Jumat, 17 Mei 2013

Enam Belas Mei

0 komentar
Enam belas Mei,
Tepat hari itu, dua puluh dua tahun yang lalu, ada seorang bayi dari sepasang suami dan istri yang berbahagia terlahir ke bumi. Dua puluh dua tahun yang lalu, bayi itu menyabut semesta dengan tangis yang membelah cemas. Saat tangis itu meramaikan seisi ruang operasi, terlihat seorang perempuan dengan wajah letih menyambut dengan senang hati. Perlahan menimang bayi tersebut dengan lembut. Yang dengan segenap hati akan selalui ia kasihi. Dan saat itu pula, perempuan itu resmi dijuluki Ibu. 

Tepat di luar ruang operasi, ada pria dengan harap-harap cemas menanti, memikirkan bagaimana akan berekspresi. Bahagia sudah pasti, tapi rasa khawatir tak bisa dihindari. Ia berjalan pelan menuju ruangan, kemudian langkah terhenti, bukan karena tak berani, tapi ia terlalu takjub dengan peristiwa ini, karena kini akan ada dua perempuan yang ia cintai. Yang dengan segenap hati akan selalu ia lindungi. Dan saat itu pula, pria itu resmi dijuluki Ayah.

Enam belas Mei, dua puluh dua tahun kemudian,
Segalanya berubah. Bayi tersebut telah menjadi perempuan yang sedang berusaha memperbaiki diri. Perempuan yang tanpa henti bermimpi, tentang kehidupan yang akan ia jalani. Perempuan yang berusaha tetap berdiri, ketika hidup menjatuhkannya lagi dan lagi. Dan dari sekian banyak perubahan, ada dua yang tidak pernah berubah. Perempuan yang dua puluh dua tahun yang lalu resmi dijuluki Ibu & pria yang dua puluh dua tahun yang lalu resmi dijuluki Ayah; tetap mengasihi & melindungi.


*****************************************************************************

Mama & Ayah, 
Terima kasih untuk kasih yang tak bersyarat dan tanpa henti.



-Bayi mungil dua puluh dua tahun yang lalu-


Rabu, 15 Mei 2013

The Miracle of Giving

0 komentar
Assalamualaikum. Selamat malam... Ah~ Sudah lama sekali gak ngeblog. *sigh*
Akhir-akhir ini banyak hal yang buat suasana hati jadi amburadul gak menentu yang bikin males banget buat ngeblog. Hm.... Untungnya sih gak bikin males buat tetap berjuang. Baiklah lupakan permasalahan tersebut.

Malam ini, mau sedikit berbagi pengalaman lagi tentang sedekah. Hari ini, setelah satu setengah tahun yang lalu, aku dibuat benar-benar takjub lagi sama keajaiban sedekah. Selama jeda itu tentunya banyak hal juga yang terjadi berkat sedekah, tapi yang hari ini aku rasakan, prosesnya itu bikin terkejut. Gak ada yang nyangka. Oh iya sebelumnya, kalau ada yang belum baca keajaiban sedekah yang dulu aku rasakan, silahkan bisa dibuka di sini

Jadi gini, sebelum resmi lulus dari Universitas, Alhamdulillah aku udah dapat pekerjaan sebagai akuntan sampai pada pertengahan bulan Maret 2013 ini akhirnya aku mengajukan resign. Dikarenakan jarak kantor yang lumayan jauh dari rumah, dengan fisik yang cuma tinggal 'segini-gininya' aku rasa gak sanggup untuk terus kerja di sana. Karena prosesnya harus satu bulan jadi aku masih kerja disana sampai akhir April. Tapi, awal bulan April tiba-tiba Ayah cerita kalau Ia akhirnya mengajukan resign juga dengan alasan tertentu. Kaget. Itu yang aku rasain.

Setelah mendengar kabar itu, aku sendiri jadi ragu untuk resign karena selama ini Ayah masih jadi tulang punggung satu-satunya di keluarga. Aku, pendapatan aku saat itu sebagai fresh graduate masih belum cukup untuk memenuhi pengeluaran keluarga. Apalagi ada adik yang harus masuk SMA tahun ini. Tapi karena setelah diskusi dengan kedua orang tua, akhirnya diputuskan untuk tetap resign. Selama satu bulan masa pengajuan resign itu, aku juga sembari apply-apply ke perusahaan lain. Beberapa kali juga sempat diundang interview namun belum juga memuaskan hasil sampai akhir April. Akhirnya, aku resign dengan belum dapat pekerjaan baru.

