Minggu, 18 Oktober 2015

Teruntukmu...

0 komentar

Aku terduduk lesu
Terpaku melihatmu dari jauh
Punggungmu masih segagah itu
Walau jalanmu tak setegak dulu
Rasanya baru kemarin lalu
Aku bergelayut manja pada punggung itu

Aku tetap mengikuti langkahmu
Perlahan ditemani memori beberapa tahun lalu
Saat kita bertamasya tanpa ijin ibu
Berkeliling kota dengan bus warna biru
Pula bergandeng tangan tangan tanpa ragu
Ah, aku rindu hangat tangan itu

Aku masih di belakangmu
Ketika kamu memukul-mukul bahumu
Lelah kah bahumu, duhai priaku?
Aku baik-baik saja, tidur nyenyak lah di bahuku
Selalu seperti itu jawabmu
Ya, dulu bahu itu lah obat tidurku

Aku seketika terpaku
Dengan pemandangan di depanku
Ku palingkan pandangku
Kini tak lagi padamu
Hatiku seketika membiru
Melihat pelukmu untuk ibu
Tanpa kamu tau, aku pun merindu peluk itu

Ayah.

Minggu, 20 September 2015

Selamat Datang di Depok

1 komentar
Depok, merupakan salah satu kota strategis. Terletak di antara Jakarta dan Bogor membuat Depok berkembang dengan pesat. Depok yang sedari awal kemunculannya--301 tahun yang lalu--merupakan kota yang tak memiliki jati diri--karena memang suku asli Depok pun berasal dari beberapa suku Indonesia Timur. Mungkin karena faktor itu pula menjadikan Depok kota yang mudah sekali tertular 'virus' yang ditebarkan kota-kota disekelilingnya.

Seperti virus kemacetan yang sudah diderita Ibukota, cepat sekali menular ke kota kami ini. Padahal, dahulunya Depok merupakan kota yang damai nan asri. Kini berubah menjadi kota yang patut dihindari ditiap akhir pekan khususnya ditanggal-tanggal muda.

Sebenarnya, moda transportasi kota kami ini sangatlah mudah. Ingin bermain ke Depok? Kalian bisa menggunakan Commuterline dari Jakarta, Bogor dan Bekasi. Depok pun memiliki banyak rute bus ataupun minibus dari dan ke berbagai kota. Tak lupa, transportasi khas Indonesia angkutan kota atau angkot pun melimpah ruah di Depok. Apalagi semenjak ojek online menjadi primadona, mudah sekali dijumpai di pinggir-pinggir jalan di Depok.

Tapi sayangnya, kemudahan transportasi itu tak berarti. Karena salah satu penyakit Ibukota yang tak tersembuhkan itu, mulai menular cepat sekali. Kami butuh waktu 60 menit--bahkan lebih--untuk berpindah hanya dari jarak 10-12 kilometer. Bayangkan, betapa banyak usia yang kami buang di jalan raya! Hahahaha

Jadi, jika kalian ingin berkunjung ke Depok, siapkanlah bekal sabar yang banyak agar tak banyak mengumpat.



Selamat datang di Depok!

Senin, 14 September 2015

Para Pejuang Matahari

0 komentar

Senin, 14 September 2015.

Tepat sekali tema ke empat #30HariKotakuBercerita ini jatuh di hari Senin. Tema ke empat ini memang lebih seru bila dibahas di hari Senin. Hari yang bagi sebagian kami tak pernah dinanti. Yang bagi sebagian kami adalah penentu suasana hati untuk 4 hari setelahnya.

Inilah kami, para pejuang matahari.

Senin, matahari dan kami adalah satu kesatuan. Mari simak sebentar cerita kami.

Senin ini kami lagi-lagi menjadi saksi kedatangan si matahari. Dari dalam jendela kereta yang tertutupi punggung-punggung sebagian kami, matahari menyapa kami. Kami bukan sekumpulan pendaki yang secara sengaja berburu matahari. Kami bukan sekumpulan fotografer yang secara sengaja menunggu matahari untuk diabadikan dalam mata kamera. Tapi inilah kami yang terbitnya lebih pagi dari matahari.

