Rabu, 27 Februari 2013

Our Dreams, Seoul! -4-

0 komentar
Aku sudah tidak sabar untuk sampai di Namsan Tower. Namsan Tower sendiri merupakan pemancar radio yang terdapat di Seoul. Dinamai Namsan Tower karena memang letaknya yang berada di gunung Namsan. Sepengetahuanku, Namsan Tower sudah dibuka untuk umum sejak tahun 1980. Ketinggian Namsan Tower sendiri sekitar 237 meter. Namsan Tower menjadi ikon kota Seoul karena terletak di pusat kota dan salah satu objek wisata yang harus dikunjungi ketika berada di Seoul.

Sebenarnya ada tiga cara untuk sampai ke Namsan Tower, pertama dengan menggunakan mobil pribadi namun tidak bisa langsung sampai di depan menara, kami harus berjalan kaki untuk sampai di bawah menara. Kedua dengan menggunakan kereta gantung, stasiunnya sendiri terdapat di Myeongdong. Dan yang ketiga berjalan kaki dari Myeongdong mengikuti jalan pendakian yang telah disiapkan, alternatif ini sangat direkomendasikan untuk yang suka mendaki gunung, jika kita menggunakan alternatif ini pada musim gugur maka akan disuguhkan pemandangan alam yang sangat indah dimana dedaunan akan berwarna-warni. Aku sendiri sangat ingin merasakan alternatif ketiga itu, namun untuk menghemat tenaga dan waktu akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan alternatif kedua, menggunakan kereta gantung.

Akhirnya kami sudah sampai di stasiun kereta gantung. Beruntungnya kami tidak perlu menunggu kereta gantung begitu lama, karena setelah kami membeli tiketnya, kereta gantung tersebut sudah tersedia. Pemandangan dari atas kereta gantung begitu indah, kerlap kerlip lampu menyinari kota Seoul. Tidak diperlukan waktu yang lama untuk sampai ke Namsan Tower menggunakan kereta gantung, hanya perlu waktu 10 menit. Dan Namsan Tower sudah begitu dekat dengan kami. Dari kereta gantung ini kami dapat melihat atraksi lampu dari Namsan Tower dengan konsep 4 musim. Silih berganti lampu-lampu itu menerangi tubuh Namsan Tower, dari musim gugur, musim dingin, musim semi, musim panas. Sungguh sangat cantik. 

"AH KEREN BANGET!" Kata Iman spontan ketika melihat atraksi lampu 4 musim.

"Iya kereeeennn! Keren banget!" Sukma dan Ana berkata dengan wajah takjub melihat atraksi itu.

"Gue mesti kesini lagi nanti sama suami! Harus!" Timbal Nita.

Aku sendiri hanya bisa diam. Terlalu takjub untuk berkata-kata. Aku benar-benar tidak menyangka bisa melihat ini dengan nyata. Apalagi aku melihatnya tidak sendirian, bersama orang-orang yang selalu meyakinkan aku bahwa suatu saat mimpi kami akan terwujud. Ya. Benar. Mimpi kami sudah benar-benar terwujud. Tanpa aku sadari, air mata mengalir di pipiku. Ah. Aku terlalu bahagia. Thanks God for this happiness. You always keep my dreams, and now you make my dreams come true.

Kami sampai pada bagian puncak Namsan Tower dimana terdapat observatorium. Kami pun menaiki elevator menuju observatorium tersebut. 

"Coba ya nyokap gue ikut, pasti dia langsung inget Goo Jun Pyo." Celetuk Nita. Goo Jun Pyo adalah karakter yang diperankan oleh Lee Min Ho dalam serial BBF, satu adegan dalam serial itu terdapat di elevator yang sekarang ini sedang kami naiki. Dan Ibu dari Nita memang salah satu fans Lee Min Ho. Memang, buah selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya. 

"Iya Nit coba lo ajak nanti ke sini. Tapi, nanti nyokap lo cemburu lagi. Kan waktu itu Goo Jun Pyo sama Geum Jan Di ada di elevator ini." Iman menimpali.

"Iya jangan deh nanti yang ada nyokap lo jadi galau, Nit." Sahut Sukma. Aku dan Ana hanya tertawa. Seketika aku merindukan orang tuaku. Ini memang kali pertamanya aku tinggal jauh dari mereka. Semoga suatu saat aku bisa membawa mereka berlibur ke tempat ini, harapku dalam hati.

