Minggu, 31 Januari 2016

Januari

0 komentar

Januari,

Ah, rasanya baru kemarin kamu datang dan menyapaku dengan berjuta harap yang baru. Namun hari ini hari terakhirmu menemaniku. Aku tak tau bagaimana harus mengantarmu pergi. Aku tak pandai mengucap selamat tinggal dengan baik. Kamu pasti tau bagaimana perpisahan yang selama ini aku lalui. Selalu mengores hati.

Tapi kali ini denganmu aku ingin mengucap salam perpisahan tanpa ada yang tersakiti.
Januari,

Terima kasih untuk semua harap dan asa yang selalu kamu bawa ketika kamu datang.
Kedatanganmu bagiku adalah hal yang sangat dinanti.
Kedatanganmu bagiku selalu menjadi cambuk untuk menjadi lebih baik.
Kedatanganmu bagiku selalu menjadi pertanda bahwa hidupku harus ada perubahan.
Kedatanganmu bagiku adalah pertanda ada banyak hal yang harus aku ikhlaskan.
Kedatanganmu bagiku adalah sebuah peringatan bahwa kesedihan tak boleh aku peluk terus-menerus.
Kedatanganmu bagiku adalah harapan yang baru.
Kedatanganmu bagiku adalah kepercayaan bahwa kebahagiaan akan terus datang dan tak akan pernah lekang.

Januari,

Terima kasih.
Datanglah kembali.
Aku berjanji, dikedatanganmu kelak akan aku tunjukkan cinta yang selama ini kamu pertanyakan.

Minggu, 20 Desember 2015

Selamat Berbahagia

0 komentar
20 Desember 2015,

Teruntuk,
Nur Resti.

Hari ini pastinya akan jadi hari terindah untuk kalian. Hari yang pastinya telah lama kalian tunggu. Hari dimana setengah agama kalian genapi. Hari dimana dua hati kalian lebur menjadi satu. Hari dimana Tuhan mengirimkan Malaikatnya untuk ikut berbahagia. Hari dimana kalian kini tak lagi menjadi aku dan kamu namun kita. Satu hari yang akan mengubah banyak hal, namun tidak untuk besarnya cinta kalian.

Sebelumnya, maafkan temanmu ini yang tak dapat memelukmu langsung seraya mengucap selamat ketika ijab telah resmi terucap. Temanmu ini bukan tak ingin, namun apa daya tak mampu. Sedih rasanya melewatkan hari berbahagia yang juga aku tunggu sejak pertama kalian memutuskan untuk bersama.

Sebagai permintaan maafku, maka biarkan aku mengamini semua yang kalian pinta untuk masa depan kalian bersama. Melalui tulisan ini, kusisip banyak doa untuk kebahagian kalian berdua. Berbahagialah selalu temanku, sahabatku, kakakku dengan pilihan hatimu. Berbahagialah selalu dalam setiap langkah yang kalian tempuh menuju kebaikan. Tetaplah berbahagia walau kelak 'kan banyak kerikil mengganggu langkah kalian. Bergandeng tangan dan tetaplah mengingatkan untuk tetap berbahagia atas cinta yang kalian punya.

Selamat menempuh perjalanan baru, teman, sahabat dan kakak kesayanganku.



With love,
Dalila Nurqifthiyyah.

Minggu, 18 Oktober 2015

Teruntukmu...

0 komentar

Aku terduduk lesu
Terpaku melihatmu dari jauh
Punggungmu masih segagah itu
Walau jalanmu tak setegak dulu
Rasanya baru kemarin lalu
Aku bergelayut manja pada punggung itu

Aku tetap mengikuti langkahmu
Perlahan ditemani memori beberapa tahun lalu
Saat kita bertamasya tanpa ijin ibu
Berkeliling kota dengan bus warna biru
Pula bergandeng tangan tangan tanpa ragu
Ah, aku rindu hangat tangan itu

Aku masih di belakangmu
Ketika kamu memukul-mukul bahumu
Lelah kah bahumu, duhai priaku?
Aku baik-baik saja, tidur nyenyak lah di bahuku
Selalu seperti itu jawabmu
Ya, dulu bahu itu lah obat tidurku

Aku seketika terpaku
Dengan pemandangan di depanku
Ku palingkan pandangku
Kini tak lagi padamu
Hatiku seketika membiru
Melihat pelukmu untuk ibu
Tanpa kamu tau, aku pun merindu peluk itu

Ayah.

