Minggu, 27 November 2016

Tentang Visa Jepang

0 komentar
Halo! Cinderlilaa datang lagi. 

Oh iya, sebelumnya mau ngasih tau kalau cinderlila.blogspot.com kini berubah menjadi cinderlila.com 😉 semoga dengan perubahan nama ini, makin banyak yang berkunjung dan makin sering nulis yang bermanfaat juga.

Okay, kali ini mau membagi pengalaman tentang pembuatan visa Jepang. Dua minggu lalu, tepatnya 15-20 November 2016 gue mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Jepang—Nagoya tepatnya. Semuanya serba mendadak dan gue berangkat seorang diri. Tapi, alhamdulillah semuanya lancar dan menyenangkan. Seperti yang diketahui sebelumnya, kalau passport gue itu cuma passport 24 halaman, yang selalu bikin gue deg-degan setiap pengajuan visa.

Pengajuan visa Jepang menurut gue lebih simple dari visa Korea Selatan. Persyaratan dan biayanya pun lebih ringan, selain itu kemungkinan approved nya juga lebih besar—well, just my opinion. Jadi syaratnya apa aja nih untuk apply visa Jepang? Kalian bisa cek di situs ini, tapi gue akan merinci apa saja yang gue siapkan.

1. Passport Asli
Dalam semua pengajuan visa di negara manapun, passport asli yang masih berlaku sekurangnya enam bulan adalah wajib. Berbeda dengan visa Korea Selatan yang mengharuskan memberikan fotocopy halaman passport yang telah terisi, Jepang tidak perlu.

2. Fotocopy KTP

3. Formulir Permohonan Visa
Kalian bisa download formulir tersebut di sini. Jika kalian ingin meminta contoh formulir yang telah gue isi, silahkan tinggalkan komentar dengan email kalian ya. Oh iya, formulir visa ini harus dilengkapi dengan foto terbaru kalian dengan latar belakang putih dan ukuran 45mm x 45mm.

4. Tiket Pesawat Pulang-Pergi
Pihak kedubes Jepang mengharuskan kalian memiliki tiket pesawat pulang pergi ke Jepang dan ini hukumnya wajib dilampirkan.

5. Bukti Konfirmasi Penginapan
Ini tidak tertulis pada persyaratan, tapi gue melampirkan. Dan jika kalian belum pasti akan menginap dimana, kalian bisa membooking penginapan melalui booking.com yang tidak memerlukan pembayaran in advance dan bisa dibatalkan tanpa ada cancelation fee.

6. Itinerary
Selain formulir visa, kalian juga harus download form itinerary atau jadwal perjalanan pada web ini. Tips dari gue sih, itinerary yang dibuat harus juga sesuai dengan jumlah saldo pada rekening koran kalian. Jangan sampai saldo kalian misalnya hanya 5 juta tapi di itinerary kalian tulis Tokyo – Osaka – Nagoya, karena ini juga akan menjadi pertimbangan pihak kedubes apakah keuangan kalian mampu mengcover semua biaya hidup selama di Jepang. 

7. Rekening Koran
Rekening koran tiga bulan terakhir juga wajib hukumnya jika kalian berpergian menggunakan dana sendiri dan tidak disponsori siapapun. Jumlah dana pada rekening koran tidak ditentukan berapa nominalnya namun akan lebih baik jika dana yang kalian miliki dapat mengcover biaya hidup kalian selama di Jepang. Pada saat pengajuan, jumlah dana yang gue miliki saat itu tidak lebih dari dua digit lebih sedikit, dan itupun terbagi pada dua rekening dengan bank yang berbeda. Jadi pada saat apply, gue menyertakan dua rekening koran—masing-masing untuk tiga bulan. Untuk BCA, jika kalian punya e-banking kalian bisa print langsung rekening koran kalian dan meminta pengesahan dari bank. Untuk CIMB pun gue print langsung dari cimbclicks tanpa meminta pengesahan dari bank.

8. Surat Pernyataan Kantor
Surat ini menyatakan bahwa kalian adalah karyawan di perusahaan tersebut dan menjamin bahwa kalian akan kembali ke Indonesia. Jika kalian membutuhkan contoh surat ini, tinggalkan komentar dengan email kalian ya.

9. Kartu Keluarga dan Akta Lahir
Diperlukan jika kalian berpergian dengan keluarga atau dibiayai oleh keluarga, dokumen ini dapat membuktikan hubungan kalian. Namun jika kalian berpergian seorang diri dan membiayainya sendiri, ini tidak diperlukan. Untuk jaga-jaga, dibawa saja asli dan fotocopy nya.