Di Namsan Tower terdapat 2 bagian yaitu bagian dasar dan bagian puncak. Di bagian dasar terdapat restoran, kafe, toko souvenir dan di sekitarnya terdapat banyak sekali gembok atau gantungan dengan warna dan bentuk apapun. Di Namsan Tower juga sangat identik dengan ritual menggantungkan gembok atau gantungan tersebut, biasanya dilakukan bersama pasangan, sebagai bentuk cinta ataupun hanya sekedar kenang-kenangan.

Dan di bagian kedua yaitu bagian puncak, terdapat observatorium. Dari puncak Namsan Tower ini aku benar-benar bisa melihat pemandangan kota Seoul dengan sangat indah. Kerlap-kerlip lampu seakan mendominasi semesta. Observatorium ini berbentuk bulat dan hampir disetiap kaca terdapat tulisan kota-kota besar di dunia dan jarak kota tersebut dari Seoul. Kami berkeliling observatorium dan tidak lupa menggambil foto bersama, sebagai kenang-kenangan dan sebagai bukti bahwa mimpi kami sudah terwujud. Puas berkeliling observatorium, kami turun ke bagian bawah untuk menggantungkan gembok yang memang sudah kami siapkan. Ya, waalau tidak pergi bersama dengan pasangan masing-masing, anggap saja ini bukti cinta kami satu sama lain.

"Nickhun waktu itu gemboknya yang mana ya?" Tanya Ana sambil repot mencari-cari gembok besar yang pernah Nickhun dan Victoria gantungkan di sini. Malam-malam begini mencari gembok di antara ratusan gembok? Ya, hanya Ana lah yang melakukannya.

"Duh si Ana emang nih kurang kerjaan banget." Ucapku seraya menulis beberapa kata dalam gembokku. Aku membawa 2 gembok yang berbentuk hati untuk aku gantungkan, yang pertama berisi namaku dan yang kedua berisi nama seseorang yang sudah hampir 1 tahun ini mengisi hatiku. Sebelum aku berangkat ke Seoul, Ia memang aku minta untuk menulis namanya dan harapannya, awalnya ia menolak dan bingung untuk apa. Tapi kelak nanti aku akan datang bersamanya ke sini, dan aku akan memperlihatkan gembok ini.

"Bani? Siapa tuh Bani?" Teriak Nita ketika melihat Sukma menuliskan nama tersebut di gemboknya.

"Ah rese kan Nita!" Sukma buru-buru menutupi gemboknya.

"Siapa tuh Bani? Kasih tau dong, Ma." Pintaku

"Oh, jadi sekarang main rahasia-rahasiaan nih ya. Oke, Ma. Fine. Cukup tau." Goda Iman kepada Sukma.

Sukma memang jarang membicarakan tentang pria yang sedang dekat dengannya. Dia memang pernah cerita jika ada seorang pria yang mendekatinya dan ingin serius dengannya. Tapi sampai saat ini hanya itu yang aku dan yang lain ketahui. Sukma berpendapat ia akan berbagi kebahagiaan itu jika waktunya sudah tepat. Ia tidak ingin mengumbar sesuatu yang belum pasti. Dan kami sebagai sahabatnya, mengerti sekali seperti apa Sukma, maka selama ini kami menghargai keputusanya. Dan kami seketika menajadi sangat penasaran seperti apa sosok Bani, pria yang berhasil membuat wajah Sukma begitu memerah ketika namanya diucap.

"Iya, abis gantungin gembok ini, kita makan terus gue ceritain deh sambil makan." Jawab Sukma menyerah.



To be continued.....

Selasa, 26 Februari 2013

Our Dreams, Seoul! -3-

0 komentar
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 KST ketika kami selesai makan. Ah, waktu selalu terasa lebih cepat jika bersama dengan Ana, Nita, Sukma dan Iman. Aku selalu merasa seperti ini, jangankan hanya 4 - 6 jam bersama bahkan 4 - 5 tahun bersama mereka saja terasa begitu cepat. Ternyata tahun ini adalah tahun kelima kami menjadi seperti keluarga. Ana, Nita dan Iman adalah temanku semenjak SMA, namun saat itu aku hanya dekat dengan Ana. Sedangkan Sukma adalah teman kuliah Ana. Kami baru dekat seperti ini setelah lulus kuliah. Dan sampai saat inipun aku masih tidak mengerti mengapa kami, (Aku, Ana, Nita, Sukma, dan Iman) akhirnya bisa begitu dekat. Untukku, itulah cara Tuhan menyayangiku. Mengirimkan kepadaku teman-teman terbaik.

