Kamis, 27 Juni 2019

Juni 2019

0 komentar

Juni 2019,

Setelah kurang lebih satu tahun sejak benar-benar sama sekali gak punya ide untuk nulis apapun di blog ini, malam ini tetiba ingin nulis meski tanpa ide apapun. Masih sama, masih gak tau harus nulis apa karena kalau ditinjau ulang blog ini isinya hanya tentang seseorang yang sudah lama pergi. Tentang rasa yang sudah lama tidak lagi singgah sampai rasanya yang empunya tidak lagi percaya bahwa rasa itu benar ada.

Tapi kemudian, belum lama rasa itu kembali tiba.

Begitu saja. Membawa kembali sepercik hangat yang mungkin nyatanya begitu dirindukan.

Begitu mudah. Meruntuhkan pertahanan yang mungkin nyatanya tidak benar-benar ada.

Begitu sederhana. Memotong segala kerumitan yang mungkin nyatanya sekedar dibuat-buat.

Meski entah apakah kemudian rasa ini bertahan atau hanya sekedar singgah sementara...

Terima kasih.

Jumat, 13 April 2018

Bagiku....

0 komentar


Beberapa hari ini, ada beberapa hal yang mengganjal hatiku. Ketika keimanan seseorang dipertanyakan hanya dari tampak luar media sosialnya. Hanya dari berapa sering ia menyebarkan dalil-dalil kebaikan di media sosialnya. Hanya dari seberapa cepat ia memperlihatkan dirinya yang berhijrah.

Tapi, bagiku...

Tidak pernah memposting tentang agama bukan berarti tidak beragama. Hanya untuk sebagian dari mereka, ibadahnya cukuplah ia dan Tuhannya yang tau. Sebagian dari mereka tidak berdoa dengan hastag, tapi diam-diam di pertiga malam.

Sebarkanlah walau hanya satu ayat. Tidak hanya tentang memposting ceramah, dalil, atau petikan hadist. Tapi juga tentang berlaku baik pada sesama. Mengajarkan ilmu baru kepada teman di sekolah atau rekan kerja. Menghargai setiap ciptaan-Nya. Berbagi makanan kepada tetangga. Menjadi pendengar yang baik untuk mereka yang sedang terluka hatinya. Bertoleransi kepada pemeluk agama lainnya. Bukankah Rasul kita pun seperti itu? Menyebarkannya secara nyata dengan cara yang indah.

Hijrah pun bukan hanya sekedar tampilan luar yang berubah. Tapi juga tentang bagaimana caramu memandang mereka yang masih dalam langkah belajar. Bisakah tidak mencemoohnya? Tidak mendosa-dosakannya? Jangan sampai kehijrahanmu membuat ia takut, takut untuk maju atau bahkan ia memilih berbalik arah karena yang ia lihat di depannya hanya seseorang sepertimu yang begitu mudah menghakimi...


Minggu, 08 April 2018

Tunggu...

0 komentar
Halo! Halo!


Udah lama banget ternyata ya dari postingan terakhir. Udah lama banget sebenarnya mau memulai lagi, tapi bingung mau nulis tentang apa? Mau ngelanjutin tulisan tentang perjalanan di Jepang, tapi ingatan sudah mulai melupa. Mau nulis surat cinta, tapi cinta masih belum juga datang meski sudah 6 kali purnama.  Mau nulis tips, tips apa? Tips bertahan menjadi jomlo 6 kali purnama? Mau nulis curahan hati, tapi ya apa gunanya kita punya Tuhan kalau curhatnya di blog, begitu bukan?

Jadilah tulisan pertama setelah 10 bulan gak lagi ngeblog adalah tulisan semacam postingan ini, agak sedikit banyak tidak jelas—gimana?

10 bulan belakangan ini, ternyata hidup masih penuh kejutan, seperti naik roller coaster—bukan sepeda—banyak naiknya tapi sekalinya turun dahsyaaaattt, kak! Alhamdulillahnya, masih bisa naik meski harus diputar 360 derajat dulu. Sebenarnya banyak banget cerita yang pengen banget dibagi, barangkali kita ada diposisi yang sama dan lalu bertukar pikiran. Tapi kadang gue ragu, buat apa diceritakan? Bisa jadi orang lain juga sudah terlalu muak dengan jalan cerita hidupnya masing-masing.

Yang mungkin menjadi satu alasan kemudian terlihat menjauh.

Tunggu... Bagaimana caranya agar kalimat di atas tidak terlihat seperti alasan tapi menjadi penjelasan?

Di balik 10 bulan belakangan yang penuh kejutan, ternyata hidup masih semenarik berkenalan dengan banyak orang baru dan menjadi begitu dekat dalam hitungan minggu. Semenarik berada di situasi canggung dengan orang yang sudah begitu lama dikenal dan menjadi asing dalam banyak hal.

Yang mungkin menjadi satu tambahan alasan kemudian terlihat angkuh.

Tunggu... bagaimana caranya agar kalimat di atas tidak terlihat seperti alasan tapi menjadi penjelasan?

Dan ternyata 10 bulan belakangan ini mengajarkan lagi satu hal, bahwa hidup masih tentang bertahan dan mempertahankan. Bertahan untuk tetap diam meski terlihat menjauh atau mempertahankan cerita yang ada agar tidak terlihat angkuh.

Tunggu... bagaimana caranya agar postingan ini tidak menjadi masalah?

Kamis, 29 Juni 2017

Jadi, Kapan Nikah?

0 komentar
Been a while sejak terakhir kali ngeblog, eh tau-tau udah lebaran aja. Sebelum berlanjut ketulisannya, mohon maaf lahir batin dulu ya teman-teman untuk segala kesalahan dan selamat hari raya idulfitri.