Awal bulan Mei, aku dapat undangan test dan interview di salah satu perusahaan di Kawasan Komersil Cilandak. Waktu itu berangkat untuk datang ke panggilan interview itu, aku naik kendaraan umum. Dan saat itu aku belum paham rute menuju kesana, akhirnya meminta bapak supirnya untuk menurunkan di tempat berhenti angkot selanjutnya. Bapak supirnya itu saat itu membawa anaknya kembar, masih kecil-kecil, di angkotnya. Karena bapaknya yang baik banget mau ngedrop sampai pemberhentian angkot selanjutnya, dan saat itu aku inget ada program "Sedekah Kembalian" akhirnya kembalian dari ongkos angkot itu engga aku ambil. Nominalnya sedikit tapi saat itu aku juga niatkan agar interview hari ini berjalan lancar. Dan Alhamdulillah, interviewnya lancar dan selang beberapa jam dikasih kabar lagi untuk interview tahap selanjutnya besok.

Besoknya, aku yang udah liat bagaimana profil perusahaan tersebut jadi sangat tertarik untuk bisa bergabung dan berharap banget agar bisa lolos. Saat itu aku mau niatin lagi sedekah pas berangkat semoga dilancarkan, tapi karena supir angkotnya yang 'selengean' aku tunda untuk ngasih. Interviewnya sendiri berjalan lancar tapi Bapak Manager Financenya itu terlihat ragu dengan kemampuan yang aku punya. Di akhir interview juga beliau sempat bilang seperti ini, "Yaudah, nanti kita kabari lagi ya. Kita juga mau cari kandidat lain dulu untuk perbandingan. Mungkin akhir minggu ini akan dikabari." Saat itu hari Kamis. Aku mendengar Bapak Managernya bilang seperti itu jadi down duluan tapi masih berharap bisa lolos. Akhirnya di jalan pulang, dengan udah gak semangat, aku inget niat sedekah tadi pagi yang belum kesampean. Saat itu uang tunai di dompet cuma tinggal sedikit, kurang dari Rp 30.000 akhirnya aku menyisakan untuk ongkos naik ojek ke rumah dari depan jalan dan sisanya aku sedekahin ke pembangunan masjid. Saat itu aku bener-bener niatin banget semoga perusahaan ini jadi rejeki aku, supaya aku bisa lolos.

Selama nunggu kabar itu, di setiap doa selalu aku selipkan doa "Semoga aku bisa lolos di sana, Ya Allah." Tapi, sampai hari Minggu sore belum ada jawaban juga dari perusahaan. Aku saat itu udah down banget. Berpikir kalau aku gak lolos, tapi di hati itu masih berharap banget bisa lolos di sana. Hatinya itu 'ngeyel' banget dibilangin buat berhenti berharap. Sampai udah ke hari Jumat selanjutnya, pun belum ada jawaban. Dan saat itu aku udah pasrah, udah gak mau berharap banget, udah mau mengikhlaskan saja. "Mungkin ada lagi yang lebih baik yang Allah simpan. Allah baik. Sangat baik." Kata-kata itu aku berusaha yakini banget.

Hari Jumat itu, aku juga ada panggilan interview lain. Kantornya dekat dengan rumah, bergerak di bidang advertising (aku selalu ingin untuk bisa kerja di perusahaan yang bergerak dibidang ini, dan beberapa kali pernah gagal), dan di sana aku bakal menangani pajak (kebetulan, aku suka sekali pajak dari kuliah). Setelah test dan interview, ternyata mereka langsung memberitau aku lolos, karena mereka butuh cepat orang untuk bergabung, dan mereka menawarkan untuk mulai bekerja hari senin dengan status masa percobaan tiga bulan. Setelah diskusi dengan orang tua, akhirnya aku ambil. Dan mulai senin aku bekerja di sana.

Hari pertama kerja di sana, aku masih baik-baik aja, walau ada beberapa aturan dan orang yang gak pas sama karakter aku tapi masih aku acuhkan karena di situ aku mau sambil belajar bagaimana menangani pajak di perusahaan. Hari kedua, suasana makin engga enak. Jadi makin engga nyaman sama lingkungan kerja, ditambah sistem mereka yang berantakan dan aku harus ngerapihin dari awal. Akhirnya terpikir untuk keluar aja, karena aku gak akan bisa kerja dengan suasana dan sistem seperti di sana. Dan, Alhamdulillah kedua orang tua selalu mendukung dengan setiap keputusan yang aku ambil (walau mungkin kadang mereka kecewa). Akhirnya, hari ini aku memutuskan untuk keluar.