Seusai makan, kami bergegas untuk segera ke tujuan kami selanjutnya yaitu Namsan Tower. Sebenarnya dari Coex menuju Namsan Tower itu jauh. Kami harus kembali lagi ke Yeoksamdong menggunakan subway lalu dari sana kami harus beberapa kali berganti bus. Tapi karena memang mimpi kami untuk berkeliling Seoul, jadi tak apalah. Jika kami berani untuk bermimipi dan mewujudkan mimpi kami sampai sejauh ini, aku rasa jarak antara Coex - Namsan Tower tidak ada apa-apanya. 

Kami berjalan menuju stasiun dan udara Seoul benar-benar semakin dingin. Untungnya, salju tidak turun hari ini kalau salju turun mungkin aku bisa membeku di tempat. 

"Eh, kalo lagi jalan di salju gini, inget cerita seseorang gak sih?" Tanya Iman seraya menatap Ana.

"Apa? Cerita siapa?" Sukma bingung. 

"Gue inget!..." Teriakku dan Nita yang kemudian diiringi dengan teriakan dari Ana. 

"AHHHH!!! CUKUUPPP!! Gue malu ah." Teriak Ana dan seketika tawapun meledak diantara kami. Aku lihat beberapa pasang mata pejalan kaki lainnya melihat aneh ke arah kami. Mungkin mereka bingung, ada alien dari mana ini bisa begitu heboh di jalan yang super dingin seperti ini. Warga Korea berbeda dengan Indonesia, mereka terkesan lebih cuek dibanding dengan warga Indonesia. Namun mereka tidak akan segan untuk membantu jika ada seseorang yang membutuhkan.

"Lagian sih ya kelakuan lo itu Na. Jangan-jangan sekarang lo udah......." Goda Iman

"ENGGAAAKKK! Emangnya gue anak kecil apa? Waktu itu kan gue masih kecil, ya anggep aja itu sebagai kenang-kenangan dari gue." Jawab Ana dengan muka memerah.

Tak terasa kami sudah sampai di stasiun. Tidak seperti di Indonesia, transportasi di Korea Selatan sudah sangat jauh di atas Indonesia. Jika di Indonesia aku bisa menunggu kereta begitu lama atau bahkan harus lari-lari agar tidak tertinggal kereta, di sini jadwal kereta maupun subway sangat teratur dan tepat waktu. Kami pun kembali ke Yeoksamdong menggunakan subway.

"Ngomong-ngomong ya, Jo apa kabarnya Na?" Tanya Sukma ketika kami sudah berada di dalam subwav dan seketika kami pun jadi ikut penasaran. Ana pernah cerita melalui email, saat itu email lah satu-satunya cara kami untuk tetap berkomunikasi karena Ana sudah berada di Seoul, Nita bekerja di Malaysia, sedangkan aku, Iman dan Sukma masih di Indonesia, mengenai Jo, lelaki Indonesia yang sedang dekat dengan Ana yang juga sedang belajar di Seoul. 

"Ya gitu, kayak yang gue ceritain di email waktu itu. Jadi Jo itu temen satu apartementnya temen sekelas gue. Gue ketemunya di kenalin sih sama temen gue itu terus ternyata dia juga sama kayak gue, dapet beasiswa bahasa di sini, tapi sunbae gue." Jelas Ana. Sebelumnya, Ana juga pernah bercerita tentang hal ini. Ana juga sudah pernah memperlihatkan foto Jo pada kami. Wajah Jo sangat Indonesia sekali, berkaca-mata, beralis tebal, tinggi, dan jika tersenyum, garis senyum pada pipinya akan terlihat mirip sekali dengan Ana. Kalau orang bilang, wajah mirip itu biasanya jodoh. Ya, semoga saja. 

"Terus sekarang lo sama dia gimana, Na?" Tanya Nita

"Belum gimana-gimana sih, Nit. Antara gue sama dia juga gak ada hubungan pacaran atau semacamnya, ya gue sama dia temenan aja dulu. Lagi juga kan kuliah gue belum beres. Dia pernah bilang gini, nanti kalau aku balik ke Indonesia, kamu baik-baik di sini. Aku tunggu kamu di sana ya. Gitu. Gak ngerti deh apa maksudnya. Mungkin semacem kode yang harus gue pecahkan." Kalimat terakhir itu diucapkan Ana dengan nada setengah bercanda setengah serius.

