Selasa, 20 Agustus 2013

Kepada Penggenggam Hati

2 komentar
Kepada penggenggam hati,


Sampai kapan aku menanti?
Tidak kah engkau rindu untuk saling mengisi?
Masih kah waktu dapat aku percayai untuk menanti?
Bagaimana kah jika ia mengkhianati?
Bisa kah engkau berjanji untuk menepati? Bahwa tidak ada hati lain yang memasukki.

Aku di sini menanti, dengan begitu banyak mimpi.
Bahwa kelak kita berjumpa lalu menyatukan hati.
Bersama-sama merajut mimpi dengan penuh cinta dari dua hati.

Selasa, 06 Agustus 2013

My Wedding Dream

0 komentar
"Every single woman has a dream about their wedding"

Pernikahan, setiap manusia pasti pernah memiliki harapan tentang bagaimana pernikahannya dilangsungkan, baik wanita ataupun pria. Sebagai wanita (semoga 1, 2 atau 3 tahun ke depan) yang juga akan melangsungkan pernikahan pun memiliki mimpi tentang bagaimana pernikahan itu dilangsungkan.

Bermimpi tentang bagaimana pernikahanku nanti, selalu menyenangkan. Mimpi tentang bagaimana pernikahan itu dilangsungkan, bukan tentang dengan siapa aku menikah. Siapapun ia, semoga kelak kami bertemu dalam sebaik-baiknya waktu dan perasaan. Semoga kelak kami adalah sebaik-baiknya pasangan untuk satu sama lain.

Pernikahanku nanti, aku harap sederhana saja. Sesederhana bagaimana kita menyatu–karenaNYA.  Pernikahanku nanti, tidak perlu dirayakan di gedung mewah nan megah, sederhana saja. Cukup di aula masjid (aku sudah punya masjid idaman untuk ini) yang designnya sudah cukup megah, untukku. Pesta resepsinya (semoga boleh) aku ganti dengan acara silahturahmi sederhana, yang tentunya tidak memerlukan pelaminan. Cukup kami (aku dan suamiku nantinya) yang menghampiri para tamu setelah prosesi akad selesai. Dan pastinya aku akan menyediakan cukup kursi untuk para tamu menikmati makanan yang dihidangkan setelah kami selesai saling bersilahturahmi.

Mengingat kelak kami yang akan menghampiri para tamu untuk bersilahturahmi, para tamu pernikahanku nanti tidak akan seramai pernikahan pada umumnya, cukup keluarga kami dan para sahabat. Dibanding berada ditengah orang banyak, aku juga lebih suka berada disekitar mereka yg menyayangiku, rasanya lebih nyaman. Oh ya, aku ingin mengundang beberapa anak kecil yang tidak lagi memiliki orang tua. Mengapa? Mama sering kali bercerita tentang bagaimana pernikahannya dilangsungkan, dan itu adalah salah satu cerita favoritku (setidaknya sampai satu hari menjelang pernikahanku. Setelahnya, kelak pernikahanku lah pernikahan favoritku) dan setiap mendengar ceritanya, aku selalu bersyukur, karena Tuhan sudah sangat baik mempersatukan mereka dan mempercayai mereka sebagai orang tuaku. Karnanya, aku ingin membagi perasaaan bersyukur karena Tuhan mempertemukan orang tua mereka (walau kini mereka tidak lagi memiliki orang tua).

Untuk busana yang akan kami gunakan, aku ingin mengenakan kebaya, rok span dan hijab berwarna putih dengan perpaduan silver. Calon suamiku nanti, ia juga akan mengenakan jas dan celana dengan warna yang sama. Untuk model busananya, sederhana saja. Yang paling penting kami harus nyaman saat digunakan untuk berjalan, terutama untuk rok ku. Untuk sepatunya, aku ingin menggunakan high-heels berwarna silver, tidak perlu terlalu tinggi, 5 atau 7 centi sudah cukup (untuk ini saja mungkin aku harus latihan berjalan jauh-jauh hari). Aku tidak ingin membawa bunga atau apapun, tanganku kelak cukup menggenggam tangan suamiku.

Dan dari semua mimpiku itu, semoga kelak ia, siapapun itu, calon suamiku, memiliki mimpi yang sama tentang bagaimana kelak pernikahan kita diselenggarakan . Agar kelak kita tidak perlu beradu agrumen ide siapa yg lebih baik (karena tentunya ideku yang lebih baik) :D

Senin, 15 Juli 2013

Dari Tuna Netra Kita Belajar

0 komentar
Selamat sore. Sudah lama sekali tidak menulis, dan kali ini di tengah perjalanan pulang (yang super macet) ada hal yang tiba-tiba saja menjadi inspirasi untuk menulis.

