Minggu, 20 Desember 2015

Selamat Berbahagia

0 komentar
20 Desember 2015,

Teruntuk,
Nur Resti.

Hari ini pastinya akan jadi hari terindah untuk kalian. Hari yang pastinya telah lama kalian tunggu. Hari dimana setengah agama kalian genapi. Hari dimana dua hati kalian lebur menjadi satu. Hari dimana Tuhan mengirimkan Malaikatnya untuk ikut berbahagia. Hari dimana kalian kini tak lagi menjadi aku dan kamu namun kita. Satu hari yang akan mengubah banyak hal, namun tidak untuk besarnya cinta kalian.

Sebelumnya, maafkan temanmu ini yang tak dapat memelukmu langsung seraya mengucap selamat ketika ijab telah resmi terucap. Temanmu ini bukan tak ingin, namun apa daya tak mampu. Sedih rasanya melewatkan hari berbahagia yang juga aku tunggu sejak pertama kalian memutuskan untuk bersama.

Sebagai permintaan maafku, maka biarkan aku mengamini semua yang kalian pinta untuk masa depan kalian bersama. Melalui tulisan ini, kusisip banyak doa untuk kebahagian kalian berdua. Berbahagialah selalu temanku, sahabatku, kakakku dengan pilihan hatimu. Berbahagialah selalu dalam setiap langkah yang kalian tempuh menuju kebaikan. Tetaplah berbahagia walau kelak 'kan banyak kerikil mengganggu langkah kalian. Bergandeng tangan dan tetaplah mengingatkan untuk tetap berbahagia atas cinta yang kalian punya.

Selamat menempuh perjalanan baru, teman, sahabat dan kakak kesayanganku.



With love,
Dalila Nurqifthiyyah.

Minggu, 18 Oktober 2015

Teruntukmu...

0 komentar

Aku terduduk lesu
Terpaku melihatmu dari jauh
Punggungmu masih segagah itu
Walau jalanmu tak setegak dulu
Rasanya baru kemarin lalu
Aku bergelayut manja pada punggung itu

Aku tetap mengikuti langkahmu
Perlahan ditemani memori beberapa tahun lalu
Saat kita bertamasya tanpa ijin ibu
Berkeliling kota dengan bus warna biru
Pula bergandeng tangan tangan tanpa ragu
Ah, aku rindu hangat tangan itu

Aku masih di belakangmu
Ketika kamu memukul-mukul bahumu
Lelah kah bahumu, duhai priaku?
Aku baik-baik saja, tidur nyenyak lah di bahuku
Selalu seperti itu jawabmu
Ya, dulu bahu itu lah obat tidurku

Aku seketika terpaku
Dengan pemandangan di depanku
Ku palingkan pandangku
Kini tak lagi padamu
Hatiku seketika membiru
Melihat pelukmu untuk ibu
Tanpa kamu tau, aku pun merindu peluk itu

Ayah.

Minggu, 20 September 2015

Selamat Datang di Depok

1 komentar
Depok, merupakan salah satu kota strategis. Terletak di antara Jakarta dan Bogor membuat Depok berkembang dengan pesat. Depok yang sedari awal kemunculannya--301 tahun yang lalu--merupakan kota yang tak memiliki jati diri--karena memang suku asli Depok pun berasal dari beberapa suku Indonesia Timur. Mungkin karena faktor itu pula menjadikan Depok kota yang mudah sekali tertular 'virus' yang ditebarkan kota-kota disekelilingnya.

Seperti virus kemacetan yang sudah diderita Ibukota, cepat sekali menular ke kota kami ini. Padahal, dahulunya Depok merupakan kota yang damai nan asri. Kini berubah menjadi kota yang patut dihindari ditiap akhir pekan khususnya ditanggal-tanggal muda.

Sebenarnya, moda transportasi kota kami ini sangatlah mudah. Ingin bermain ke Depok? Kalian bisa menggunakan Commuterline dari Jakarta, Bogor dan Bekasi. Depok pun memiliki banyak rute bus ataupun minibus dari dan ke berbagai kota. Tak lupa, transportasi khas Indonesia angkutan kota atau angkot pun melimpah ruah di Depok. Apalagi semenjak ojek online menjadi primadona, mudah sekali dijumpai di pinggir-pinggir jalan di Depok.

Tapi sayangnya, kemudahan transportasi itu tak berarti. Karena salah satu penyakit Ibukota yang tak tersembuhkan itu, mulai menular cepat sekali. Kami butuh waktu 60 menit--bahkan lebih--untuk berpindah hanya dari jarak 10-12 kilometer. Bayangkan, betapa banyak usia yang kami buang di jalan raya! Hahahaha

Jadi, jika kalian ingin berkunjung ke Depok, siapkanlah bekal sabar yang banyak agar tak banyak mengumpat.



Selamat datang di Depok!

Senin, 14 September 2015

Para Pejuang Matahari

0 komentar

Senin, 14 September 2015.