Subway melesat dengan cepat. Tidak terasa sudah banyak cerita yang kami bahas. Mulai dari Jo sampai gosip jika para bias kami (kecuali Iman) yang akan segera melakukan wajib militer. Ya, seperti yang diketahui, di Korea Selatan, para lelakinya diwajibkan untuk mengikuti wajib militer, walaupun artis sekalipun. Yang paling terlihat lesu mendengar berita ini adalah Nita. Walaupun jika dilihat dari luar, Nita lah yang terlihat lebih kuat tapi ternyata untuk urusan seperti ini, Nita lah yang paling rapuh. Aku teringat 5 tahun lalu, waktu bias-nya, Taecyon mengikuti acara We Got Married bersama artis China, Aku dan yang lain sibuk membicarakannya dan tiba-tiba Nita mengirimi kami pesan "Ah, gue gak kuat ngebayanginnya. Gue sampe gak kuat bangun, akhirnya bangun tidur gue bikin teh biar ada tenaganya menerima kenyataan ini." Itulah bunyi pesan dari Nita kepada kami waktu itu yang membuat kami tertawa sejadi-jadinya.

Subway kami pun sudah sampai di stasiun Yeoksamdong. Dari sini kami berjalan kaki sebentar menuju halte terdekat. Untuk menuju Namsan Tower, diperlukan 2 kali lagi naik bus. Di dalam bus, kami memilih beristirahat sejenak, menyimpan tenaga untuk di Namsan Tower. Bus di Seoul juga sangat nyaman, kami tidak perlu takut terlewat karena ada peringatan di setiap halte. Jika di Jakarta mungkin mirip dengan transjakarta, tapi versi yang lebih baiknya. 

Aku sudah tidak sabar untuk segera sampai ke Namsan Tower. Katanya, belum ke Seoul jika belum ke Namsan Tower. Jalan menuju Namsan Tower pasti akan terlihat cantik karena dihiasi kerlap-kerlip lampu yang mengitari pepohonan dan taman bermain di sekitarnya. Dan aku juga tidak sabar untuk berada di puncaknya, pasti Seoul terlihat amat cantik dari sana apalagi di malam hari seperti ini, dimana gedung-gedung tinggi disekitarnya bermandikan cahaya lampu yang megah, namun aku ragu apakah kerlip bintang akan tetap menjadi yang terindah yang menerangi langit?


To be continued.....

Minggu, 24 Februari 2013

Our Dreams, Seoul! -2-

0 komentar
Suasana di dalam kafe menjadi begitu hangat dengan kehadiran Ana, Sukma, Nita dan Iman. Saat pertama kali datang, Seoul memang sudah memasuki musim dingin. Dan selama 3 bulan berada di Seoul, inilah kehangatan pertama yang begitu aku nantikan. Untukku, tidak mudah menyesuaikan diri berada di negeri orang, selama 3 bulan ini aku berusaha merubah beberapa kebiasaanku untuk menyesuaikan dengan lingkungan baruku ini. Selama 3 bulan ini juga, aku berusaha keras untuk mempelajari bahasa Korea. Sulit. Benar-benar sulit. Dan hari ini, dengan kedatangan 4 sahabatku, aku seperti menjadi diriku kembali.

Di dalam kafe ini, kami menceritakan apa saja, bahkan hal yang sudah pernah kami bahas melalui email, kami ceritakan kembali. Ya, seperti inilah kami, selalu tidak pernah lelah dan tidak pernah kehabisan topik untuk mengobrol. Bahkan tanpa terasa kami sudah menghabiskan waktu 3 jam di kafe ini. Tidak ingin membuang waktu lebih lama, maka kami pun beranjak dari kafe ini. Hari ini, aku dan 4 sahabatku itu, akan berkeliling Seoul. Mewujudkan mimpi kami sejak 5 tahun lalu. Dan aku tak hentinya mengucap syukur dalam hati untuk mimpiku yang terwujud ini.

"Jadi kita mau kemana nih?" Tanya Ana. Ana lah yang akan menjadi pemandu wisata untuk kami. Ketika masih SD, ia pernah tinggal di Seoul selama 3 tahun, dan sekarang pun ia sudah 6 bulan lebih dulu berada di sini. Aku sendiri, walaupun sudah 3 bulan di sini masih belum paham betul jalan-jalan Seoul. Berbeda dengan Ana yang sering sekali berkeliling Seoul seorang diri, aku jarang sekali, terlalu takut mengingat bahasa Korea ku yang terbatas dan penduduk Korea yang sedikit bisa berbahasa Inggris.

