Minggu, 22 Mei 2016

Back to September, Kumpul Kota Depok

0 komentar
Hai! Cinderlila datang lagi membawa sebuah cerita~~ hahaha sebenernya ini cerita udah lama udah terpendam 8 bulan—1 bulan lagi udah jadi dedek bayik, abaikan—tapi kayaknya gak ada yang namanya basi ya buat sebuah pengalaman menyenangkan. Jadi, malam ini daripada cinderlila cuma bengong—pangeran dateng juga gak ada—maka ijinkan aku bercerita.

Mari naik lorong waktu ke delapan bulan lalu.

20 September 2015.

Hari ini buat gue termasuk satu hari dari 365 hari selama 2015 yang sangat gue syukuri. Jadi hari ini, gue mewakili Depok jadi Host untuk Kumpul Kota Depok. Acaranya gak besar, yang ikut juga gak banyak tapi dari sini gue banyak dapat pengalaman baru yang berkesan banget dan kenal teman-teman baru. Mungkin kalian bingung apa sih Kumpul Kota?


Kumpul Kota adalah suatu gathering dari #30HariKotakuBercerita untuk para pesertanya ditiap kota masing-masing. Kalau kalian belum tau apa itu #30HariKotakuBercerita, gue jelasin sedikit. #30HariKotakuBercerita adalah suatu kegiatan menulis selama 30 hari selama bulan September 2015 yang diadain oleh @PosCinta. @PosCinta sendiri sudah hampir 5 tahun mengadakan acara menulis #30HariMenulisSuratCinta setiap bulan February. Dan September ini temanya beda, kita harus menulis tentang kota kita sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Selain menulis, @PosCinta juga mengadakan gathering untuk para peserta disetiap kotanya yang diakomodir oleh pesertanya juga secara suka rela. 

Karna waktu itu gue berpikir, kayaknya bakal asik dan seru, suka rela lah gue mendaftar menjadi Host untuk Kumpul Kota Depok. Yang ternyata benar-benar terpilih. Benar-benar seru kah menjadi Host Kumpul Kota Depok? Seru! Tapi juga pusing. Ya gimana engga, karna tujuan acara ini agar kita lebih mencintai kota kita masing-masing dengan menjelajahi sejarah kota kita masing-masing. Nah lho! Masalah gak tuh? Gue dari lahir sampai 24 tahun—sekarang 25 oke fine—emang besar di Depok. Tapi masalahnya gue gak tau sejarah apapun tentang Depok. Emang ada tempat bersejarah di Depok? Yang gue tau cuma Mall di sepanjang Margonda.

Sempat pusing bingung stress gue mikirinnya. Googling sana sini, tanya teman-teman kali aja ada yang tau dimana tempat bersejarah di Depok. Sampai akhirnya ada seseorang yang mention ke twitter gue kalau dia dengan senang hati mau ngebantu. Ah seneng banget rasanya! Dari situ lah gue kenal sama yang namanya Nidi. Dia juga peserta #30HariKotakuBercerita dari Depok. Bertemulah kita, berdiskusilah kita dan bingunglah kita.

Alhamdulillah nya, di group Host Kumpul Kota saat itu Host Kumpul Kota Jakarta ngasih link tentang walking tour Depok. Googling lah gue tentang walking tour itu, tapi hasilnya yang ngadain walking tour itu udah bubar. Berbekal nyontek ide mereka, gue dan Nidi pun nge-arrange sendiri walking tour Depok—yang kemudian kita namakan Walking Tour Jelajah Depok. Kita gak berdua saat itu, ada Tika yang bantu bikin e-flyer Walking Tour Jelajah Depok dan Mutia yang bantu ngeguide selama acara berlangsung.



Sampailah pada hari H. 20 September 2015.