Itu saja sih dokumen yang gue sertakan saat pengajuan visa Jepang. Untuk pengajuan visa Jepang sendiri, kalian bisa datang ke Kedubes Jepang pada jam 9 – 12 siang. Sebelumnya, pastikan kalian apply visa Jepang sesuai dengan wilayah yang sudah ditentukan oleh Kedubes Jepang. Sehingga tidak ada penolakan pada saat pengajuan.

Berbeda dengan visa Korea Selatan yang mengharuskan kalian membayar terlebih dahulu, visa Jepang kalian bayar nanti setelah visa sudah diterbitkan. Jadi, hari pertama kalian hanya akan memberikan dokumen-dokumennya. Pihak Kedubes akan memberikan kalian receipt dan memberitahu kapan kalian harus kembali lagi untuk mengambil visa. Waktu yang diperlukan biasanya 4 hari kerja. Dan pada saat pengambilan visa, kalian diharuskan menyiapkan uang sebesar Rp 330.000. Untuk waktu pengambilan visa yaitu pada hari kerja jam 1 – 3 siang.

Selama dokumen yang kalian ajukan lengkap dan tidak ada catatan kriminal, visa Jepang dapat kalian dapatkan. Apalagi sekarang jika passport kalian sudah E-Passport, kalian dapat mengajukan visa waiver untuk berkali-kali kunjungan selama beberapa tahun.

Itu aja sih yang mau gue bagi kali ini. Untuk pengalaman selama di sana, soon akan gue tuliskan di sini. Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan hubungi via komentar ya. Semoga pengajuan visa Jepang kalian lancar!


Salam,
cinderlilaa 👰


Update :
* Per November 2017 (CMIIW) pengajuan Single Entry Visa Jepang harus dilakukan di VFS yang berada di Lotte Shopping Avenue. Di Kedutaan Jepang Jakarta hanya menerima pengajuan Visa Waiver khusus pemegang E-Paspor.

Jumat, 23 September 2016

Cinderlila; Dan Paspor TKI

0 komentar
Halo! Cinderlila is back!!

Yeay! Akhirnya sekarang akan bisa sering-sering nulis karena skripsi akhirnya selesai!! Dan kali ini gue mau bahas tentang paspor 24 halaman. 

Paspor yang kata orang banyak—termasuk petugas Imigrasi—adalah paspor TKI. Yang setiap kita mau buat mereka—petugas Imigrasi—akan menakut-nakuti kita dengan bilang “Ini paspor TKI, nanti kamu gak bisa masuk lho buat liburan.” 

Itu lah yang gue alami ketika 3 lalu gue memutuskan untuk bikin paspor 24 halaman. Alasan gue akhirnya apply untuk paspor 24 halaman karena saat itu gue mikir, gak bakalan habis itu halaman paspor selama 5 tahun buat gue. Dengan keadaan gue yang baru aja kerja 1 tahun dan gaji seadanya, mau kemana sih gue 5 tahun ke depan? Bisa ngelilingin Asia Tenggara aja gue seneng. Makanya daripada sayang itu halaman paspor gak kepake, mendingan gue bikin yang 24 halaman toh hak dan kedudukannya sama menurut web Imigrasi —kalian bisa cek langsung di webnya.

Jadilah, saat itu gue apply paspor 24 halaman via online di web Imigrasi. Setelah menyelesaikan pengisian data dan pembayaran di bank, gue datang ke Imigrasi Depok sesuai dengan tanggal yang ditentukan dengan membawa semua persyaratan yang ditentukan. Sesampainya di Imigrasi Depok dan masukin semua dokumennya, kemudian berkas dicek dan gue dipanggil untuk sedikit interview dan foto, petugas Imigrasi tersebut kemudian ngomong gini,

Petugas Imigrasi: “Mbak, mau bikin paspor 24 halaman?”

Gue: “Iya, Pak.”

Petugas Imigrasi: “Mbak, paspor 24 halaman itu untuk TKI. Nanti Mbak gak bisa masuk lho ke negara-negara tertentu.”

Gue: “Kata siapa pak paspor 24 halaman itu sekarang masih untuk TKI? Bapak kan petugas Imigrasi ya, seharusnya bapak tau dong kalo di web Imigrasi itu ditulis bahwa paspor 24 dan 48 halaman itu hak dan kedudukannya sama.”