Tepat sekali tema ke empat #30HariKotakuBercerita ini jatuh di hari Senin. Tema ke empat ini memang lebih seru bila dibahas di hari Senin. Hari yang bagi sebagian kami tak pernah dinanti. Yang bagi sebagian kami adalah penentu suasana hati untuk 4 hari setelahnya.

Inilah kami, para pejuang matahari.

Senin, matahari dan kami adalah satu kesatuan. Mari simak sebentar cerita kami.

Senin ini kami lagi-lagi menjadi saksi kedatangan si matahari. Dari dalam jendela kereta yang tertutupi punggung-punggung sebagian kami, matahari menyapa kami. Kami bukan sekumpulan pendaki yang secara sengaja berburu matahari. Kami bukan sekumpulan fotografer yang secara sengaja menunggu matahari untuk diabadikan dalam mata kamera. Tapi inilah kami yang terbitnya lebih pagi dari matahari.

Sebagian dari kami adalah penduduk kota administratif di pinggir Ibukota. Ya, sebagian dari kami adalah penduduk kota yang dulunya memiliki nama De Eerste Protestentante Organisatuevan Kristenen atau yang sekarang ini dikenal dengan nama Depok.

Kami memang tak berbeda dengan penduduk Ibukota atau kota-kota lain disekitarnya. Kami adalah penghuni gedung-gedung tinggi pencakar langit di Ibukota. Kami adalah pekerja yang memiliki jam kerja secara tertulis delapan pagi - lima sorewalau kenyataanya lima pagi - delapan malam. Kami yang diwajibkan memiliki tenaga super untuk berdiri di sepanjang perjalanan. Kami yang demi mampu memberikan anak-anak kami pendidikan terbaik, harus rela berangkat sebelum mereka terbangun pun kembali ketika mereka sudah terlelap.

Maka pantaslah kami disebut para pejuang matahari.

Jumat, 11 September 2015

Nyamii~ Bubur Goreng

0 komentar
Kalau bicara tentang kuliner dan Depok itu layaknya bicara tentang saudara kembar, tak terpisahkan. Yang kalau satu di antara dua itu gak ada, gak akan lengkap. Kalau Depok gak berdiri sendiri seperti sekarang, mungkin gak akan ada variasi kuliner yang tak terhitung itu berjejer di sepanjang Jalan Margonda. Pun sebaliknya, kuliner merupakan salah satu daya tarik Jalan Margonda yang menjadikan Jalan Margonda sebagai salah satu destinasi warga Depok bahkan Ibukota di kala akhir pekan.

Jalan Margonda, mungkin cocok disebut sebagai Jalan Serba Ada, khususnya untuk jenis kulinernya. Gak percaya? Dari makanan Padang sampai makanan Italia ada. Dari angkringan sampai cafe ternama pun ada. Lalu apa sih yang gak ada di Jaserba Margonda?

Adalah BUBUR GORENG.



Hah? Bubur digoreng? Emang bisa? Enak? Mungkin itu pertanyaan yang ada dibenak kalian ketika mendengar bubur goreng. So, mari kita bahas.

Pak Oka bukan tukang bubur biasa. Merasa bosan dengan cara makan bubur yang itu-itu saja, ia berinovasi mencoba menggoreng bubur itu layaknya membuat nasi goreng. Dan tadaaaa~~~ terciptalah bubur goreng itu. Ia pun mulai mengenalkan bubur goreng di kedai bubur miliknya. Gue sendiri tau ada bubur goreng sekitar tahun 2012. Lokasinya yang gak jauh dari rumah, mudah gue jumpai. Tadinya pun gue ragu, kok bisa bubur digoreng? Tapi pas coba, duh dijamin ketagihan!

Cara membuatnya juga cukup mudah. Tapi sepertinya gak semua orang bisa mempraktekannya. Gue pernah coba masak bubur goreng sendiri tapi hasilnya zonk. Komposisi utama bubur goreng sendiri yaitu telur, sayuran, ayam dan bubur tentunya yang digoreng secara bersamaan. Yang menarik dari bubur goreng ini juga, keramahan dari si penjual yaitu Pak Oka yang melayani kalian secara langsung dan selalu tersenyum.

Kalau kalian suka bubur dan merasa bosan dengan bubur yang itu-itu aja, kalian bisa mampir ke Kedai Bubur Padawa milik Pak Oka ini. Letaknya di Jalan Raya Meruyung persis di depan Indomart pertigaan Jalan Parung Bingung menuju arah Masjid Kubah Emas. Kalian bisa naik angkutan umum 03 dari Terminal Depok dan berhenti di pertigaan Jalan Parung Bingung lalu cukup jalan saja menuju arah Masjid Kubah Emas, dan kalian akan menjumpai kedai berwarna hijau kuning bertuliskan Bubur Padawa.

Oh iya, jangan salah. Bubur Padawa ini juga ada di Cinere, tapi yang ada Bubur Goreng nya hanya ada di Jalan Meruyung. Selamat mencoba. 
 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template