Di perjalanan pulang ini, ada seseorang tuna netra yang sedang berjalan di tepi jalan. Bukan untuk meminta-minta, tapi terlihat ia memanggul beberapa bungkus kerupuk. Berjalan seorang diri, membawa dagangannya, di tepi jalan yang penggunanya sering kali tidak memikirkan keselamatan orang lain, tentu bukan hal yang mudah. Apalagi, ia, tuna netra. Bisa dibayangkan bagaimana yang ia rasakan. Sulit bukan? 

Dari ia, sebenarnya kita bisa banyak belajar. Percaya diri, pelajaran pertama yang dapat kita ambil. Ia, dengan kekurangannya, tetap percaya pada dirinya sendiri. Ia percaya ia mampu berjalan seorang diri walau mata tak mampu melihat. Tak sedikit dari kita, yang tidak memiliki kekurangan fisik, tidak yakin dengan diri kita sendiri. Kita sering kali memandang rendah terhadap kemampuan diri sendiri. Jika dengan diri sendiri saja kita menganggap lemah, bagaimana kita menganggap orang lain?


Berprasangka baik. Ini adalah pelajaran kedua yang dapat kita ambil. Berjalan seorang diri dengan membawa barang dagangan, dengan mata yang tak mampu melihat, tidakkah ia terpikir "bagaimana jika nanti barang dagangan dicuri?" Tentunya, ia bepikir juga seperti itu. Jika saja ia terus berpikir seperti itu, pastilah ia tak akan pernah berjalan untuk berdagang mencari nafkah. Ia tetap berprasangka baik kepada orang lain dan tentunya kepada Tuhannya, yang menciptakannya dengan kekurangan tersebut. Ia tetap berprasangka baik baik, ia tau dan yakin benar bahwa DIA, Sang Pencipta, tidak menciptakannya dengan begitu saja. Namun, tidak sedikit dari kita, yang DIA ciptakan dengan sempurna, berani untuk berprasangka buruk. Menilai DIA tidak menyayangi kita. Padahal, tanpa pernah kita sadari, ada begitu banyak rahmat yang tercurah.

Semoga dengan tulisan ini, sedikitnya kita mampu belajar dari hal sekitar, termasuk dari mereka yang kita anggap kekurangan. Selamat berbuka puasa.

Jumat, 17 Mei 2013

Enam Belas Mei

0 komentar
Enam belas Mei,
Tepat hari itu, dua puluh dua tahun yang lalu, ada seorang bayi dari sepasang suami dan istri yang berbahagia terlahir ke bumi. Dua puluh dua tahun yang lalu, bayi itu menyabut semesta dengan tangis yang membelah cemas. Saat tangis itu meramaikan seisi ruang operasi, terlihat seorang perempuan dengan wajah letih menyambut dengan senang hati. Perlahan menimang bayi tersebut dengan lembut. Yang dengan segenap hati akan selalui ia kasihi. Dan saat itu pula, perempuan itu resmi dijuluki Ibu. 

Tepat di luar ruang operasi, ada pria dengan harap-harap cemas menanti, memikirkan bagaimana akan berekspresi. Bahagia sudah pasti, tapi rasa khawatir tak bisa dihindari. Ia berjalan pelan menuju ruangan, kemudian langkah terhenti, bukan karena tak berani, tapi ia terlalu takjub dengan peristiwa ini, karena kini akan ada dua perempuan yang ia cintai. Yang dengan segenap hati akan selalu ia lindungi. Dan saat itu pula, pria itu resmi dijuluki Ayah.

Enam belas Mei, dua puluh dua tahun kemudian,
Segalanya berubah. Bayi tersebut telah menjadi perempuan yang sedang berusaha memperbaiki diri. Perempuan yang tanpa henti bermimpi, tentang kehidupan yang akan ia jalani. Perempuan yang berusaha tetap berdiri, ketika hidup menjatuhkannya lagi dan lagi. Dan dari sekian banyak perubahan, ada dua yang tidak pernah berubah. Perempuan yang dua puluh dua tahun yang lalu resmi dijuluki Ibu & pria yang dua puluh dua tahun yang lalu resmi dijuluki Ayah; tetap mengasihi & melindungi.


*****************************************************************************

Mama & Ayah, 
Terima kasih untuk kasih yang tak bersyarat dan tanpa henti.