Sebagian peserta Walking Tour Jelajah Depok.
Setelah foto ini diambil, gubraaaakkkkkk cinderlila jatuh~~~ kecengklak dong sis hiks
Meeting point walking tour kita hari itu adalah Stasiun Depok Lama dengan peserta kurang lebih 15 orang, kita memulai walking tour tepat pukul 9 pagi dengan tujuan pertama yaitu Rumah Sakit Harapan. Rumah Sakit Harapan ini dulunya tempat bersejarah di Depok—ketika Belanda masih jadi tuan tanah. Di belakang rumah sakit tersebut dulunya merupakan gudang penyimpanan padi bagi para budak. Sedangkan di depan Rumah Sakit Harapan ini ada tugu bernama Tugu Cornelis Chastelein—ia merupakan orang Belanda yang datang ke Indonesia untuk bekerja pada VOC sekitar abad 16 yang setelah pensiun ia membeli tanah di pinggiran Jakarta yang sekarang bernama Depok dan mempekerjakan kurang lebih 150 budak dari berbagai wilayah.


Sayangnya Tugu Cornelis Chastelein tersebut sempat beberapa kali terhenti pembangunannya karna Pemkot Depok melarang pembangunan tugu tersebut karna beberapa alasan—salah satu alasannya karna Pemkot Depok menganggap bahwa Cornelis Chastelein adalah penjajah yang tidak patut dikenang.

Oh iya sebelum bercerita lebih jauh, kalian tau gak Depok itu ternyata adalah sebuah akronim?

DEPOK, De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Itulah asal muasal nama Depok. Dulu kala, Depok dimaksudkan untuk menjadi Padepokan Kristiani oleh Cornelis Chastelein.



Tujuan walking tour selanjutnya adalah Gereja Immanuel. Tapi sebelum ke Gereja Immanuel, kita sempat mampir ke salah satu rumah tua yang masih ditempati. Bapak pemilik rumah berbaik hati untuk menceritakan kalau rumah tersebut dulunya adalah rumah Belanda yang ketika kemerdekaan diserahkan kepada negara. Ia juga bercerita bahwa bentuk rumah tidak pernah ia ubah.



Di Gereja Immanuel, kita gak bisa masuk karna hari ini minggu dan sedang ada kebaktian. Sebelumnya, ketika survey lokasi, gue dan Nidi sempat masuk ke dalamnya. Di pintu-pintu samping gereja terdapat 12 marga Depok. Jangan kaget! Depok juga punya marga lho. Apa aja marga-marganya?

Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense dan Zadokh. Tapi sayangnya, marga Zadokh sudah tidak ada penerusnya karna keluarga ini tidak memiliki anak lelaki.

Dari Gereja Immanuel, kita lanjut ke YLCC yang letaknya gak jauh dari Gereja Immanuel. YLCC atau Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein adalah suatu yayasan yang didirikan oleh orang-orang asli Depok. Di sini kita diberi tau tentang sejarah Depok lebih jauh oleh Bapak Ferdi. Gue sebenernya gak nyangka banget beliau bisa meluangkan waktunya untuk jelasin sejarah Depok secara langsung, karna pas janjian by phone 1 minggu sebelum hari ini, awalnya beliau menolak karna ini adalah hari libur dan YLCC tidak buka. Tapi kemudian setelah dijelaskan maksud tujuan kita adalah untuk mengenal Depok lebih jauh, Bapak Ferdy & Ibu Suzana menerima kita dengan begitu hangat.


Di YLCC terdapat berbagai peninggalan-peninggalan Belanda terdahulu. Di kursi-kursi yang sedang kita duduki itu, dibelakangnya terdapat 12 nama marga Depok seperti yang ada di Gereja Immanuel. Bapak Ferdy & Ibu Suzana mengungkapkan bahwa mereka senang sekali masih ada yang ingin tau dengan sejarah Depok. Mungkin kalian tau nya umur Depok itu 18 tahun, tapi ternyata umur Depok sudah lebih dari 300 tahun, tapi lagi-lagi sayangnya Pemkot Depok tidak setuju untuk menghitung umur Depok dari awal sejak Cornelis Chastelein mendirikan Depok.

Peserta Walking Tour Jelajah Depok dengan Bapak Ferdy dan Ibu Suzana dari YLCC
Kalau sekarang ini Depok itu panas dan suka banjir, for your information, dulunya Depok merupakan wilayah yang sangat subur dan memiliki sistem pengairan yang canggih. Depok dulunya juga merupakan penghasil padi. Gak ada tuh yang namanya kelaparan dan kebanjiran di Depok. Pas denger ini, gue agak sedih sih. Cukup lama juga kita di YLCC, Bapak Ferdy dan Ibu Suzana menjelaskan begitu detail tentang Depok.