"Emm... Gimana kalo kita ke Coex aja? Gue mau ke Coex Aquarium deh." Saranku.

"Boleh tuh! Deket kan kita tinggal naik subway." Sahut Ana. Lokasi kafe kami berkumpul sekarang ini ada di Yoeksamdong, Gangnam. Kami hanya perlu naik subway untuk menuju Coex. Untuk menuju ke stasiun pun tidak terlalu jauh, kami hanya perlu berjalan sebentar dari kafe ini melewati taman bermain yang terletak di belakang 2 hotel ternama. Kalau hanya untuk ke stasiun, aku sudah hapal rutenya.

"Yaudah yuk! Gue sih ikut ajalah." Kata Iman, sang pendatang baru di Seoul. 

Kami pun berjalan kaki menyusuri jalan Yoeksamdong, Gangnam. "Nah ini dulu gue tinggal di sini." Ujar Ana seraya menunjuk salah satu rumah. "Kalau gak lagi salju, taman ini indah banget lho guys, banyak bunga sakuranya. Gue suka main di sini dulu." Lanjut Ana.

"Na, lo mesti sering-sering luangin waktu ya buat ajak gue jalan-jalan sebelum gue mulai kerja nih." Pinta Nita. 

"Oke deh, bisa diatur itu sih!"

"Ma, lo itu mau ngadain pameran apa sih?" Tanyaku pada Sukma.

"Gue cerita tapi kalian jangan bocor ya. Dan jangan histeris lho!" Jawab Sukma. "Jadi tuh, pameran yang kantor gue pegang itu, SM Exhibition gitu. Tiap tahun kan selalu SM selenggarain tuh, nah tahun ini kantor gue berhasil kerja sama sama agency dari SM untuk pameran ini."

"Ah sumpah lo, Ma? Please, Ma jadiin gue salah satu panitianya. Gue pengen banget ketemu Yoona, Ma!!" Tanya Iman histeris. Iman adalah fans berat SNSD. Dia bahkan mengaku-ngaku suami Yoona. Tapi memang bukan hanya Iman yang mengaku-ngaku suami dari artis Korea, Sukma sendiri mengaku-ngaku sebagai istri Junho. Nita mengaku sebagai istri Taecyon. Ana mengaku sebagai istri Jun-K. Dan aku sendiri..... Aku istri Yonghwa. Iya memang seperti inilah kami, sejak 5 tahun yang lalu masih tetap sama. Untungnya, pasangan kami adalah tipe yang bisa menerima hobby kami ini.

"Ih tuh kan lo berisik. Iya, nanti gue mintain free pass buat kalian." Jawab Sukma yang diiringi teriakan bahagia dari yang lain, termasuk aku. 

Tidak terasa kami sudah sampai di stasiun, kami pun segera naik subway menuju Coex. Di Coex sendiri terdapat mall, gedung pertemuan dan Coex Aquarium. Sesampainya di sana, kami berkeliling Coex Aquarium. Rasanya ini seperti mimpi. Lima tahun yang lalu aku hanya melihat Coex Aquarium melalui layar kaca, dan kini sekarang aku bisa berada di sini bersama 4 sahabatku. Coex Aquarium seperti Seaworld jika di Jakarta, namun perbedaannya, Coex Aquarium lebih luas dibanding Seaworld, dan jenis ikan di sini juga lebih banyak. Setelah puas berkeliling Coex Aquarium, kami memutuskan untuk mengisi perut kami yang sudah sangat berisik karena lapar sebelum selanjutnya ke Namsan Tower.

Kami akhirnya memilih salah satu resto yang menurut Ana murah dan enak. Untuk urusan makanan, aku dan 4 sahabatku ini memang sudah terbiasa dengan makanan Korea. Ketika kami semua masih berada di Indonesia pun, kami sudah sering sekali makan makanan Korea, jadi lidah kami tidak perlu kaget lagi. Di resto ini, suasananya begitu nyaman. Di dinding restonya terdapat note-note dari pengunjung yang ditulis dikertas warna-warni kemudian ditempel di dindingnya. Di dalamnya juga terdapat pohon harapan, yang berisi harapan-harapan pengunjung untuk resto ini atau untuk diri mereka sendiri, yang dipercaya akan terkabul. Kami juga memutuskan untuk ikut menulis harapan pada pohon itu. Bukan karena kami percaya harapan itu akan terkabul tetapi sebagai bukti bahwa kami pernah mengunjungi resto ini dan berbagi kebahagiaan bersama.