-Bayi mungil dua puluh dua tahun yang lalu-


Rabu, 15 Mei 2013

The Miracle of Giving

0 komentar
Assalamualaikum. Selamat malam... Ah~ Sudah lama sekali gak ngeblog. *sigh*
Akhir-akhir ini banyak hal yang buat suasana hati jadi amburadul gak menentu yang bikin males banget buat ngeblog. Hm.... Untungnya sih gak bikin males buat tetap berjuang. Baiklah lupakan permasalahan tersebut.

Malam ini, mau sedikit berbagi pengalaman lagi tentang sedekah. Hari ini, setelah satu setengah tahun yang lalu, aku dibuat benar-benar takjub lagi sama keajaiban sedekah. Selama jeda itu tentunya banyak hal juga yang terjadi berkat sedekah, tapi yang hari ini aku rasakan, prosesnya itu bikin terkejut. Gak ada yang nyangka. Oh iya sebelumnya, kalau ada yang belum baca keajaiban sedekah yang dulu aku rasakan, silahkan bisa dibuka di sini

Jadi gini, sebelum resmi lulus dari Universitas, Alhamdulillah aku udah dapat pekerjaan sebagai akuntan sampai pada pertengahan bulan Maret 2013 ini akhirnya aku mengajukan resign. Dikarenakan jarak kantor yang lumayan jauh dari rumah, dengan fisik yang cuma tinggal 'segini-gininya' aku rasa gak sanggup untuk terus kerja di sana. Karena prosesnya harus satu bulan jadi aku masih kerja disana sampai akhir April. Tapi, awal bulan April tiba-tiba Ayah cerita kalau Ia akhirnya mengajukan resign juga dengan alasan tertentu. Kaget. Itu yang aku rasain.

Setelah mendengar kabar itu, aku sendiri jadi ragu untuk resign karena selama ini Ayah masih jadi tulang punggung satu-satunya di keluarga. Aku, pendapatan aku saat itu sebagai fresh graduate masih belum cukup untuk memenuhi pengeluaran keluarga. Apalagi ada adik yang harus masuk SMA tahun ini. Tapi karena setelah diskusi dengan kedua orang tua, akhirnya diputuskan untuk tetap resign. Selama satu bulan masa pengajuan resign itu, aku juga sembari apply-apply ke perusahaan lain. Beberapa kali juga sempat diundang interview namun belum juga memuaskan hasil sampai akhir April. Akhirnya, aku resign dengan belum dapat pekerjaan baru.

Awal bulan Mei, aku dapat undangan test dan interview di salah satu perusahaan di Kawasan Komersil Cilandak. Waktu itu berangkat untuk datang ke panggilan interview itu, aku naik kendaraan umum. Dan saat itu aku belum paham rute menuju kesana, akhirnya meminta bapak supirnya untuk menurunkan di tempat berhenti angkot selanjutnya. Bapak supirnya itu saat itu membawa anaknya kembar, masih kecil-kecil, di angkotnya. Karena bapaknya yang baik banget mau ngedrop sampai pemberhentian angkot selanjutnya, dan saat itu aku inget ada program "Sedekah Kembalian" akhirnya kembalian dari ongkos angkot itu engga aku ambil. Nominalnya sedikit tapi saat itu aku juga niatkan agar interview hari ini berjalan lancar. Dan Alhamdulillah, interviewnya lancar dan selang beberapa jam dikasih kabar lagi untuk interview tahap selanjutnya besok.

Besoknya, aku yang udah liat bagaimana profil perusahaan tersebut jadi sangat tertarik untuk bisa bergabung dan berharap banget agar bisa lolos. Saat itu aku mau niatin lagi sedekah pas berangkat semoga dilancarkan, tapi karena supir angkotnya yang 'selengean' aku tunda untuk ngasih. Interviewnya sendiri berjalan lancar tapi Bapak Manager Financenya itu terlihat ragu dengan kemampuan yang aku punya. Di akhir interview juga beliau sempat bilang seperti ini, "Yaudah, nanti kita kabari lagi ya. Kita juga mau cari kandidat lain dulu untuk perbandingan. Mungkin akhir minggu ini akan dikabari." Saat itu hari Kamis. Aku mendengar Bapak Managernya bilang seperti itu jadi down duluan tapi masih berharap bisa lolos. Akhirnya di jalan pulang, dengan udah gak semangat, aku inget niat sedekah tadi pagi yang belum kesampean. Saat itu uang tunai di dompet cuma tinggal sedikit, kurang dari Rp 30.000 akhirnya aku menyisakan untuk ongkos naik ojek ke rumah dari depan jalan dan sisanya aku sedekahin ke pembangunan masjid. Saat itu aku bener-bener niatin banget semoga perusahaan ini jadi rejeki aku, supaya aku bisa lolos.