Minggu, 20 September 2015

Selamat Datang di Depok

1 komentar
Depok, merupakan salah satu kota strategis. Terletak di antara Jakarta dan Bogor membuat Depok berkembang dengan pesat. Depok yang sedari awal kemunculannya--301 tahun yang lalu--merupakan kota yang tak memiliki jati diri--karena memang suku asli Depok pun berasal dari beberapa suku Indonesia Timur. Mungkin karena faktor itu pula menjadikan Depok kota yang mudah sekali tertular 'virus' yang ditebarkan kota-kota disekelilingnya.

Seperti virus kemacetan yang sudah diderita Ibukota, cepat sekali menular ke kota kami ini. Padahal, dahulunya Depok merupakan kota yang damai nan asri. Kini berubah menjadi kota yang patut dihindari ditiap akhir pekan khususnya ditanggal-tanggal muda.

Sebenarnya, moda transportasi kota kami ini sangatlah mudah. Ingin bermain ke Depok? Kalian bisa menggunakan Commuterline dari Jakarta, Bogor dan Bekasi. Depok pun memiliki banyak rute bus ataupun minibus dari dan ke berbagai kota. Tak lupa, transportasi khas Indonesia angkutan kota atau angkot pun melimpah ruah di Depok. Apalagi semenjak ojek online menjadi primadona, mudah sekali dijumpai di pinggir-pinggir jalan di Depok.

Tapi sayangnya, kemudahan transportasi itu tak berarti. Karena salah satu penyakit Ibukota yang tak tersembuhkan itu, mulai menular cepat sekali. Kami butuh waktu 60 menit--bahkan lebih--untuk berpindah hanya dari jarak 10-12 kilometer. Bayangkan, betapa banyak usia yang kami buang di jalan raya! Hahahaha

Jadi, jika kalian ingin berkunjung ke Depok, siapkanlah bekal sabar yang banyak agar tak banyak mengumpat.



Selamat datang di Depok!

Senin, 14 September 2015

Para Pejuang Matahari

0 komentar

Senin, 14 September 2015.

Tepat sekali tema ke empat #30HariKotakuBercerita ini jatuh di hari Senin. Tema ke empat ini memang lebih seru bila dibahas di hari Senin. Hari yang bagi sebagian kami tak pernah dinanti. Yang bagi sebagian kami adalah penentu suasana hati untuk 4 hari setelahnya.

Inilah kami, para pejuang matahari.

Senin, matahari dan kami adalah satu kesatuan. Mari simak sebentar cerita kami.

Senin ini kami lagi-lagi menjadi saksi kedatangan si matahari. Dari dalam jendela kereta yang tertutupi punggung-punggung sebagian kami, matahari menyapa kami. Kami bukan sekumpulan pendaki yang secara sengaja berburu matahari. Kami bukan sekumpulan fotografer yang secara sengaja menunggu matahari untuk diabadikan dalam mata kamera. Tapi inilah kami yang terbitnya lebih pagi dari matahari.

Sebagian dari kami adalah penduduk kota administratif di pinggir Ibukota. Ya, sebagian dari kami adalah penduduk kota yang dulunya memiliki nama De Eerste Protestentante Organisatuevan Kristenen atau yang sekarang ini dikenal dengan nama Depok.

Kami memang tak berbeda dengan penduduk Ibukota atau kota-kota lain disekitarnya. Kami adalah penghuni gedung-gedung tinggi pencakar langit di Ibukota. Kami adalah pekerja yang memiliki jam kerja secara tertulis delapan pagi - lima sorewalau kenyataanya lima pagi - delapan malam. Kami yang diwajibkan memiliki tenaga super untuk berdiri di sepanjang perjalanan. Kami yang demi mampu memberikan anak-anak kami pendidikan terbaik, harus rela berangkat sebelum mereka terbangun pun kembali ketika mereka sudah terlelap.

Maka pantaslah kami disebut para pejuang matahari.

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template