Petugas Imigrasi: “Iya sih mbak sekarang udah sama tapi ada beberapa negara yang belum tau.”

Gue: “Nah itu bapak udah tau. Kalau pun beberapa negara belum tau, itu tugasnya siapa untuk ngasih tau?”

Setelah gue ngomong gini, petugasnya agak bete mungkin kesel gue jawab mulu kali ya, tapi toh gue bicara bener kan?

Petugas Imigrasi: “Iya tapi tetep aja mbak kita gak mau ya bertanggung jawab kalau mbak gak dikasih masuk ke negara tertentu.”

Gue yang dengernya seketika kesel. Lho lho lho!?!?!? Sama warga negaranya sendiri aja, pemerintahan kita gak mau bertanggung jawab, gak mau melindungi lho. Tadinya mau gue omongin kayak gitu tapi daripada gue makin ribut sama ini petugas jadinya gue gak jadi ngomong.

Gue: “Emang negara mana sih pak yang gak ngebolehin?” tanya gue sinis.

Petugas Imigrasi: “Ya, kayak Amerika, Eropa, Australia gitu mbak.”

Gue: “Saya gak bakal ke sana juga pak dalam waktu 5 tahun ke depan. Belum mampu. Bapak emang mau bayarin saya? Udah saya tetep bikin yang 24 halaman, Pak.”

Petugas Imigrasi: “Yaudah kalo mbak ngeyel. Tapi mbak harus bikin surat pernyataan di atas materai kalau tidak akan menyalahkan Imigrasi Depok kalo mbak dilarang masuk.”

Gue: “Heran, sama warga sendiri aja gak mau melindungi. Iya saya bikin pak tenang aja, saya gak akan nyalahin.”

Dan akhirnya kalimat tersebut terucap dari mulut gue. sumpah saat itu gue kesel bukan main. Bener-bener kesel, sedih, kecewa campur lah jadi satu. Untuk hal yang kayak gini aja, ketauan kan kalau negara kita birokrasinya jelek? Antara web Imigrasi aja sama petugas Imigrasi sendiri gak sinkron. Jadi gue ngerti deh kenapa sampe beberapa negara yang belum tau bahwa mulai 2010, paspor 24 halaman itu sudah bisa untuk semua WNI juga hak dan kedudukannya sama dengan paspor 48 halaman. Yang membedakan hanya jumlah halaman dan harga saat pembuatannya. Tapi 1 tahun setelah gue buat paspor itu, beredar kabar kalau per 2020 itu paspor biasa ditiadakan dan menjadi e-paspor.

Setelah semua drama dengan petugas imigrasi itu, 3 hari kemudian paspor gue jadi. Dan sampai tulisan ini di tulis, Alhamdulillah gue bisa masuk ke 6 negara tanpa ada pencekalan ataupun wawancara di Imigrasi negara-negara tersebut. Ya memang sih enam negara tersebut hanya negara di Asia dan cuma 1 yang memerlukan apply visa terlebih dulu.

Ini dia paspor TKI gue hahahaha


Enam negara tersebut adalah Malaysia, Singapura, Hongkong, Macau, Korea Selatan dan Thailand. Gue masuk ke negara-negara tersebut tanpa dipersulit, tanpa ada pertanyaan “Ini kan paspor TKI” (pas gue mau ke Singapura, Mas Imigrasi di Bandara Soekarno Hatta malah yang ngenye begitu tuh, “Mbak kok paspornya paspor TKI?” yang gue jawab cuma dengan tatapan sinis.) Dan bahkan bisa lolos apply visa untuk Korea Selatan.

Jadi, kalau sekarang masih bisa bikin paspor 24 halaman dan kalian pun berpikir hal yang sama kayak gue—gak bakal habis itu paspor—jangan takut untuk bikin paspor 24 halaman. Jangan takut gak bisa berpergian ke negara yang sudah pernah gue kunjungi itu.

Dan Maret 2017 insyaallah gue akan ke China, doakan tidak ada halangan juga ya.