"Aku, Ana, Nita, Sukma dan Iman pernah berbagi kebahagiaan di sini. Berbahagialah selalu, sahabatku." Tulisku dalam pohon harapan itu.


To be continued...

Sabtu, 23 Februari 2013

Our Dreams, Seoul!

1 komentar
Aku berjalan cepat menyusuri Gangnam seraya sesekali membetulkan posisi syalku agar tetap terlingkar rapih di leherku. Hari ini Seoul begitu dingin seusai turunnya salju kemarin. Apalagi untuk seseorang seperti aku, yang selama 25 tahun hidup di negara tropis, rasanya badanku bisa beku lama-lama berada di luar ruangan seperti ini. Jika bukan karena hari ini spesial, mungkin aku akan tetap berada di dalam rumah, membuat ramyun sambil kembali berkutat dengan buku dan kamus-kamus tebal. Aku memang terhitung baru tinggal di Seoul, baru 3 bulan semenjak aku terpilih menjadi salah satu karyawan yang beruntung untuk mendapat pelatihan keterampilan selama 1 tahun di sini. Menginjakkan kaki di Seoul memang salah satu mimpiku, namun aku tidak pernah menyangka mimpi ini akan menjadi nyata. Apalagi berada di sini dalam waktu yang lumayan lama seperti ini. 

"Ah, itu dia kafenya!" Kataku ketika melihat tulisan "Tous Le Jours" terpampang di depannya. Aku memasukki kafe dan menemukan seseorang yang aku kenal sedang berdiri, tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku pun menghampirinya.

"Akhirnya ketemu juga!" Sapa Ana menggunakan bahasa Indonesia dengan setengah berteriak sambil memelukku erat. Aku pun tidak kalah bahagianya, membalas erat pelukannya. "Iya! Ah gue kangen banget! Akhirnya kita ketemu di sini!" Kataku. Beruntungnya kafe ini sedang tidak ramai, jadi tidak begitu mengganggu ketenangan pengunjung lainnya. Walau ada beberapa pasang mata yang melihat aneh kearah kami. 

"Gimana ceritanya lo bisa dapet pelatihan itu? Ah, lo beruntung banget!" Tanya Ana dengan penasaran, sahabatku ini masih sama, walau sudah 6 bulan tidak bertemu, masih begitu penasaran. Padahal sejak pertama kali aku mendapat kabar gembira ini, aku sudah mengiriminya email, menceritakan secara detail bagaimana aku mendapatkan kesempatan pelatihan ini. Tapi, bukan Ana namanya jika tidak menanyakannya secara langsung.

"Iya, Na. Jadi tuh kantor gue ngadain pelatihan keterampilan wirausaha gitu untuk karyawan-karyawannya tapi ada syaratnya, jadi kita disuruh bikin proposal bisnis kira-kira usaha apa yang mau kita buat tapi bisnis itu harus ada nilai sosialnya juga. Tadinya sih gue gak minat, udah cukup pusing deh waktu kuliah gue buat proposal bisnis gitu, tapi pas gue tau tempat pelatihannya di Seoul, gue jadi semangat deh. Kali aja kan gue bisa ngikutin jejak lo belajar di sini. Eh, Alhamdulillah banget proposal bisnis gue kepilih!" Aku menjelaskan dengan penuh semangat. Ah, rasanya setiap menceritakan kejadian ini aku selalu merasa begitu bersyukur. 

"Wah, Thi hebat hebat! Lo tau gak sih gue sampe teriak-teriak gak jelas pas baca email dari lo. Gue seneng bukan main pas tau lo juga dapet pelatihan di sini. Udah gitu lo dapet pelatihan di sini sebelum gue pulang juga, jadinya kita bisa deh melaksanakan mimpi-mimpi kita keliling-keliling Seoul bareng-bareng." Ana tidak kalah semangatnya. Ana sudah lebih dahulu mendapatkan kesempatan belajar di Seoul. Enam bulan lalu, aplikasi beasiswa bahasanya diterima. Berbeda denganku yang mendapat pelatihan keterampilan dari kantor, Ana mendapat beasiswa untuk belajar bahasa selama 2 tahun. 

