Senin, 14 September 2020

Day 1; Kepribadian Saya?

0 komentar

 Wah ternyata udah lama banget ya blog ini gak pernah lagi ada isinya. Gak tau sebenernya saya sibuk sama apa sampai gak ada waktu buat ngisi blog ini. Padahal kalau dipikir-pikir saya sering banget "nyampah" di Instagram story atau twitter tentang banyak hal. Postingan saya terakhir terlihat menyedihkan ya? Gak terasa ternyata udah satu tahun lebih. Sekarang saya feel much better :")

Duh, intro saya kelamaan nih. Jadi setelah satu tahun lebih saya gak buka blog, hari ini saya kembali dalam rangka #30DaysWritingChallenge selama PSBB. Kalau dipikir-pikir kayaknya yang bisa bikin saya kembali nulis di blog adalah Challenge 30 Hari Menulis deh, sama kalau jatuh cinta sih. Hehe.

Jadi, hari ini saya harus menceritakan kepribadian, watak atau karakter saya, yang sebenarnya saya juga bingung sih. Yang saya paling tau, sebagai Taurus saya super keras kepala. Sebentar deh, gak tau apakah emang karena zodiaknya atau emang ya didikan sebagai anak pertama dan perempuan ngebentuk saya jadi keras kepala. Buat saya sendiri, saya lebih suka dibilang gigih dibanding keras kepala karena saya masih mau kok dengerin nasihat dan saran orang, meski ya saya lebih cenderung ngikutin kemauan saya sendiri sih. Jadi, sebenarnya saya keras kepala atau gigih kalau seperti ini?

Selain itu, saya adalah orang yang paling anti sama yang namanya minta tolong, kalau bisa semua saya lakuin sendiri ya saya aja. Sebenarnya bukan anti sih, tapi saya cuma gak mau ngerepotin orang. yang akhirnya berujung bikin saya struggle banget setahun belakangan ini karna ternyata saya udah out of limit. Kalau ini, jadinya disebut apa? Mandiri atau maksain diri? Hehehe

Hmm... apalagi ya? 

Saya gak tau banyak tentang diri saya. Meski saya suka banget cuap-cuap tentang banyak hal tapi bukan berkomentar tentang hidup orang lain ya, saya cenderung gak kenal sama diri saya. Mungkin kamu bisa bantu kasih tau saya gimana kepribadian saya?

Sebentar, kalau ada satu hal lagi yang saya tau tentang diri saya, saya lebih sayang kamu daripada diri saya sendiri. 

Kamis, 04 Juli 2019

Biarlah...

0 komentar

Juli 2019,

Hari keempat di bulan Juli. Bulan ketujuh di tahun ini. Tahun kedua puluh delapan di hidup ini.

Tidak ada yang ingin aku ceritakan karena rasanya tidak ada pula yang kan mendengarkan.

Tidak ada yang ingin aku bagikan karena rasanya tidak ada pula yang kan menyampaikan.

Tidak ada senang yang aku rasakan meski tidak henti tawa aku perdengarkan.

Tidak ada sedih yang aku inginkan meski tidak tau lagi bagaimana harus aku hilangkan.

Berkali-kali aku hembuskan nafas kencang-kencang berharap sesak segera menghilang.

Berkali-kali aku dendangkan lagu ceria berharap senang kan kembali datang.

Berkali-kali aku hempaskan banyak kata yang berharap dapat tersampaikan.

Berkali-kali aku gagalkan air mata yang berdesakan untuk dikeluarkan.

Biarlah semua bergejolak jadi satu. Kelak semuanya kan hilang seiring waktu. Atau menghilang bersama raga yang tidak lagi ada.

Minggu, 30 Juni 2019

Expected Unexpected -1-

0 komentar

Kringgggg...

"Cepet banget sih udah pagi aja." Ku matikan alarm di handphone, yang ku lanjutkan dengan memeriksa beberapa pesan masuk. Dari sekian banyak pesan yang masuk, aku hanya membuka dua pesan dari dua orang berbeda namun dengan nama yang sama, setidaknya di kontak ponselku.

From : Mine
Message : Aku hari ini pulang, akan sampai di rumah jam 10:00. Gak perlu masak, aku sampai kita langsung makan siang di luar ya. Aku kangen.

Ku baca pesan itu dan tanpa sadar seketika senyumku merekah di wajah yang belum ku cuci ini. Aku pun membaca satu pesan lainnya.

From : Mine
Message : Morning! Kita jadi nonton ya hari ini. Aku jemput jam 11:00. Love you!