Gimana lebarannya tahun ini? Semoga tetap menyenangkan.

Lebaran kali ini buat gue gak lagi semenyenangkan tahun-tahun sebelumnya. Gue gak lagi semangat ketemu sanak saudara dan kerabat terdekat sih. Kalau udah masuk keusia seperempat abad lebih satu tahun, dan kalian masih aja sendiri, pasti taulah apa penyebabnya. 

Salah sendiri lagian pakai dibayangin segala. 

Ah, gak usah lebay deh biasa aja masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

I wish. Gue sih berharap gitu, bisa gak usah kepikiran ini itu. Gak perlu masukin ke hati. Berusaha sehappy mungkin untuk nyambut hari yang cuma ada 1 tahun sekali dan belum tentu juga tahun depan gue bisa ngerayain lagi. Tapi kenyataannya, ketika hari H gak semudah itu sih. 

Walau pada akhirnya gue tetap berusaha tersenyum semanis dan seikhlas mungkin meski pertanyaan yang gue harapin gak pernah terlontar itu banyak terlontar. Sekali dua kali bisa dianggap jadi bentuk perhatian, tiga kali empat kali? Apa jadinya bukan ngurusi hidup orang?

Dari semua yang udah gue lakuin, yang udah gue capai, yang udah gue hasilkan, selama dua puluh enam tahun satu bulan tigabelas hari hidup, ternyata gak ada artinya selama pertanyaan "Jadi kapan nikah?" "Pacarnya mana udah punya belum?" masih gue jawab dengan "Doain aja."

Sedih, sis.

Padahal kalau mau lihat, satu tahun terakhir aja deh, ada banyak lho pertanyaan lain yang bisa ditanya. Misalnya "Kerjanya gimana sekarang?" "Usahanya lancar?" "Kapan lanjutin sekolah lagi?"

Dari sekian banyak pertanyaan lain itu, yang gue denger cuma "Jadi kapan nikah? Kirain udah punya anak." "Udah punya pacar? Terlalu milih sih." "Belum laku juga?" 

Kenapa cuma nikah yang seakan jadi titik pencapaian terbesar sih?

Nikah memang menyempurnakan iman dan separuh agama, tapi menikah juga anjuran hanya untuk yang sudah mampu. Belum menikah bukan berarti tidak melaksanakan perintah. Tapi ya karena memang Tuhan anggap belum mampu. Mampu dalam banyak hal; iman, materi, mental dan banyak hal. 

Hanya karena seseorang belum menikah, lantas bukan berarti hidupnya tidak berguna. Karena hidup terlalu berharga untuk disia-siakan.

Hanya karena seseorang masih sendiri, lantas bukan berarti dirinya tidak laku. Karena hidup seseorang tidak dapat diperjualbelikan. 

Hanya karena seseorang belum menikah, lantas bukan berarti hidupnya tidak bahagia.

Orang bilang, alasan orang-orang bertanya itu karena mereka peduli. Jika memang iya, bukankah ada cara lebih bijak dengan mendoakan?

Orang bilang, alasan bertanya karena mereka ingin kita juga segera berbahagia. Padahal nyatanya, ada banyak cara menjadi bahagia tidak hanya karena sesegera mungkin menikah.

Buat gue, bagian tersakitnya bukan hanya karena dianggap gak laku ditanya terus-menerus kapan nikah, tapi karena semua usaha yang gue lakuin dari lanjutin sekolah sambil kerja dan harus pulang pergi sejauh total 70km lebih, demi kelak mampu menjadi Ibu yang cerdas yang dapat anaknya banggakan, merangkak buat usaha demi kelak mampu menjadi Ibu yang dapat memberikan pandangan lebih luas untuk anaknya, sampai usaha gue menahan dosa yang timbul agar dapat menjadi anak yang tidak memberatkan dosa orang tua, dianggap sia-sia.

Karena ternyata, ya yang terpenting secepatnya laku dan nikah 👋😒 

Kamis, 09 Februari 2017

Merindumu

0 komentar

Ah~ lagi-lagi kutulis sesuatu tentangmu, sesuatu untukmu. Sepertinya aku mulai (meng)gila (tentangmu) lagi. Sebelumnya, berjanjilah kamu akan menganggap tulisan ini bukan tentangmu, tulisan ini bukan untukmu, sekalipun kepalamu membesar mengetahui aku masih menggilaimu.

Kamu tau? Setelah yang kamu lakukan kala itu, aku bahkan masih menantimu. Tidak. Aku tidak sedang menanti dirimu membawa hatimu untukku, sudah lama aku menyerah untuk itu. Aku hanya sedang menanti kamu bercerita di depan rumahmu. Jika saja kamu tau sudah berapa ratus kali aku mengunjungi rumahmu. Berharap ada cerita baru di depannya. Sayangnya harapku tentangmu selalu sia-sia.

Kamu tak perlu memintaku berhenti berharap tentangmu. Sudah ku lakukan sejak lama. Hanya saja, aku masih belum rela mengenyahkanmu dari akar pikiranku. Mengeja namamu masih menjadi satu kesukaanku. Walau tak lagi dapat ku temukan dimana kamu.

Sudahlah. Aku hanya berharap kamu baik-baik saja. Aku berdoa agar semua bucket listmu segera terwujud. Semua. Termasuk menikah dengan wanita sholehah, cantik, cerdas dan kaya raya kalau bisa anak pejabat negara itu. :)

Satu yang ku pinta, tetaplah bercerita. Tak ada yang tau, ceritamu dapat menjadi segaris senyum seseorang.

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template