Sebagian dari kami adalah penduduk kota administratif di pinggir Ibukota. Ya, sebagian dari kami adalah penduduk kota yang dulunya memiliki nama De Eerste Protestentante Organisatuevan Kristenen atau yang sekarang ini dikenal dengan nama Depok.

Kami memang tak berbeda dengan penduduk Ibukota atau kota-kota lain disekitarnya. Kami adalah penghuni gedung-gedung tinggi pencakar langit di Ibukota. Kami adalah pekerja yang memiliki jam kerja secara tertulis delapan pagi - lima sorewalau kenyataanya lima pagi - delapan malam. Kami yang diwajibkan memiliki tenaga super untuk berdiri di sepanjang perjalanan. Kami yang demi mampu memberikan anak-anak kami pendidikan terbaik, harus rela berangkat sebelum mereka terbangun pun kembali ketika mereka sudah terlelap.

Maka pantaslah kami disebut para pejuang matahari.

Jumat, 11 September 2015

Nyamii~ Bubur Goreng

0 komentar
Kalau bicara tentang kuliner dan Depok itu layaknya bicara tentang saudara kembar, tak terpisahkan. Yang kalau satu di antara dua itu gak ada, gak akan lengkap. Kalau Depok gak berdiri sendiri seperti sekarang, mungkin gak akan ada variasi kuliner yang tak terhitung itu berjejer di sepanjang Jalan Margonda. Pun sebaliknya, kuliner merupakan salah satu daya tarik Jalan Margonda yang menjadikan Jalan Margonda sebagai salah satu destinasi warga Depok bahkan Ibukota di kala akhir pekan.

Jalan Margonda, mungkin cocok disebut sebagai Jalan Serba Ada, khususnya untuk jenis kulinernya. Gak percaya? Dari makanan Padang sampai makanan Italia ada. Dari angkringan sampai cafe ternama pun ada. Lalu apa sih yang gak ada di Jaserba Margonda?

Adalah BUBUR GORENG.



Hah? Bubur digoreng? Emang bisa? Enak? Mungkin itu pertanyaan yang ada dibenak kalian ketika mendengar bubur goreng. So, mari kita bahas.

Pak Oka bukan tukang bubur biasa. Merasa bosan dengan cara makan bubur yang itu-itu saja, ia berinovasi mencoba menggoreng bubur itu layaknya membuat nasi goreng. Dan tadaaaa~~~ terciptalah bubur goreng itu. Ia pun mulai mengenalkan bubur goreng di kedai bubur miliknya. Gue sendiri tau ada bubur goreng sekitar tahun 2012. Lokasinya yang gak jauh dari rumah, mudah gue jumpai. Tadinya pun gue ragu, kok bisa bubur digoreng? Tapi pas coba, duh dijamin ketagihan!

Cara membuatnya juga cukup mudah. Tapi sepertinya gak semua orang bisa mempraktekannya. Gue pernah coba masak bubur goreng sendiri tapi hasilnya zonk. Komposisi utama bubur goreng sendiri yaitu telur, sayuran, ayam dan bubur tentunya yang digoreng secara bersamaan. Yang menarik dari bubur goreng ini juga, keramahan dari si penjual yaitu Pak Oka yang melayani kalian secara langsung dan selalu tersenyum.

Kalau kalian suka bubur dan merasa bosan dengan bubur yang itu-itu aja, kalian bisa mampir ke Kedai Bubur Padawa milik Pak Oka ini. Letaknya di Jalan Raya Meruyung persis di depan Indomart pertigaan Jalan Parung Bingung menuju arah Masjid Kubah Emas. Kalian bisa naik angkutan umum 03 dari Terminal Depok dan berhenti di pertigaan Jalan Parung Bingung lalu cukup jalan saja menuju arah Masjid Kubah Emas, dan kalian akan menjumpai kedai berwarna hijau kuning bertuliskan Bubur Padawa.