Tujuan selanjutnya dari walking tour Jelajah Depok adalah piknik asik di Lembah Gurame. Hayooo tau gak kalian kalau Depok juga punya Taman Kota? Ya walau saat ini baru punya Lembah Gurame, tapi ini buat gue adalah kemajuan. Oh iya, kalau sekarang ini sepenglihatan gue, Pemkot Depok lagi gencar bikin taman kota baru. Semoga segera bisa kita nikmati ya.
Lembah Gurame ini ada di Jalan Gurame Depok 1. Kalau mau ke sini, kalian bisa naik angkot 01 dari terminal atau stasiun Depok dan turun deh di Lembah Gurame. Lembah Gurame akan lumayan ramai kalau weekend. Gue—ketika masih tinggal di Depok 1—sering banget olahraga pagi hari minggu di sini.

Piknik Asik di Lembah Gurame
Di sini, kita duduk-duduk sambil cerita-cerita dan nikmatin Jus Belimbing. Kalian tau kan kalau Belimbing itu Ikon Kota Depok—yang walau terlupakan? Sebenarnya, awalnya gue kepengen banget walking tour ini diadain di Argowisata Belimbing di Sawangan Depok. Tapi pas gue survey ke sana, ternyata sudah tinggal nama. Bangkrut sis L sedih gue beneran sedih berhari-hari hiks… 

Karna keinginan gue buat piknik di Kebun Belimbing masih kuat, gue pun beberapa kali survey ke Kebun Belimbing yang ada di Depok. Tapi apa hasilnya? Nihil sis. Kebun Belimbing di Depok sekarang rata-rata diurus atau punya orang pribadi atau disewakan ke Koperasi Belimbing, Pemkot Depok gak ada punya lahan untuk membudidayakan Belimbing—gue bahkan sampai ke Ketua Asosiassi Belimbing Depok buat nyari tau ini. Pemkot Depok gak pernah benar-benar mengurus Ikon nya itu. Gue sedih lagi doooonggg pas tau. Yampun ini tuh sedihnya lebih sedih dibanding ditinggal mantan yang baru beberapa bulan putus eh nikah.



Buat gue, jadi Host Kumpul Kota Depok ini berkesan banget. Kalau bukan karna acara ini, gue gak akan tau banyak sejarah tentang kota kelahiran gue, kota yang ngebesarin gue, kota dimana orang yang gue sayang tinggal, kota yang menjadikan gue, Dalila, seperti saat ini. Ibarat Ibu, Depok pun berandil besar dalam membesarkan gue. Diluar dari kekurangannya, Depok masih jadi tujuan gue pulang. Depok masih jadi satu-satunya yang gue kangen ketika berada di kota lain.

Kamis, 19 Mei 2016

Cinderlila; Ulang Tahun!

0 komentar

Happy birthday, dalila nurqifthiyyah!

Iya jadi senin kemarin, dalila nya bertambah usianya. Berkurang lagi jatah hidupnya. Dua puluh lima tahun sudah. Gak kerasa banget, kayaknya baru aja kemarin gue tiup lilin di TK, baru aja kemarin gue terima KTP, lalu sekarang usia gue udah 25.

Lalu apa yang udah gue capai di usia yang kata orang golden age ini?

Kalau diliat kasat mata sih jawabnya gak ada. Gue masih gini-gini aja. Kuliah masih belum lulus, masih berstatus karyawan bukan mengkaryawankan dan satu yang direpotin banyak orang; masih single.

Iya, gak ada yang bisa dibanggain. Gitu juga awal pemikiran gue ketika 16 mei 2016 datang. Tapi, setelah dirunut lagi satu tahun belakang, ternyata ada banyak hal yang harus gue syukuri. Terlepas dari tiga hal tadi.

Satu tahun ini, ada banyak banget kenangan indah, pengalaman baru dan teman-teman baru yang gue dapet. Semua itu buat gue berkah yang akan selalu gue syukuri. Kalo dipikir lagi, gue gak akan pernah nyangka semua itu terjadi dalam satu tahun ini. Allah baik banget.