Sabtu, 30 Juli 2016

Karena Hanya Aku Yang Meminta

0 komentar
Pernah ada satu nama
Yang kuucap dalam setiap doa 
Yang selalu kugantungkan
Tanpa sedikit pun rasa bosan
Yang tak pernah letih
Aku ceritakan pada-Nya 
Bagaimana aku ingin ia terpilih
Tuk menyatukan hati yang dua

Detik menit jam berlalu
Hari bulan tahun berganti
Tak ada yang berubah
Dua hati tak jua menyatu
Aku bertanya dalam hati

Ini kah pertanda?
Bahwa Ia tak mengijinkan kita bersama
Atau Ia tak terima
Karena hanya aku yang meminta

Minggu, 22 Mei 2016

Back to September, Kumpul Kota Depok

0 komentar
Hai! Cinderlila datang lagi membawa sebuah cerita~~ hahaha sebenernya ini cerita udah lama udah terpendam 8 bulan—1 bulan lagi udah jadi dedek bayik, abaikan—tapi kayaknya gak ada yang namanya basi ya buat sebuah pengalaman menyenangkan. Jadi, malam ini daripada cinderlila cuma bengong—pangeran dateng juga gak ada—maka ijinkan aku bercerita.

Mari naik lorong waktu ke delapan bulan lalu.

20 September 2015.

Hari ini buat gue termasuk satu hari dari 365 hari selama 2015 yang sangat gue syukuri. Jadi hari ini, gue mewakili Depok jadi Host untuk Kumpul Kota Depok. Acaranya gak besar, yang ikut juga gak banyak tapi dari sini gue banyak dapat pengalaman baru yang berkesan banget dan kenal teman-teman baru. Mungkin kalian bingung apa sih Kumpul Kota?


Kumpul Kota adalah suatu gathering dari #30HariKotakuBercerita untuk para pesertanya ditiap kota masing-masing. Kalau kalian belum tau apa itu #30HariKotakuBercerita, gue jelasin sedikit. #30HariKotakuBercerita adalah suatu kegiatan menulis selama 30 hari selama bulan September 2015 yang diadain oleh @PosCinta. @PosCinta sendiri sudah hampir 5 tahun mengadakan acara menulis #30HariMenulisSuratCinta setiap bulan February. Dan September ini temanya beda, kita harus menulis tentang kota kita sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Selain menulis, @PosCinta juga mengadakan gathering untuk para peserta disetiap kotanya yang diakomodir oleh pesertanya juga secara suka rela. 

Karna waktu itu gue berpikir, kayaknya bakal asik dan seru, suka rela lah gue mendaftar menjadi Host untuk Kumpul Kota Depok. Yang ternyata benar-benar terpilih. Benar-benar seru kah menjadi Host Kumpul Kota Depok? Seru! Tapi juga pusing. Ya gimana engga, karna tujuan acara ini agar kita lebih mencintai kota kita masing-masing dengan menjelajahi sejarah kota kita masing-masing. Nah lho! Masalah gak tuh? Gue dari lahir sampai 24 tahun—sekarang 25 oke fine—emang besar di Depok. Tapi masalahnya gue gak tau sejarah apapun tentang Depok. Emang ada tempat bersejarah di Depok? Yang gue tau cuma Mall di sepanjang Margonda.

Sempat pusing bingung stress gue mikirinnya. Googling sana sini, tanya teman-teman kali aja ada yang tau dimana tempat bersejarah di Depok. Sampai akhirnya ada seseorang yang mention ke twitter gue kalau dia dengan senang hati mau ngebantu. Ah seneng banget rasanya! Dari situ lah gue kenal sama yang namanya Nidi. Dia juga peserta #30HariKotakuBercerita dari Depok. Bertemulah kita, berdiskusilah kita dan bingunglah kita.

Alhamdulillah nya, di group Host Kumpul Kota saat itu Host Kumpul Kota Jakarta ngasih link tentang walking tour Depok. Googling lah gue tentang walking tour itu, tapi hasilnya yang ngadain walking tour itu udah bubar. Berbekal nyontek ide mereka, gue dan Nidi pun nge-arrange sendiri walking tour Depok—yang kemudian kita namakan Walking Tour Jelajah Depok. Kita gak berdua saat itu, ada Tika yang bantu bikin e-flyer Walking Tour Jelajah Depok dan Mutia yang bantu ngeguide selama acara berlangsung.



Sampailah pada hari H. 20 September 2015.