Hari ini, sekitar pukul 12 siang, aku buka e-mail. Niat awalnya sih untuk coba apply lagi ke perusahaan lain. Tapi ada satu e-mail masuk yang bikin aku speechless banget. E-mail itu berasal dari HRD perusahaan yang aku pengenin itu. Mereka mengundang untuk interview final jam 10 pagi hari ini, dan saat itu udah pukul 12 siang. Alhamdulillah di handphone masih ada nomor HRD yang pernah kirim pesan, aku hubungi dan ternyata mereka mengajukan re-schedule hari ini jam 4 sore. Dan ternyata mereka kemarin menghubungi aku via telepon cuma gak terjawab karena waktu itu masih bekerja dan handphone ada di dalam loker. 

Perjalanan ke sana itu gak hentinya baca dzikir supaya dipermudah interview final ini. Dan................... Sesampainya di sana, bertemu dengan HRDnya, ternyata gak ada interview tapi mereka langsung bilang aku diterima. Alhamdulillah banget. Engga nyangka, bener-bener engga nyangka. Karena sebelumnya aku udah gak lagi berharap dan udah ikhlasin aja kalau ternyata aku gak lolos. Alhamdulillah banget, sedekah itu, yang engga seberapa itu, membuahkan hasil. Dan ini jadi kado terindah dari Allah buat ulang tahunku besok. Allah punya rencana, mungkin DIA mau lihat sampai sejauh apa aku sabar dan ikhlas. Allah baik. Sangat baik. :")


Ya, itulah kejaiban sedekah yang aku rasakan. Mungkin untuk sebagian orang cerita ini biasa dan gak ada apa-apanya, tapi untukku, ini luar biasa. Semoga sedikit pengalaman ini bisa jadi inspirasi agar tidak ragu bersedekah. Aku pun bukan orang suci yang benar-benar taat, tapi percaya, Allah selalu ada, selalu dekat. Bahkan lebih dekat dengan nadi kita. :")

Sabtu, 16 Maret 2013

Tujuan Hidup

0 komentar

"Tujuan hidup adalah sebuah ketetapan yang mendasari semua rencana dan kerja kita, dan yang menjadi penjaga arah perjalanan." - Mario Teguh

Berbicara tentang tujuan hidup tentunya semua manusia memiliki tujuan dalam hidupnya masing-masing, baik tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Dan dalam postingan kali ini saya akan bercerita sedikit tentang tujuan hidup saya. Sebetulnya, postingan kali ini juga sebagai tugas dari mata kuliah Manajemen Strategi.

Saya sendiri memiliki banyak tujuan dalam hidup saya, seperti lulus jenjang S1 dengan IPK memuaskan dalam waktu 1,5 tahun. Disamping tujuan tersebut, masih banyak tujuan yang ingin saya capai dalam hidup saya. Salah satu tujuan jangka panjang saya yaitu kelak menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi keluarga saya. Dan disamping itu, saya ingin sekali memiliki usaha sendiri ketika kelak sudah berumah tangga.

Saya lebih memilih untuk menjadi wiraswasta dibanding menjadi karyawan karena saya berpikir, untuk menyeimbangi tujuan saya menjadi istri dan ibu yang baik nantinya, bekerja sebagai karyawan tidak cukup efektif untuk tujuan saya tersebut, karena sebagai karyawan pastinya waktu saya menjadi sangat terbatas. Beda halnya jika saya menjadi wiraswasta, karena pekerjaan tersebut adalah usaha milik saya sendiri maka waktu saya pun menjadi fleksibel, karena waktu kegiatan usaha bisa saya tentukan sendiri. Karena saya sendiri pernah menjadi pengajar disalah satu bimbingan belajar untuk anak usia dini, dan saya sangat menyukainya, maka usaha yang ingin saya miliki ya seperti itu, membuka bimbingan belajar untuk anak usia dini dengan harga yang terjangkau. 

Dan berdasarkan tujuan saya itu, kegiatan yang saya lakukan saat ini memang masih berada pada tahap awal untuk mencapai tujuan tersebut. Saya sendiri sekarang masih bekerja sebagai akuntan disalah satu perusahaan manufaktur. Walau pekerjaan saya sebagai akuntan sudah sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, tapi bekerja di perusahaan tempat saya bekerja sekarang masih jauh dari kata sesuai untuk tujuan saya. Namun ini tetap saya lakukan sebagai bentuk pembelajaran bagi saya juga untuk menyiapkan modal bagi usaha saya kelak. Karena segala bentuk usaha butuh modal, bukan? :))

**********************************************************************************

Visi dan Misi Perusahaan tempat saya bekerja


Visi:
1. Memberi kepuasan kepada konsumen dengan produk rumah tangga yang memiliki kualitas tinggi dengan harga yang terjangkau.
2. Meningkatkan semangat wirausaha produk dalam negeri dengan produk berkualitas dan dapat mengembangkan produk hingga seluruh wilayah Indonesia.