Lalu, apa yang gue harapin di usia 25 ini? Banyak. Tapi satu hal yang pasti, gue cuma berharap gue bisa lebih banyak bersyukur atas semua yang udah gue punya. Dibanding meminta lebih, gue cuma berharap semua yang udah ada bisa bikin gue jadi a better qifthi.

Let's face this year with positive energy!

Sabtu, 12 Maret 2016

Cinderlila; Doyan Bengong~

0 komentar
Sabtu, 12 Maret 2016.
00:32 Waktu Indonesia Bagian Cinderlila gak bisa tidur—lagi.

Sebelumnya mohon maaf ya kalau misalnya dari kalian—yang sengaja ataupun gak sengaja—mampir ke blog ini, lalu agak eneg—pake G biar makin eneg—tiap baca Cinderlila Cinderlila gitu. Eng….. anggap aja bantu ngedoain si Dalila nya cepet berubah jadi Cinderella yang akhirnya ditemukan oleh Pangeran dan hidup bahagia selama-lamanyaaaaaa.

Malam ini, yak lagi-lagi Cinderlila yang ini jadi saksi pergantian hari. Kalo Cinderella itu kan jam segini baru pulang ya abis dansa sama Pangeran, nah Cinderlila yang ini sih sebenernya udah gegoleran dibawah selimut tapi apa daya kantuk tak jua menyapa—bahkan ngantuk aja gak mau nyapa hello apa kabar Pangeran gue. Hiks.

Sebenernya ada yang mengganggu pikirian gue malam ini sampai terbitlah postingan ini. Kalian sering gak sih denger orang-orang di sekitar kalian ngomong gini

“Makanya jangan bengong.”

Setiap entah kalian tiba-tiba masuk ke selokan pas lagi jalan, jatuh dari kursi pas lagi makan, ketipu atau bahkan ‘ketempelan sesuatu’—plislah kalian ngerti maksud ini gak usah dijelasin lagi ya gue agak serem.

Nah itulah yang kejadian sama gue. Katanya gue kebanyakan bengong.

Tapi sebenernya gue masih agak bingung sama definisi bengong itu sendiri. Kalau menurut KBBI—serius ini gue sampe nyari.

Bengong;
Termenung (terdiam) seperti kehilangan akal (karena heran, sedih dan sebagainya)

Nah kalau yang dimaksud dengan bengong itu seperti yang dimaksudkan KBBI, udah pasti gue gak pernah ngalamin itu dong seharusnya. Seperti kehilangan akal, dari kalimat itu aja gue jelas-jelas masih punya akal dan bahkan ya ini isi otak kalau bisa diliat pasti kalian terheran-heran kenapa gak ada ruang kosong di situ. Semuanya penuh. Sibuk dengan tugasnya masing-masing. Bahkan saat gue ngetik ini, ada bagian diotak gue yang lagi repot mikirin nasip gue bulan depan—if you know what I mean.

Lalu kenapa setiap ada beberapa kejadian—aneh dan sedikit horror—yang gue alamin, pasti orang-orang di sekitar gue pertama kali responnya adalah “Elo sih kebanyakan bengong.”


Kan gue jadi bingung sendiri, sebenernya penyebab bengong tuh apa? Tandanya bengong tuh gimana? Bengong itu yang kayak gimana? Dan sesering itukah gue terbengong-bengong?

Sabtu, 05 Maret 2016

Cinderlila; Tentang dan Cara Apply Visa Korea Selatan

79 komentar
Sabtu, 5 Maret 2016.

Berhubung malam ini gak ada kerjaan, gak mood nonton drama—hidup gue dua mingguan ini udah penuh drama, cuma sendirian di kosan dan kemarin baru aja lega selega-leganya karna visa Korea akhirnya approved. Gue memutuskan buat sedikit sharing tentang pengalaman tentang visa Korea yang sungguh bikin sakit kepala dari beberapa bulan lalu. Kenapa? Coba aja kalian search di google, pasti banyak banget pengalaman-pengalaman dan rumor-rumor yang bikin takut bin mules gak kelar-kelar tentang visa Korea ini. Terutama tentang saldo tabungan yang mengendap. Jadi gue akan sedikit buka-bukaan tentang hal itu.

