ketika rasa tidak lagi sama, mungkin ada sesuatu yang salah.
Dear kalian,
Ingat pernah menerima surat dari blog ini—tujuh bulan lalu?
Ingat pernah ada cerita—yang belum tamat—di blog ini tentang kita?
Ingat bagaimana kita pernah berkumpul lalu tertawa bersama—berlima?
Berlima. Bukan bertiga atau berdua. Pun bukan seorang diri.
Bagaimana keadaan multi-chat setelah kepergian tuan putri?
Tante baik-baik saja? Bagaimana kabar kita? Aku rindu. Peluk sejuta maaf juga sesal untukmu.
Paduka ratu sepertinya sudah lebih dewasa. Beberapa hari lalu, dia mengirimi pesan panjang lebar namun berakhir sama, kesulitan mencerna kata.
Mommy nongski masih berusaha menghindari nasi dan mengganti dengan burger juga kentang dan tak lupa soda? Semangat bekerjanya!
Papah sih baik-baik saja, ya? Kita bahkan baru menghabiskan waktu minggu lalu. Tidakkah juga rindu mereka?
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin disampaikan, namun otak terlalu buntu untuk mencerna setiap aba-aba dari hati. Seakan semua kata berlomba ingin keluar terlebih dulu. Entah itu rindu, benci, duka, suka, apapun.
Bagaimana sabtu lalu? Rasanya ingin sekali bertanya mengapa…… Ah tapi sudahlah. Toh bertanya pun tak dapat membalikkan waktu.
Coba ingat, kapan terakhir kita berlima tertawa bersama? Aku bahkan lupa.
Love,
Tuan Putri.
Ps: Tidakkah surat ini terlalu pendek? Sepertinya stok kenangan mulai menipis dan harus segera di-refill agar melupakan tidak menjadi pilihan. Lalu kapan bertemu?
Minggu, 01 September 2013
Pelangi ini abu-abu
Senja, pada pukul lima
dua puluh lima menit.
Aku terduduk dalam diam di sebuah cafe yang lumayan tenang.
Menatap langit sambil sesekali minum kopi atau minum kopi sambil sesekali
menatap langit—entahlah. Langit kali ini—seharusnya—sangat indah, guratan
warna pelangi seperti mahkota menghiasi langit yang cerah ini. Merah, jingga,
kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Berpadu menjadi abu-abu dalam
penglihatanku—semu.
Pelangi ini mengingatkanku pada dia yang sangat aku sayangi
dalam suatu hubungan yang begitu indah. Sering, beberapa orang menganggap aku
bermimpi tentang bagaimana aku memiliki hubungan seindah ini—dulu. Semua
berjalan indah. Berbagi apa saja yang bisa kami bagi, entah bahagia pun duka.
Aku buka kembali beberapa album dalam telepon genggamku, bukti
kami benar-benar sebahagia itu. Tertawa penuh bahagia, dalam sorot mata penuh
percaya, juga janji—bahwa kita akan tetap seperti ini. Beberapa orang pernah
mengatakan, kami terpilih, karna Sang Pencipta begitu baik mempertemukan dua
hati yang benar-benar tulus menjalin hubungan seperti ini. Pun mereka katakan
kami perlu hati-hati jika kelak jarak menjauhi. Tak ada perkataan mereka yang
aku dengar—kala itu.
Aku yakin betul kami akan selalu mengasihi, berbagi cinta
dengan sepenuh hati—tanpa pamrih. Selain kami berdua, beberapa orang pun masuk
dalam lingkaran ini. Aku menjadi sangat yakin hubungan ini begitu mudah
dijalani, semua akan terus baik-baik saja. Sampai kemudian aku menyadari, ada
yang salah dalam hubungan ini. Beberapa kali aku memperingati kelak hubungan
ini akan menjadi abu-abu, tak lagi berpelangi—tak ia hiraukan.
Perlahan namun pasti, tujuh warna pelangi memudar, menjadi
satu yaitu abu-abu—seperti kami. Kini kami memilih jalan sendiri-sendiri, jalan
yang—untukku—begitu berbahaya untuk dilalui sendiri. Namun, aku sudah terlanjur
sendiri. Kami, terpisah oleh sesuatu yang dulu sudah pernah mereka peringati,
jarak—walau bukan dalam arti yang sebenarnya.
Jarak itu sudah begitu jauh untuk akhirnya kami kembali. Kami—aku
entah ia pun rasakan juga—sudah tidak lagi mungkin kembali. Jarak memisah-paksa-kan
kami. Aku bahkan tidak bisa lagi melihat senyum cerianya, mendengar suara
gaduhnya, merasakan hangat hatinya.
Beberapa kali kami berada dalam satu lokasi, namun hati sudah
begitu membeku untuk sekedar saling menghangatkan. Kami tersenyum getir. Aku,
bukan tidak ingin memperbaiki, namun aku tak mau ia tersakiti bila ia tau
sesakit ini untukku—tanpanya.
Seseorang begitu sangat baik membantukku memperbaiki, namun
semua sia-sia, karena justru kami—aku dan seseorang ini—saling melukai. Aku
gemetar hebat, kala itu, membaca pesan yang ia tuliskan. Aku terkhianati, ia
tersakiti.
Air mata pun mengalir sederas-derasnya, melihat tak ada lagi
namaku dalam sinar wajahnya—semoga tidak dalam hatinya. Jika ada yang ingin aku
miliki sekarang ini, hanya abu-abu ini kembali menjadi pelangi. Masih banyak
mimpi yang belum terealisasi atas nama kami. Semoga kelak kami masih menjadi
orang terpilih hingga hubungan ini dapat kembali. Bersama kembali, berbagi
kasih tanpa pamrih. Satu sama lain menjadi pilar untuk bersandar ketika letih. Ya,
semoga, kelak, suatu saat nanti.
Semoga ini menjadi bukti, bahwa aku masih begitu menyayangi.
Langganan:
Postingan (Atom)