Walau sudah berada di Seoul selama 3 bulan, hari ini adalah hari pertamaku dan Ana bertemu. Ya, karena kami berada di sini untuk melakukan pelatihan, jadi kami baru bisa mencocokkan jadwal bertemu hari ini. Dan hari benar-benar terasa spesial, karena selain bertemu Ana, hari ini aku dan Ana juga akan bertemu Iman, Nita dan Sukma, 3 sahabat kami sejak lama. 

Ketika sedang asik mengobrol dengan Ana, terdengar seseorang berteriak dengan gaduh, "GIRLS!!!!" Ketika kami menoleh, ternyata Iman lah sumber kegaduhan itu. Di belakangnya ada Nita dan Sukma. Tentunya tidak kalah hebohnya, dengan setengah berlari dari pintu menuju tempat kami. Ternyata mereka tidak berubah, batinku. Dan mungkin Ana pun berpikir sama denganku. Kami pun seperti teletubies yang bertemu, saling berpelukkan. Ah, rasanya selama 3 bulan terakhir, inilah kebahagiaan yang paling aku nantikan. Tidak pernah terbayang dalam pikiranku bisa bertemu dengan sahabat-sahabatku di tempat yang begitu kami impikan sejak lama, Seoul. 

"Cerita dong ceritain gimana kalian bisa kesini! Tadi Thia baru cerita gimana dia bisa dapet pelatihan di sini." Kata Ana dengan penuh semangat dan penasaran. 

"Siapa nih yang mau cerita duluan? Lo atau lo? Ladies first deh." Kata Iman bertanya kepada Nita dan Sukma.

"Gue deh gue!" Sukma menjawab dengan penuh semangat. "Jadi tuh, gue ada di sini dalam rangka liburan bareng kantor karena salah satu tender kantor gue selesai dengan memuaskan. Dan kalian tau gak sih? Ternyata boss gue bilang, dia mau kerjasama sama salah satu agency di sini! Kemarin kita baru ketemu sama perwakilan agency dari sini. Dan kalau ini berhasil, 6 bulan lagi gue bakal balik lagi kesini untuk nyiapin pameran di sini." Cerita Sukma, dan seketika kami lagi-lagi berteriak-teriak tidak jelas karena terlalu senang mendengar cerita Sukma. Sukma memang sudah tiga tahun bekerja sebagai tim kreatif di salah satu agency di Indonesia.

"Lo gimana Nit bisa diterima di Lotte Hotel? Hebat banget sih, Nit!" Tanya ku penasaran pada Nita.

"Iya beberapa bulan yang lalu gue diminta ngajuin lamaran sama atasan gue, gue gak tau kalau ternyata buat di Lotte Hotel. Ternyata pas gue interview via telepon, mereka bilang kalau ini buat di Lotte Hotel. Tau gak sih? Karena begitu excited, gue sampe ceritain ke yang interview gue, kalau gue udah dari dulu berharap bisa tinggal di Seoul. Terus gue nyeritain mimpi-mimpi kita, gue juga cerita kalau gue dan kalian itu fangirl sejati..."

"Kalau gue fanboy sejati!" Sela Iman.

"Iya kecuali lo lah, Man. Masa lo fangirl, nanti lo ngerebut Taecyon dari gue lagi. Tadinya sih gue pasrah aja lah diterima apa engga, soalnya udah 3 minggu belum ada kabar juga. Eh, tapi selang beberapa harinya ada telepon lagi dan gue dinyatakan lolos! Seneng banget gue!" Nita bercerita tak kalah heboh dan berakhir lagi-lagi dengan kehebohan dari yang lain. Nita sendiri sebelumnya bekerja di salah satu hotel di Malaysia. Ketika aku dan yang lain masih berada di Indonesia, Nita lah yang pertama kali menjejakkan kakinya di negeri orang untuk bekerja.