Gue dan dua teman berencana liburan ke Negeri Oppa-Eonni bulan April mendatang. Berbekal nekat dan Airasia promo bulan Juli 2015 lalu, kita akhirnya memutuskan untuk beli tiket PP Jakarta – Kuala Lumpur – Seoul – Kuala Lumpur – Jakarta seharga 2,9juta rupiah untuk keberangkatan 15 April 2016 dan kepulangan 22 April 2016. Murah? Iya lumayan. Eits, tapi jangan salah, tiket ini belum termasuk bagasi dan meal inflight. Kalian harus menambah 515ribu rupiah sekali jalan untuk bagasi 20kg. Tapi, gue sendiri memutuskan untuk tidak membeli bagasi saat pergi.

Tadinya gue berencana untuk apply visa bulan Maret pertengahan. Tapi karna dua teman gue mau apply visa di bulan February, jadilah gue ikutan.  Karna usut punya usut, kalau kalian ke Korea bareng teman-teman/keluarga, apply lah visa kalian pada saat yang sama. Setidaknya itu bisa bikin konsulatnya berpikir, ada yang bisa back-up kalian kalau amit-amit di sana terjadi sesuatu.

Mulai February pertengahan, kami bertiga sudah mulai menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Syarat-syaratnya bisa kalian baca di web Kedutaan Korea Selatan. Berkas yang gue kumpulkan antara lain :

1. Paspor Asli
Perlu kalian tau, passport gue adalah paspor 24 halaman. Yang pas bikin sampe ada drama antara gue dan petugas imigrasi Depok. Gue kekeuh mau bikin 24 halaman karna gue mikir gak akan habis juga paspor ini dalam waktu 5 tahun. Toh menurut web imigrasi, fungsi, derajat & masa berlaku antara 24 & 48 halaman sudah sama. Yang membedakan hanya jumlah halaman & tarifnya. Tapi ketika di kantor imigrasi Depok, gue sampai diharuskan bikin surat bermaterai yang menyatakan bahwa tidak akan menuntut imigrasi Depok jika gue ditolak masuk ke suatu negara, karena kata mereka paspor itu hanya untuk TKI. Hell to the O, gue gak paham kenapa info di web Imigrasi ini gak nyampe dan gak bisa dipahami sama petugas imigrasi Depok. Negara kita gini amat ya? Sesama petugas Imigrasi aja infonya gak nyampe. Hvft. 

2. Fotocopy Halaman Depan, Halaman Yang Ada Cap Negara-Negara Dan Halaman Belakang Paspor
Paspor gue hanya berisi cap dua negara tetangga; 1 kali Malaysia dan 3 kali Singapura. Paspor teman yang lain, hanya berisi 1 negara dan yang satu lagi masih bersih tanpa cap.

3. Fotocopy Kartu Keluarga

4. Formulir Aplikasi Visa
Untuk form aplikasi ini bisa di download di web kedutaan, berisi 5 lembar, diisi dengan huruf kapital dalam Bahasa Inggris dan ditandatangani.

5. Foto Terbaru
Fotonya berukuran 3,5 x 4,5 berlatar putih dengan wajah yang terlihat jelas. Jika kalian berhijab, usahakan hijab kalian tidak menutupi alis ya. Di tempel di formulir aplikasi visanya.

6. Surat Jaminan Dari Kantor
Surat ini gue buat berbahasa Inggris yang intinya menjelaskan bahwa benar gue adalah karyawan di perusahaan tersebut, perusahaan sudah tau gue berniat mengambil cuti untuk berlibur ke Korea Selatan dan akan menjamin gue tidak akan mencari pekerjaan di sana. Surat ini ditujukan untuk Head of Section Consulate Visa Section The Embassy of South Korea. Jangan lupa dengan kop surat dan cap perusahaan ya. Surat ini bisa digantikan surat pengangkatan jika kalian berstatus pegawai negeri—itu yang dipakai oleh salah satu teman gue saat apply visa. Jika kalian belum bekerja, kalian bisa mengganti surat ini dengan surat jaminan dari orang tua kalian, bisa ditandatangani di atas meterai.