Seharusnya setelah membaca pesan kedua ini aku akan bereaksi sama seperti membaca pesan sebelumnya. Namun tentu tidak hari ini, karena aku memilih menyanyikan sepenggal lirik dari lagu yang sesungguhnya tidak aku ketahui "Dan terjadi lagi~~~"

Sebelum kalian bingung membaca kisahku yang memang rumit ini, biar ku jelaskan terlebih dahulu. Pesan pertama berasal dari dia yang memang sudah menjadi milikku setelah ia resmi membaca akad di depan orang tuaku, tujuh bulan lalu. Pesan kedua berasal dari dia yang menganggapku adalah miliknya meski ia tau persis bagaimana statusku sekarang ini. Aku sengaja menyimpan nomor keduanya dalam satu nama, untuk memperkecil kecurigaan orang lain. Toh, aku sangat mampu membedakan keduanya hanya dari gaya menulisnya.

Aku rasa cukup sampai di sini perkenalanku tentang keduanya. Seiring berjalannya ceritaku, kalian pasti akan menjadi (yang paling sok) tau tentang cerita ini.

Aku memilih membalas pesan kedua, membatalkan janji menonton film terbaru yang sudah kita rencanakan sejak dua minggu lalu.

To : Mine
Message : Batal ya. Aku hubungi lagi nanti.

Dan tanpa perlu menunggu berlama-lama, pesan balasan sudah aku terima "Ok, kamu have fun ya."

Sama seperti sebelum-sebelumnya, ini bukan kali pertama aku membatalkan janji dengannya. Tanpa perlu ku jelaskan panjang lebar, ia sudah sangat mengerti apa alasan yang membuatku membatalkan janji itu. Yang sebenarnya masih tidak aku mengerti mengapa ia memilih tetap bertahan.

Bagaimana? Apakah sepenggal kisahku ini sudah membuat kalian ingin menyerngitkan dahi? Apakah sepenggal kisahku ini sudah membuat kalian ingin memaki?

Aku ceritakan lagi nanti ya. Aku harus bersiap terlebih dahulu, untuk menyambut dia yang sudah lama aku rindukan. Sambil menunggu aku memiliki waktu kembali untuk bercerita, silahkan siapkan mental terlebih dahulu.

*to be continued*

Kamu Sebenarnya Tau

0 komentar

Hari terakhir di bulan Juni, 01:18 WIB.

Hari ini seharusnya aku lelah, menghabiskan banyak waktu juga energi di luar rumah. Seharusnya aku sudah terlelap, mewujudkan banyak hal dalam mimpi yang tidak bisa ku wujudkan saat terjaga. Namun ternyata mata tak mampu terpejam, raga pun menolak berdiam.

Tidak ada banyak hal yang bisa ku lakukan di jam ini. Sampai akhirnya hati memilih untuk kembali mengingat beberapa memori yang pernah terjadi. Beberapa membuatku tersipu ketika membayangkan. Beberapa lagi membuatku begitu merindu pada ia yang kala itu tak terpisahkan.

Seperti tak ingin merindu seorang diri, aku ingin kamu juga tau bahwa meski kini mungkin jemari kita tak mampu saling menggenggam, meski kini mungkin hati kita tak mampu saling memahami, meski kini mungkin raga kita tak mampu saling memeluk, semoga ingatan kita tak mampu melupakan bahwa jemari kita pernah bergenggaman begitu erat, hati kita pernah jadi yang begitu memahami, dan raga kita pernah berpelukan tuk saling menguatkan.

Tulisan ini tak ku tulis untuk memaksamu mengerti, tulisan ini juga tak ku tulis untuk memintamu kembali. Tulisan ini ku tulis untuk berjaga jika kelak kamu merindukanku, kamu tau bahwa aku sudah terlebih dulu merindukanmu. Dan ku yakin kamu sebenarnya tau.

Kamis, 27 Juni 2019

Juni 2019

0 komentar

Juni 2019,

Setelah kurang lebih satu tahun sejak benar-benar sama sekali gak punya ide untuk nulis apapun di blog ini, malam ini tetiba ingin nulis meski tanpa ide apapun. Masih sama, masih gak tau harus nulis apa karena kalau ditinjau ulang blog ini isinya hanya tentang seseorang yang sudah lama pergi. Tentang rasa yang sudah lama tidak lagi singgah sampai rasanya yang empunya tidak lagi percaya bahwa rasa itu benar ada.

Tapi kemudian, belum lama rasa itu kembali tiba.

Begitu saja. Membawa kembali sepercik hangat yang mungkin nyatanya begitu dirindukan.

Begitu mudah. Meruntuhkan pertahanan yang mungkin nyatanya tidak benar-benar ada.

Begitu sederhana. Memotong segala kerumitan yang mungkin nyatanya sekedar dibuat-buat.

Meski entah apakah kemudian rasa ini bertahan atau hanya sekedar singgah sementara...

Terima kasih.

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template