Sebagian peserta Walking Tour Jelajah Depok.
Setelah foto ini diambil, gubraaaakkkkkk cinderlila jatuh~~~ kecengklak dong sis hiks
Meeting point walking tour kita hari itu adalah Stasiun Depok Lama dengan peserta kurang lebih 15 orang, kita memulai walking tour tepat pukul 9 pagi dengan tujuan pertama yaitu Rumah Sakit Harapan. Rumah Sakit Harapan ini dulunya tempat bersejarah di Depok—ketika Belanda masih jadi tuan tanah. Di belakang rumah sakit tersebut dulunya merupakan gudang penyimpanan padi bagi para budak. Sedangkan di depan Rumah Sakit Harapan ini ada tugu bernama Tugu Cornelis Chastelein—ia merupakan orang Belanda yang datang ke Indonesia untuk bekerja pada VOC sekitar abad 16 yang setelah pensiun ia membeli tanah di pinggiran Jakarta yang sekarang bernama Depok dan mempekerjakan kurang lebih 150 budak dari berbagai wilayah.


Sayangnya Tugu Cornelis Chastelein tersebut sempat beberapa kali terhenti pembangunannya karna Pemkot Depok melarang pembangunan tugu tersebut karna beberapa alasan—salah satu alasannya karna Pemkot Depok menganggap bahwa Cornelis Chastelein adalah penjajah yang tidak patut dikenang.

Oh iya sebelum bercerita lebih jauh, kalian tau gak Depok itu ternyata adalah sebuah akronim?

DEPOK, De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Itulah asal muasal nama Depok. Dulu kala, Depok dimaksudkan untuk menjadi Padepokan Kristiani oleh Cornelis Chastelein.



Tujuan walking tour selanjutnya adalah Gereja Immanuel. Tapi sebelum ke Gereja Immanuel, kita sempat mampir ke salah satu rumah tua yang masih ditempati. Bapak pemilik rumah berbaik hati untuk menceritakan kalau rumah tersebut dulunya adalah rumah Belanda yang ketika kemerdekaan diserahkan kepada negara. Ia juga bercerita bahwa bentuk rumah tidak pernah ia ubah.



Di Gereja Immanuel, kita gak bisa masuk karna hari ini minggu dan sedang ada kebaktian. Sebelumnya, ketika survey lokasi, gue dan Nidi sempat masuk ke dalamnya. Di pintu-pintu samping gereja terdapat 12 marga Depok. Jangan kaget! Depok juga punya marga lho. Apa aja marga-marganya?

Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense dan Zadokh. Tapi sayangnya, marga Zadokh sudah tidak ada penerusnya karna keluarga ini tidak memiliki anak lelaki.

Dari Gereja Immanuel, kita lanjut ke YLCC yang letaknya gak jauh dari Gereja Immanuel. YLCC atau Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein adalah suatu yayasan yang didirikan oleh orang-orang asli Depok. Di sini kita diberi tau tentang sejarah Depok lebih jauh oleh Bapak Ferdi. Gue sebenernya gak nyangka banget beliau bisa meluangkan waktunya untuk jelasin sejarah Depok secara langsung, karna pas janjian by phone 1 minggu sebelum hari ini, awalnya beliau menolak karna ini adalah hari libur dan YLCC tidak buka. Tapi kemudian setelah dijelaskan maksud tujuan kita adalah untuk mengenal Depok lebih jauh, Bapak Ferdy & Ibu Suzana menerima kita dengan begitu hangat.


Di YLCC terdapat berbagai peninggalan-peninggalan Belanda terdahulu. Di kursi-kursi yang sedang kita duduki itu, dibelakangnya terdapat 12 nama marga Depok seperti yang ada di Gereja Immanuel. Bapak Ferdy & Ibu Suzana mengungkapkan bahwa mereka senang sekali masih ada yang ingin tau dengan sejarah Depok. Mungkin kalian tau nya umur Depok itu 18 tahun, tapi ternyata umur Depok sudah lebih dari 300 tahun, tapi lagi-lagi sayangnya Pemkot Depok tidak setuju untuk menghitung umur Depok dari awal sejak Cornelis Chastelein mendirikan Depok.

Peserta Walking Tour Jelajah Depok dengan Bapak Ferdy dan Ibu Suzana dari YLCC
Kalau sekarang ini Depok itu panas dan suka banjir, for your information, dulunya Depok merupakan wilayah yang sangat subur dan memiliki sistem pengairan yang canggih. Depok dulunya juga merupakan penghasil padi. Gak ada tuh yang namanya kelaparan dan kebanjiran di Depok. Pas denger ini, gue agak sedih sih. Cukup lama juga kita di YLCC, Bapak Ferdy dan Ibu Suzana menjelaskan begitu detail tentang Depok.