7. Slip Gaji
Slip gaji asli tiga bulan terakhir. Slip gaji gue ada yang gajinya masih prorate karena gue baru pindah kerja. Jadi kalau denger kalian harus bekerja minimal 1 tahun di perusahaan, gak usah takut. Saat apply, gue baru 3 bulan bekerja di perusahaan sekarang.

8. Fotocopy SIUP
Bisa kalian minta ke HRD atau bagian legal di perusahaan kalian bekerja. Bilang aja untuk keperluan apply visa.

9. Print SPT 2014 & Tanda Terima E-Filling
Berhubung bukti potong untuk SPT 2015 belum keluar dan gue belum bisa lapor pajak, jadi gue pakai SPT 2014. Saat itu gue udah lapor pajak menggunakan E-Filling, jadi SPT nya bisa kalian print dari web e-filling. Dan gue juga menyertakan email tanda terima E-Filling.

10. Fotocopy Kartu Jamsostek
Kalau sekarang sih sebutannya BPJS Ketenagakerjaan, bisa kalian copy kartunya. ini gak wajib karena teman gue lainnya tidak punya. Tapi kalau kalian punya, bisa disertakan.

11. Surat Referensi Bank
Surat ini bisa kalian minta ke bank, bilang saja untuk keperluan visa. Gue sendiri pakai Bank BCA. Saat itu gue datang langsung ke kantor cabang pembuka rekening, tapi menurut Customer Servicenya, bisa dilakukan di cabang manapun tapi ada waktu tunggu paling lambat 3 hari dengan biaya 50ribu rupiah yang akan dipotong langsung dari tabungan kita. Jangan lupa membawa KTP, ATM dan buku tabungan. Disurat itu bisa kalian pilih mau dinyatakan nominal tabungan kita atau tidak. Dan gue memilih untuk menyatakan nominal tabungan. FYI, nominalnya adalah nominal pada tanggal kalian mengajukan. Teman gue yang lain, ada yang menggunakan BNI & Mandiri. Syaratnya sih sama, hanya waktu dan biayanya saja yang berbeda. Di Mandiri jadi hari itu juga dengan biaya 100ribu rupiah dan BNI jadi keesokan harinya dengan biaya 200ribu rupiah.

12. Rekening Koran
Nah ini nih yang bikin banyak drama. Drama tentang rekening koran ini udah bermula dari bulan November. Karena jika kami berencana apply bulan February, kami diharuskan untuk memiliki rekening koran bulan November, Desember dan January dengan saldo yang cantik. Sedangkan saat itu saldo gue di bulan November jelek sejelek-jeleknya. Gue emang udah bekerja tapi dengan status lagi kuliah dengan biaya sendiri, nabung adalah hal yang berat buat gue. Hiks. Tapi, senangnya salah satu teman yang ikut berangkat, berbaik hati meminjamkan saldonya untuk mengendap di rekening gue sementara mulai bulan Desember—ini bisa jadi jalan keluar buat kalian yang saldonya gak seberapa kayak gue. Tapi tetap aja itu gak serta merta bikin jumlah tabungan gue jadi 50juta seperti yang travel agent wajibkan—gue pernah telpon Panorama & Dwidaya, keduanya mengharuskan saldo mengendap minimal 50juta selama tiga bulan. 

Di bulan Desember & January saldo gue masih belum juga menjadi 2 digit di depan, baru di bulan February akhirnya bisa mengendap sebanyak 10juta koma sedikit. Pada saat cetak rekening koran, di bank gue meminta dicetakan rekening koran bulan November, Desember dan January. February belum bisa dicetak saat itu karena masih bulan berjalan. Jadi gue menyiasati dengan mencetak sendiri dari internet banking lalu meminta pengesahan dari Bank BCA. Ketika apply nya, yang gue lampirkan hanya bulan Desember, January dan February (hanya sampai tanggal 19) tapi tetap membawa rekening koran November jaga-jaga pihak keduataan meminta. Untuk dua teman gue yang lain, saldo di rekening mereka juga hanya berkisar 13juta – 16juta rupiah. Jadi jangan percaya kalau travel agent bilang saldo mengendapnya minimal 50juta. Karna ini Korea Selatan we are talking about, yang sama-sama masih Asia. Mungkin beda hal kalau kalian apply visa Eropa, Amerika atau Australia.