Misi:
1. Selalu mengembangkan produk dengan bervariasi dengan kualitas terbaik dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
2. Mengembangkan dan melakukan evaluasi pemasaran produk sehingga produk mampu berkembang di seluruh wilayah Indonesia.

Selasa, 12 Maret 2013

Kamu; Rindu, Perhatian & Cemburu

0 komentar
Kepada kamu yang mengantarkanku pada ujung rindu


Hey,
Bagaimana kamu?

Telahkah kamu terima sekotak rindu yang berhias doa dalam tiap sinar mentari pagi?
Bagaimana hati? 
Tidakkah ia tersenyum manis?
Ataukah hanya meringis?
 
Tidakkah kamu menyadari sebongkah perhatian yang bermata kasih dalam setiap sapa?
Bagaimana rasa?
Tidakkah ia akan membalas?
Ataukah hanya melepas?

Terpikirkah kamu tentang segenggam cemburu yang berbalut sunyi dalam setiap diam?
Bagaimana akal?
Tidakkah ia mampu meredam?
Ataukah hanya menyangkal?

Hey,
Lalu,
Bagaimana denganku?

Rabu, 27 Februari 2013

Our Dreams, Seoul! -4-

0 komentar
Aku sudah tidak sabar untuk sampai di Namsan Tower. Namsan Tower sendiri merupakan pemancar radio yang terdapat di Seoul. Dinamai Namsan Tower karena memang letaknya yang berada di gunung Namsan. Sepengetahuanku, Namsan Tower sudah dibuka untuk umum sejak tahun 1980. Ketinggian Namsan Tower sendiri sekitar 237 meter. Namsan Tower menjadi ikon kota Seoul karena terletak di pusat kota dan salah satu objek wisata yang harus dikunjungi ketika berada di Seoul.

Sebenarnya ada tiga cara untuk sampai ke Namsan Tower, pertama dengan menggunakan mobil pribadi namun tidak bisa langsung sampai di depan menara, kami harus berjalan kaki untuk sampai di bawah menara. Kedua dengan menggunakan kereta gantung, stasiunnya sendiri terdapat di Myeongdong. Dan yang ketiga berjalan kaki dari Myeongdong mengikuti jalan pendakian yang telah disiapkan, alternatif ini sangat direkomendasikan untuk yang suka mendaki gunung, jika kita menggunakan alternatif ini pada musim gugur maka akan disuguhkan pemandangan alam yang sangat indah dimana dedaunan akan berwarna-warni. Aku sendiri sangat ingin merasakan alternatif ketiga itu, namun untuk menghemat tenaga dan waktu akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan alternatif kedua, menggunakan kereta gantung.

Akhirnya kami sudah sampai di stasiun kereta gantung. Beruntungnya kami tidak perlu menunggu kereta gantung begitu lama, karena setelah kami membeli tiketnya, kereta gantung tersebut sudah tersedia. Pemandangan dari atas kereta gantung begitu indah, kerlap kerlip lampu menyinari kota Seoul. Tidak diperlukan waktu yang lama untuk sampai ke Namsan Tower menggunakan kereta gantung, hanya perlu waktu 10 menit. Dan Namsan Tower sudah begitu dekat dengan kami. Dari kereta gantung ini kami dapat melihat atraksi lampu dari Namsan Tower dengan konsep 4 musim. Silih berganti lampu-lampu itu menerangi tubuh Namsan Tower, dari musim gugur, musim dingin, musim semi, musim panas. Sungguh sangat cantik. 

"AH KEREN BANGET!" Kata Iman spontan ketika melihat atraksi lampu 4 musim.

"Iya kereeeennn! Keren banget!" Sukma dan Ana berkata dengan wajah takjub melihat atraksi itu.

"Gue mesti kesini lagi nanti sama suami! Harus!" Timbal Nita.

Aku sendiri hanya bisa diam. Terlalu takjub untuk berkata-kata. Aku benar-benar tidak menyangka bisa melihat ini dengan nyata. Apalagi aku melihatnya tidak sendirian, bersama orang-orang yang selalu meyakinkan aku bahwa suatu saat mimpi kami akan terwujud. Ya. Benar. Mimpi kami sudah benar-benar terwujud. Tanpa aku sadari, air mata mengalir di pipiku. Ah. Aku terlalu bahagia. Thanks God for this happiness. You always keep my dreams, and now you make my dreams come true.

Kami sampai pada bagian puncak Namsan Tower dimana terdapat observatorium. Kami pun menaiki elevator menuju observatorium tersebut. 

