Nur Resti.
Minggu, 20 Desember 2015
Selamat Berbahagia
Nur Resti.
Minggu, 18 Oktober 2015
Teruntukmu...
Aku terduduk lesu
Terpaku melihatmu dari jauh
Punggungmu masih segagah itu
Walau jalanmu tak setegak dulu
Rasanya baru kemarin lalu
Aku bergelayut manja pada punggung itu
Aku tetap mengikuti langkahmu
Perlahan ditemani memori beberapa tahun lalu
Saat kita bertamasya tanpa ijin ibu
Berkeliling kota dengan bus warna biru
Pula bergandeng tangan tangan tanpa ragu
Ah, aku rindu hangat tangan itu
Aku masih di belakangmu
Ketika kamu memukul-mukul bahumu
Lelah kah bahumu, duhai priaku?
Aku baik-baik saja, tidur nyenyak lah di bahuku
Selalu seperti itu jawabmu
Ya, dulu bahu itu lah obat tidurku
Aku seketika terpaku
Dengan pemandangan di depanku
Ku palingkan pandangku
Kini tak lagi padamu
Hatiku seketika membiru
Melihat pelukmu untuk ibu
Tanpa kamu tau, aku pun merindu peluk itu
Ayah.
Minggu, 20 September 2015
Selamat Datang di Depok
Senin, 14 September 2015
Para Pejuang Matahari
Senin, 14 September 2015.
Tepat sekali tema ke empat #30HariKotakuBercerita ini jatuh di hari Senin. Tema ke empat ini memang lebih seru bila dibahas di hari Senin. Hari yang bagi sebagian kami tak pernah dinanti. Yang bagi sebagian kami adalah penentu suasana hati untuk 4 hari setelahnya.
Inilah kami, para pejuang matahari.
Senin, matahari dan kami adalah satu kesatuan. Mari simak sebentar cerita kami.
Senin ini kami lagi-lagi menjadi saksi kedatangan si matahari. Dari dalam jendela kereta yang tertutupi punggung-punggung sebagian kami, matahari menyapa kami. Kami bukan sekumpulan pendaki yang secara sengaja berburu matahari. Kami bukan sekumpulan fotografer yang secara sengaja menunggu matahari untuk diabadikan dalam mata kamera. Tapi inilah kami yang terbitnya lebih pagi dari matahari.
Sebagian dari kami adalah penduduk kota administratif di pinggir Ibukota. Ya, sebagian dari kami adalah penduduk kota yang dulunya memiliki nama De Eerste Protestentante Organisatuevan Kristenen atau yang sekarang ini dikenal dengan nama Depok.
Kami memang tak berbeda dengan penduduk Ibukota atau kota-kota lain disekitarnya. Kami adalah penghuni gedung-gedung tinggi pencakar langit di Ibukota. Kami adalah pekerja yang memiliki jam kerja secara tertulis delapan pagi - lima sore—walau kenyataanya lima pagi - delapan malam. Kami yang diwajibkan memiliki tenaga super untuk berdiri di sepanjang perjalanan. Kami yang demi mampu memberikan anak-anak kami pendidikan terbaik, harus rela berangkat sebelum mereka terbangun pun kembali ketika mereka sudah terlelap.
Maka pantaslah kami disebut para pejuang matahari.