Tujuan selanjutnya dari walking tour Jelajah Depok adalah piknik asik di Lembah Gurame. Hayooo tau gak kalian kalau Depok juga punya Taman Kota? Ya walau saat ini baru punya Lembah Gurame, tapi ini buat gue adalah kemajuan. Oh iya, kalau sekarang ini sepenglihatan gue, Pemkot Depok lagi gencar bikin taman kota baru. Semoga segera bisa kita nikmati ya.
Lembah Gurame ini ada di Jalan Gurame Depok 1. Kalau mau ke sini, kalian bisa naik angkot 01 dari terminal atau stasiun Depok dan turun deh di Lembah Gurame. Lembah Gurame akan lumayan ramai kalau weekend. Gue—ketika masih tinggal di Depok 1—sering banget olahraga pagi hari minggu di sini.

Piknik Asik di Lembah Gurame
Di sini, kita duduk-duduk sambil cerita-cerita dan nikmatin Jus Belimbing. Kalian tau kan kalau Belimbing itu Ikon Kota Depok—yang walau terlupakan? Sebenarnya, awalnya gue kepengen banget walking tour ini diadain di Argowisata Belimbing di Sawangan Depok. Tapi pas gue survey ke sana, ternyata sudah tinggal nama. Bangkrut sis L sedih gue beneran sedih berhari-hari hiks… 

Karna keinginan gue buat piknik di Kebun Belimbing masih kuat, gue pun beberapa kali survey ke Kebun Belimbing yang ada di Depok. Tapi apa hasilnya? Nihil sis. Kebun Belimbing di Depok sekarang rata-rata diurus atau punya orang pribadi atau disewakan ke Koperasi Belimbing, Pemkot Depok gak ada punya lahan untuk membudidayakan Belimbing—gue bahkan sampai ke Ketua Asosiassi Belimbing Depok buat nyari tau ini. Pemkot Depok gak pernah benar-benar mengurus Ikon nya itu. Gue sedih lagi doooonggg pas tau. Yampun ini tuh sedihnya lebih sedih dibanding ditinggal mantan yang baru beberapa bulan putus eh nikah.



Buat gue, jadi Host Kumpul Kota Depok ini berkesan banget. Kalau bukan karna acara ini, gue gak akan tau banyak sejarah tentang kota kelahiran gue, kota yang ngebesarin gue, kota dimana orang yang gue sayang tinggal, kota yang menjadikan gue, Dalila, seperti saat ini. Ibarat Ibu, Depok pun berandil besar dalam membesarkan gue. Diluar dari kekurangannya, Depok masih jadi tujuan gue pulang. Depok masih jadi satu-satunya yang gue kangen ketika berada di kota lain.

Kamis, 19 Mei 2016

Cinderlila; Ulang Tahun!

0 komentar

Happy birthday, dalila nurqifthiyyah!

Iya jadi senin kemarin, dalila nya bertambah usianya. Berkurang lagi jatah hidupnya. Dua puluh lima tahun sudah. Gak kerasa banget, kayaknya baru aja kemarin gue tiup lilin di TK, baru aja kemarin gue terima KTP, lalu sekarang usia gue udah 25.

Lalu apa yang udah gue capai di usia yang kata orang golden age ini?

Kalau diliat kasat mata sih jawabnya gak ada. Gue masih gini-gini aja. Kuliah masih belum lulus, masih berstatus karyawan bukan mengkaryawankan dan satu yang direpotin banyak orang; masih single.

Iya, gak ada yang bisa dibanggain. Gitu juga awal pemikiran gue ketika 16 mei 2016 datang. Tapi, setelah dirunut lagi satu tahun belakang, ternyata ada banyak hal yang harus gue syukuri. Terlepas dari tiga hal tadi.

Satu tahun ini, ada banyak banget kenangan indah, pengalaman baru dan teman-teman baru yang gue dapet. Semua itu buat gue berkah yang akan selalu gue syukuri. Kalo dipikir lagi, gue gak akan pernah nyangka semua itu terjadi dalam satu tahun ini. Allah baik banget.

Lalu, apa yang gue harapin di usia 25 ini? Banyak. Tapi satu hal yang pasti, gue cuma berharap gue bisa lebih banyak bersyukur atas semua yang udah gue punya. Dibanding meminta lebih, gue cuma berharap semua yang udah ada bisa bikin gue jadi a better qifthi.

Let's face this year with positive energy!

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template