"Gue, sekarang giliran gue. Kalian harus dengerin dengan baik ya girls! Jadi gini, kalian tau kan gue terobsesi banget jadi editor buat fashion magazine? Kalian tau juga kan di tumblr gue isinya apa? Nah, jadinya 6 bulan lalu itu gue mendaftarkan tumblr gue buat ikutan lomba penilaian fashion blog, hadiahnya itu pelatihan dari salah satu majalah di sini, semuanya gratis. Waktu itu gue nekat aja, sambil ikutan lombanya sambil ngelengkapin berkas-berkas gue, siapa tau gue menang kan ya, eh ternyata Alhamdulillah beneran menang, gue 5 orang beruntung yang dapet pelatihan di sini. Sebenernya sih berangkatnya harusnya masih minggu depan, tapi karena kalian bilang minggu ini kalian mau ketemu, jadilah gue berangkat duluan. Dan akhirnya sekarang kita berlima ada di sini deh bareng-bareng!" Kalimat terakhir Iman itu diucapkannya dengan setengah berteriak. Dan seperti cerita yang lainnya, rasanya tidak afdol jika kami juga tidak ikut berteriak karena senang. Iman sudah lama memang terobsesi menjadi editor majalah fashion. Dia juga sering beberapa kali menjadi freelancer untuk majalah online ketika kami masih kuliah, dan ketika lulus, ia bekerja pada salah satu televisi swasta di Indonesia.

Lima tahun lalu, menginjakkan kaki di Seoul hanya ada dalam mimpi, harapan dan doa kami. Aku tidak pernah menyangka, jika akhirnya kami bisa benar-benar menginjakkan kaki di Seoul, bukan hanya sekedar untuk satu atau dua minggu, tapi juga untuk hitungan bulan bahkan tahun. Aku percaya, semesta akan memberikan energi positifnya untuk orang yang tidak kenal lelah untuk bermimpi dan berusaha. Juga berdoa tentunya. Dan hari ini, aku membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil selama kita masih memiliki semangat. 

Hari ini, kami akan mewujudkan mimpi kami, berkeliling Seoul bersama-sama. Kami harus mempunyai kenangan indah di Seoul, karena ini adalah mimpi kami sejak dulu.....


To be continued.....


Kamis, 14 Februari 2013

Valentine dan Islam

0 komentar
14 Februari. 
Siapa yang tidak mengingat 14 februari? Khususnya untuk remaja, pasti semua tau ada apa di tanggal tersebut. Iya. Hari kasih sayang atau valentine. Banyak dari kita yang pasti sering melihat iklan ataupun ucapan-ucapan valentine di bulan februari ini. Apalagi ketika tanggal 14 februari, hampir semua media dan tempat hiburan mengadakan acara untuk menyambut hari kasih sayang tersebut. Namun sejatinya sebagai seorang muslim, ketika kita merayakan hari tertentu, kita harus terlebih dahulu mengetahui sejarah hari tersebut, bukan? Dan hari ini saya ingin sedikit berbagi sejarah Valentine yang mungkin sedang dirayakan oleh banyak orang. 

Sejarah valentine
Di Roma kuno, tanggal 15 februari adalah hari raya Lupercalia, yaitu perayaan Lupercus (dewa kesuburan). Untuk merayakan hari tersebut maka diadakan ritual penyucian yang mana para pendeta Lupercus akan menyembahkan korban kambing untuk para dewa. Mengapa kambing? Karena Lupercus sendiri dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Setelah itu mereka akan berlari di jalanan kota Roma dengan membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Dan wanita-wanita muda akan dengan sukarela maju karena mereka percaya akan diberikan kesuburan.

Sedangkan, menurut The Encyclopedia Britania menuliskan seperti ini "agar lebih mendekatkan kepada ajaran Kristen pada 496M, Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine's Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 februari." Valentine sebenarnya adalah seorang martir (dalam Islam disebut 'Syuhada') yang diberi gelaran Saint atau Santo. Namun, pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya dengan penguasa Romawi. Untuk mengagungkannya, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai upacara keagamaan. Namun pada abad ke 16 M, upacara keagamaan tersebut hilang perlahan-lahan dan merubah menjadi perayaan yang bukan bersifat keagamaan.

Dari sejarah tersebut, sudah cukup jelas bahwa Valentine berasal dari ritual agama Nasrani yang bersumber dari Romawi kuno. Dan dalam ajaran Islam sendiri, sudah sangat jelas bahwa kita sebagai muslim diharamkan untuk ikut merayakan hari besar agama lain. Seperti firman Allah SWT sebagai berikut:

“Dan janganlah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surat Al-Isra : 36)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surat Al-An’am : 116)

Dan juga hadist berikut ini:
“Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu” 

Maka sebagai muslim, sudah semestinya bukan untuk tidak ikut merayakan Valentine. Pun juga karena Islam sendiri adalah bentuk kasih sayang sejati. Semoga bisa menjadi bahan kita renungkan bersama. :)
 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template