13. Asuransi Perjalanan
Ini sebenarnya gak ada dipersyaratan kedutaan, cuma gue lampirkan sebagai bukti gue serius untuk pergi berwisata ke negara mereka dan tidak akan menyusahkan negara mereka jika amit-amit terjadi suatu hal. Asuransi yang gue beli yaitu Axa Smart Traveller sebesar 300ribuan. Dua teman gue lainnya tidak menyertakan asuransi.

14. Fotocopy ID Card Kantor
Gue sendiri tidak menyertakan ini, dua teman gue lainnya menyertakan.

Setelah semua berkas lengkap, kami bertiga datang ke Kedutaan pada hari Jumat, 26 February 2016. Kami sampai jam setengah 9 dengan nomor antrian 11. Dan jam 9 kami sudah dipanggil untuk menyertakan ketiga berkasnya. Setelah diperiksa, tidak ada berkas yang kurang, kami membayar sebesar 560ribu rupiah untuk satu orang untuk visa kunjungan single. Setelahnya kami diberi bukti pembayaran dan diberi tau perkiraan tanggal jadi yaitu 4 Maret 2016. Kami pulang dengan harap-harap cemas yang lebih kepasrah disetujui atau tidak disetujui sampai tanggal 4 Maret tiba.

Sebelumnya kami diberi tau untuk menelpon terlebih dulu tanggal 4 Maret diatas pukul 10 untuk menanyakan bagaimana status visa kami. Tapi jam 10 kami diberi tau bahwa visa masih proses dan bisa menelpon lagi jam 2 siang. Karena penasaran, akhirnya jam 1 kurang 15 gue memutuskan untuk mengecek melalui web Visa status visa kami. Daaaaaannnnnnnn yeeeaaaaayyyyyy!! Pihak Kedutaan Korea Selatan sepertinya membaca surat yang gue pernah tulis dalam rangka #30HariMenulisSuratCinta awal February lalu—oke gak usah dibahas lagi tentang surat surat cinta apalah itu daripada hidup gue drama lagi. Yang penting adalah visa kami bertiga approved!!! Jam 2 gue menelpon kedutaan untuk menanyakan apakah visa sudah bisa diambil, ternyata sudah bisa diambil dari jam 2 – 4 sore.

Korea Selatan,
See you soon~~~ wish us have a safe flight and have a fun trip—dan ketemu Oppa kesukaan kami—ya!

Salam,
Dalila.

Ps: Jika ada yang ingin ditanyakan atau ingin meminta contoh pengisian formulir aplikasi dan contoh surat jaminan kantor, tinggalkan saja email kalian. Akan gue kirimkan contohnya.


Update:
Sesuai dengan pengumuman yang tertera pada web kedutaan Korea Selatan, ada tiga perubahan yaitu:
1. Per tanggal 17 Oktober 2016, SPT dan rekening koran tabungan 3 bulan terakhir beserta surat referensi bank menjadi wajib untuk disertakan. Jika tidak memiliki SPT, harus melampirkan surat pernyataan yang menjelaskan alasan tidak memiliki SPT.
2. Per tanggal 11 Juli 2016, pengalaman mengunjungi negara OECD (seperti Jepang) tidak menjadi persyaratan mendapatkan multiple visa. 
3. Per tanggal 1 Mei 2016, meskipun telah memiliki visa Jepang, kita tidak dapat lagi mendapatkan bebas visa transit di Korea Selatan selama 30 hari. Jika ingin mengunjungi Jepang-Korea, maka diharuskan untuk memiliki dua visa negara tersebut.
4. Per 2 Maret 2018, untuk mempersingkat waktu pengajuan maka dokumen harus disusun sesuai ketentuan di link berikut ini
5. Per April 2018, sesuai info dari kedutaan berikut ini pengajuan aplikasi visa harus dilakukan secara pribadi dan tidak bisa diwakili oleh orang lain (kecuali ada hubungan keluarga dan berpergian bersama) Jika kalian tidak berada di Jabodetabek atau tidak bisa datang sendiri ke Kedutaan untuk menyerahkan berkas, maka kalian WAJIB apply pengajuan visa di Travel Agent yang terdaftar dan ditunjuk oleh Kedutaan. List Travel Agent yang ditunjuk dapat dilihat di sini
6. Per 9 April 2018, Kedutaan mengubah cara pembayaran pengajuan visa. Jika sebelumnya, pembayaran hanya by cash di loket pada saat pengajuan, mulai 9 April pembayaran pengajuan visa hanya dapat dilakukan di KEB Hana Bank sesuai info dari Kedutaan berikut ini