Selama nunggu kabar itu, di setiap doa selalu aku selipkan doa "Semoga aku bisa lolos di sana, Ya Allah." Tapi, sampai hari Minggu sore belum ada jawaban juga dari perusahaan. Aku saat itu udah down banget. Berpikir kalau aku gak lolos, tapi di hati itu masih berharap banget bisa lolos di sana. Hatinya itu 'ngeyel' banget dibilangin buat berhenti berharap. Sampai udah ke hari Jumat selanjutnya, pun belum ada jawaban. Dan saat itu aku udah pasrah, udah gak mau berharap banget, udah mau mengikhlaskan saja. "Mungkin ada lagi yang lebih baik yang Allah simpan. Allah baik. Sangat baik." Kata-kata itu aku berusaha yakini banget.

Hari Jumat itu, aku juga ada panggilan interview lain. Kantornya dekat dengan rumah, bergerak di bidang advertising (aku selalu ingin untuk bisa kerja di perusahaan yang bergerak dibidang ini, dan beberapa kali pernah gagal), dan di sana aku bakal menangani pajak (kebetulan, aku suka sekali pajak dari kuliah). Setelah test dan interview, ternyata mereka langsung memberitau aku lolos, karena mereka butuh cepat orang untuk bergabung, dan mereka menawarkan untuk mulai bekerja hari senin dengan status masa percobaan tiga bulan. Setelah diskusi dengan orang tua, akhirnya aku ambil. Dan mulai senin aku bekerja di sana.

Hari pertama kerja di sana, aku masih baik-baik aja, walau ada beberapa aturan dan orang yang gak pas sama karakter aku tapi masih aku acuhkan karena di situ aku mau sambil belajar bagaimana menangani pajak di perusahaan. Hari kedua, suasana makin engga enak. Jadi makin engga nyaman sama lingkungan kerja, ditambah sistem mereka yang berantakan dan aku harus ngerapihin dari awal. Akhirnya terpikir untuk keluar aja, karena aku gak akan bisa kerja dengan suasana dan sistem seperti di sana. Dan, Alhamdulillah kedua orang tua selalu mendukung dengan setiap keputusan yang aku ambil (walau mungkin kadang mereka kecewa). Akhirnya, hari ini aku memutuskan untuk keluar.

Hari ini, sekitar pukul 12 siang, aku buka e-mail. Niat awalnya sih untuk coba apply lagi ke perusahaan lain. Tapi ada satu e-mail masuk yang bikin aku speechless banget. E-mail itu berasal dari HRD perusahaan yang aku pengenin itu. Mereka mengundang untuk interview final jam 10 pagi hari ini, dan saat itu udah pukul 12 siang. Alhamdulillah di handphone masih ada nomor HRD yang pernah kirim pesan, aku hubungi dan ternyata mereka mengajukan re-schedule hari ini jam 4 sore. Dan ternyata mereka kemarin menghubungi aku via telepon cuma gak terjawab karena waktu itu masih bekerja dan handphone ada di dalam loker. 

Perjalanan ke sana itu gak hentinya baca dzikir supaya dipermudah interview final ini. Dan................... Sesampainya di sana, bertemu dengan HRDnya, ternyata gak ada interview tapi mereka langsung bilang aku diterima. Alhamdulillah banget. Engga nyangka, bener-bener engga nyangka. Karena sebelumnya aku udah gak lagi berharap dan udah ikhlasin aja kalau ternyata aku gak lolos. Alhamdulillah banget, sedekah itu, yang engga seberapa itu, membuahkan hasil. Dan ini jadi kado terindah dari Allah buat ulang tahunku besok. Allah punya rencana, mungkin DIA mau lihat sampai sejauh apa aku sabar dan ikhlas. Allah baik. Sangat baik. :")


Ya, itulah kejaiban sedekah yang aku rasakan. Mungkin untuk sebagian orang cerita ini biasa dan gak ada apa-apanya, tapi untukku, ini luar biasa. Semoga sedikit pengalaman ini bisa jadi inspirasi agar tidak ragu bersedekah. Aku pun bukan orang suci yang benar-benar taat, tapi percaya, Allah selalu ada, selalu dekat. Bahkan lebih dekat dengan nadi kita. :")

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template