Oh iya, jangan salah. Bubur Padawa ini juga ada di Cinere, tapi yang ada Bubur Goreng nya hanya ada di Jalan Meruyung. Selamat mencoba. 

Selasa, 08 September 2015

Pasar Palsigunung; Tak Sekedar Pasar

1 komentar
Di tema ketiga #30HariKotakuBercerita yaitu Pasar. Gue akan membahas Pasar Palsigunung Depok. Kenapa? Karna buat gue Pasar Palsigunung atau yang lebih eksis disebut Pasar Pal ini punya banyak kenangan.

Pasar Pal yang terletak di kecamatan Cimanggis ini merupakan salah satu pasar tradisional di Depok. Letaknya menurut gue strategis, berada di antara Jalan Raya Bogor. Gue sebenarnya kurang paham bagaimana sejarah Pasar Pal ini. Tapi, yang jelas Pasar Pal udah ada dari gue masih duduk di bangku sekolah dasar.



Karena letaknya yang gak jauh dari SD gue, jadilah Pasar Pal ini salah satu tempat favorite yang gue dan nyokap kunjungi sepulang gue sekolah. Iya emang, dulu sebelum Mall berjamur di Depok, gue sering banget mampir ke pasar tradisional. Sekarang? Gue bahkan lupa kapan terakhir kali ke pasar tradisional.

Pasar Pal ini lengkap banget. Kalian mau cari apa? Pakaian? Ada. Sayuran? Ada. Daging? Ada. Buah? Banyak. Alat-alat rumah tangga? Ada juga. Toko perhiasan? Banyak. Toko alat tulis? Ada. Mini market? Ada juga. Makanan? Duh, jangan ditanya. Di Pasar Pal ini banyak banget tempat jajan favorite gue, dari SD sampai sekarang. Dari Bakso Sabar yang lokasinya dipinggir kali eh sungai, jadi kalau kalian nengok bisa bikin gemeteran (gue sih gitu), kue pukis dan kue mahkota di depan Toko Serbaguna Susan yang rasanya gak berubah dari gue masih SD sampe terakhir gue beli (hm, sekitar 3 tahun lalu sih kayaknya) sampe keripik singkong yang rasa asinnya pas, semuanya ada di Pasar Pal.

Selain karena makanannya, gue sewaktu SD suka banget ke Pasar Pal karena dari sana gue bisa naik delman. Sebelum Depok dipenuhi motor dan mobil seperti sekarang, delman adalah salah satu kendaraan bagi kita dari Pasar Pal. Naik delman dari Pasar Pal ke rumah yang terletak di Komplek Timah bisa sekitar 15-20 menit. Dan itu pengalaman yang sampai sekarang gak bisa gue lupain. Sayangnya, delman-delman itu harus tergusur oleh kendaraan-kendaraan yang ganas.

Pasar Pal sendiri pernah ingin digusur. Tapi kemudian batal dan masih ada sampai sekarang. Pedagang di sana juga semakin banyak. Dibanding dulu, Pasar Pal sekarang juga lebih tersusun rapih sesuai jenis barang yang dijual. Hanya saja, untuk menuju ke sana sekarang lebih ruwet karena semakin banyaknya kendaraan. Melihat perbedaan Pasar Pal sekarang dan 17 tahun yang lalu itu seakan mengingatkan gue, kalau ternyata gue udah tua! Hahahahaha XD

Walau udah jarang banget ke sana, semoga Pasar Pal akan terus menjadi lebih baik. Semoga para pedagang di sana juga bisa tetap bertahan dan tak tergusur oleh pasar-pasar modern yang kita sebut Mall itu. Juga mereka mendapatkan rezeki yang semakin berlimpah.
 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template