Note:
Teman-teman yang sudah membaca postingan ini dan ada yang ingin ditanyakan, bisa langsung mengirimkan pesan ke email berikut ini. Dikarenakan saya khawatir tidak dapat mengecek kolom komentar. Mohon maaf kepada semuanya yang sudah bertanya di kolom komentar tetapi tidak kunjung saya respon dan baru hari ini (08 April 2018) saya log-in ke blog ini lagi. Terima kasih! 

Selasa, 16 Februari 2016

Arina Nur Dina

0 komentar

Hai, Kak!

Ih aneh banget gitu ya nerima surat gini? Apalagi kalau tau surat ini surat cinta. Dan sampai detik surat ini terkirim juga kita masih saling membalas pesan. Tak apa, anggap saja surat ini pemanasan sebelum Kak Arin benar-benar dapat surat cinta dari seseorang.

Sampai surat ini dikirimkan, sebenarnya aku masih heran kenapa kita bisa jadi deket. Dulu ya aku inget banget waktu Kak Arin masih jadi tutor di Lab Pajak. Yampun galaknya bikin aku kesyel~ lalu ternyata aku pun begitu katanya galak pas jadi tutor hiks... Kayaknya udah hampir 3 tahun ya kita nonton konser bareng dan akhirnya jadi suka ketemuan cuma buat ngobrolin hal gak jelas dan bahkan jalan-jalan hemat untuk hilangin penat.

Dari 3 tahun itu, walau kadang aku ngeselin ya? Suka sensi gak jelas. Suka ngomel-ngomel sendiri hehehe sorry my bad ㅠ ㅠ tapi sungguh aku happy banget bisa punya sesosok kakak, yang bisa aku jadiin tempat curhat, tempat ngeluapin kebahagiaan aku karna didadahin Yonghwa, tempat aku belajar banyak hal. Termasuk cara Kak Arin sayang sama keluarga Kak Arin.

Aku, sebagai seorang sulung, yang kadang lelah karna mau gak mau suka gak suka emang akan jadi tumpuan keluarga, aku banyak belajar dari Kak Arin. Cara Kak Arin mensyukuri hidup, bekerja walau ditekan banyak pihak, tetap kuat walau banyak yang nyinyir, aku suka. Aku bersyukur banget aku bisa dekat sama Kak Arin, karna akhirnya aku nemu sesosok yang bisa aku jadiin contoh untuk jadi seorang kakak yang baik.

Kak,
Melalui surat ini aku cuma ingin bilang, Kak Arin harus selalu jadi diri Kak Arin sendiri. Terus melangkah Kak dengan tegap tapi tetap rendah hati seperti Kak Arin yang aku kenal. Jangan takut dan sedih sama semua omongan orang tentang Kak Arin. Aku percaya, banyak banget orang-orang disekitar Kak Arin yang bersyukur bisa kenal, jadi bagian hidup Kak Arin dan sayang sama Kak Arin.

Kak,
Jangan pernah berkecil hati jika kita masih harus berjalan seorang diri. Jangan pernah merasa sepi. Percaya deh Kak, setiap langkah Kak Arin selalu ramai doa dari orang-orang yang sayang sama Kak Arin. Jika ada saatnya Kak Arin lelah, jangan pernah sekalipun berpikir untuk menyerah Kak. Aku percaya, peluk hangat orang-orang yang sayang sama Kak Arin akan terus menguatkan.

Kak,
Aku sok banget ya nulis kayak gini? Hehehe. Uhm juga, maafin ya kalau kadang aku nyebelin dan ngambekan luar biasa. Namanya juga Dalila. Hehehehe. Tapi beneran deh, aku bersyukur banget bisa kenal Kak Arin.

Semangat ya Kak!

Salam,
Dalila.

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template