"Coba ya nyokap gue ikut, pasti dia langsung inget Goo Jun Pyo." Celetuk Nita. Goo Jun Pyo adalah karakter yang diperankan oleh Lee Min Ho dalam serial BBF, satu adegan dalam serial itu terdapat di elevator yang sekarang ini sedang kami naiki. Dan Ibu dari Nita memang salah satu fans Lee Min Ho. Memang, buah selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya. 

"Iya Nit coba lo ajak nanti ke sini. Tapi, nanti nyokap lo cemburu lagi. Kan waktu itu Goo Jun Pyo sama Geum Jan Di ada di elevator ini." Iman menimpali.

"Iya jangan deh nanti yang ada nyokap lo jadi galau, Nit." Sahut Sukma. Aku dan Ana hanya tertawa. Seketika aku merindukan orang tuaku. Ini memang kali pertamanya aku tinggal jauh dari mereka. Semoga suatu saat aku bisa membawa mereka berlibur ke tempat ini, harapku dalam hati.

Di Namsan Tower terdapat 2 bagian yaitu bagian dasar dan bagian puncak. Di bagian dasar terdapat restoran, kafe, toko souvenir dan di sekitarnya terdapat banyak sekali gembok atau gantungan dengan warna dan bentuk apapun. Di Namsan Tower juga sangat identik dengan ritual menggantungkan gembok atau gantungan tersebut, biasanya dilakukan bersama pasangan, sebagai bentuk cinta ataupun hanya sekedar kenang-kenangan.

Dan di bagian kedua yaitu bagian puncak, terdapat observatorium. Dari puncak Namsan Tower ini aku benar-benar bisa melihat pemandangan kota Seoul dengan sangat indah. Kerlap-kerlip lampu seakan mendominasi semesta. Observatorium ini berbentuk bulat dan hampir disetiap kaca terdapat tulisan kota-kota besar di dunia dan jarak kota tersebut dari Seoul. Kami berkeliling observatorium dan tidak lupa menggambil foto bersama, sebagai kenang-kenangan dan sebagai bukti bahwa mimpi kami sudah terwujud. Puas berkeliling observatorium, kami turun ke bagian bawah untuk menggantungkan gembok yang memang sudah kami siapkan. Ya, waalau tidak pergi bersama dengan pasangan masing-masing, anggap saja ini bukti cinta kami satu sama lain.

"Nickhun waktu itu gemboknya yang mana ya?" Tanya Ana sambil repot mencari-cari gembok besar yang pernah Nickhun dan Victoria gantungkan di sini. Malam-malam begini mencari gembok di antara ratusan gembok? Ya, hanya Ana lah yang melakukannya.

"Duh si Ana emang nih kurang kerjaan banget." Ucapku seraya menulis beberapa kata dalam gembokku. Aku membawa 2 gembok yang berbentuk hati untuk aku gantungkan, yang pertama berisi namaku dan yang kedua berisi nama seseorang yang sudah hampir 1 tahun ini mengisi hatiku. Sebelum aku berangkat ke Seoul, Ia memang aku minta untuk menulis namanya dan harapannya, awalnya ia menolak dan bingung untuk apa. Tapi kelak nanti aku akan datang bersamanya ke sini, dan aku akan memperlihatkan gembok ini.

"Bani? Siapa tuh Bani?" Teriak Nita ketika melihat Sukma menuliskan nama tersebut di gemboknya.

"Ah rese kan Nita!" Sukma buru-buru menutupi gemboknya.

"Siapa tuh Bani? Kasih tau dong, Ma." Pintaku

"Oh, jadi sekarang main rahasia-rahasiaan nih ya. Oke, Ma. Fine. Cukup tau." Goda Iman kepada Sukma.

Sukma memang jarang membicarakan tentang pria yang sedang dekat dengannya. Dia memang pernah cerita jika ada seorang pria yang mendekatinya dan ingin serius dengannya. Tapi sampai saat ini hanya itu yang aku dan yang lain ketahui. Sukma berpendapat ia akan berbagi kebahagiaan itu jika waktunya sudah tepat. Ia tidak ingin mengumbar sesuatu yang belum pasti. Dan kami sebagai sahabatnya, mengerti sekali seperti apa Sukma, maka selama ini kami menghargai keputusanya. Dan kami seketika menajadi sangat penasaran seperti apa sosok Bani, pria yang berhasil membuat wajah Sukma begitu memerah ketika namanya diucap.

"Iya, abis gantungin gembok ini, kita makan terus gue ceritain deh sambil makan." Jawab Sukma menyerah.



To be continued.....

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template