Kamis, 03 September 2015

Kenapa Cinderlila?

0 komentar

Jadi gini, per tanggal 3 September 2015 pukul 11:07 WIB, alamat blog yang tadinya http://dnqifthi.blogspot.com berubah jadi http://cinderlila.blogspot.com. Dan ini postingan pertama setelah alamat blog berubah. Postingan ini bakal sedikit jelasin kenapa milih nama "Cinderlila" buat alamat blog gue.

Mungkin, setelah nama blog ini berubah jadi Cinderlila, bakal ada (walau gue berdoa gak ada) yang mengerutkan kening sambil bertanya, "Apaan sih nama blognya, sok eksis banget," atau "Yaelah lebay banget, berasa cantik pake nama cinderlila."

Ya, walaupun gue cuma cewek berparas seadanya. Yang gak pantes disejajarkan sama dengan nama-nama princess macam Cinderella. Eh tapi kan gue gak pake nama Cinderella. Gue pake nama Cinderlila.

Lalu kenapa Cinderlila?

Biar eksis?
Ada benarnya juga. Alamat blog gue sebelumnya--dnqifthi--terdiri dari 6 huruf konsonan dari 8 huruf yang ada. Ribet. Gue juga kadang mesti spelling berkali-kali biar orang gak salah alamat. Dan kayaknya buat sebuah nama blog, nama blog gue dulu kurang menjual. Ya walaupun emang gue gak ngejual apa-apa sih. Juga, setiap orang yang join ke media sosial, apapun itu, pasti intinya juga biar eksis. Jadi ya, gak ada salahnya blog ini ganti nama.

Sebenernya, di tahun 2013 gue pernah bikin tulisan berjudul "Cinderella Cinderlila". Dalam rangka proyek #30HariMenulisSuratCinta. Bukan #30HariMencariCinta lho ya. Jadi, sebenernya nama cinderlila udah lama ada di benak gue. Cuma gak pernah kepikiran buat jadiin nama blog. Baru sekarang ini, pas CNBlue ngerilis teaser untuk album terbarunya, dengan nama Cinderella, gue jadi kepengen ganti nama blog.

Terus, emang ada yang sama dari Cinderella dan Cinderlila?

Hm, kalau untuk urusan tampang sih jelas beda. Apalah artinya aku sama princess kesayangannya Pangeran ini. Princess yang bisa bikin Pangeran jatuh cinta pada pandangan pertama, yang bisa bikin Pangeran turun tangan langsung mencari keberadaannya dengan hanya bermodal sepatu. Princess yang bisa bikin Ibu dan saudara tirinya iri akan kecantikannya.

Tapi, kalau urusan menanti kedatangan Pangeran, kita jelas sama! Layaknya Cinderella yang hanya bisa menanti Pangerannya datang, gue pun sama. Kita pun sama-sama dibantu Ibu Peri. Bedanya, Ibu Peri Cinderella membantu dengan sihirnya, Ibu Peri Cinderlila membantu dengan doanya. Yang selalu jadi pintu dari setiap hal baik yang gue rasakan.

Dan akhirnya, kalau Cinderlila udah hidup bahagia dengan Pangerannya. Cinderlila masih harus sabar nunggu Pangerannya datang, pada waktu yang tepat. Tenang aja, Pangeran. Gak usah buru-buru. Cinderlila yang ini, gak akan berubah walau udah jam 12 malam kok. :)

Rabu, 02 September 2015

Belimbing; Ikon Yang Terlupakan

0 komentar
Sebelumnya, maafkan diriku yang di hari pertama nulis #30HariKotakuBercerita udah bikin tulisan semacam ini. Tapi, ya beginilah adanya.

Ehem ehem....
Baiklah, cerita dimulai.

Ikon resmi Kota Depok memang bukan bangunan seperti kebanyakan ikon kota lainnya. Walau kini, jika mendengar kata Depok mungkin banyak dari kita yang akan langsung teringat oleh Masjid Dian Al Mahri atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Kubah Emas. Namun kali ini, melalui #30HariKotakuBercerita ini gue ingin menceritakan tentang Belimbing Dewa.

Belimbing Dewa, ikon resmi Kota Depok yang sudah ditetapkan sejak tahun 2007 oleh Bapak Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail itu memang sangat tenar. Bahkan menurut yang gue baca, ketenaran buah berbentuk seperti bintang berwarna kuning itu sudah sampai ke Istana Negara. Mantan Presiden RI, Pak SBY juga sering sekali menyajikan buah yang memiliki vitamin C dan A yang cukup tinggi itu ke tamu negara sebagai hidangan pencuci mulut. Belimbing Dewa dari Depok pun pernah menjadi juara dunia dalam kontes Internasional di Singapura sebagai buah eksotik, terbesar dan terberat di dunia pada tahun 2008. Belimbing Dewa dari Depok berhasil mengalahkan belimbing yang berasal dari Australia, Belanda dan Malaysia. Hebat, kan?

Tidak hanya itu. Bahkan menurut Ketua Asosiasi Belimbing Depok, Bapak Nanang Yusup, banyak warga asing mulai dari Malaysia, Singapura, Jepang, Thailand dan beberapa warga di timur tengah meminta untuk diajarkan berbudidaya belimbing. Karena mereka menilai, belimbing dewa memiliki kualitas yang baik. Belimbing dewa juga memiliki keunikan, yaitu bentuknya yang meliuk tidak lurus seperti belimbing lainnya.

Pertumbuhan perkebunan belimbing di Kota Depok pun pernah begitu pesat. Terdapat lebih dari 27.000 pohon belimbing di Kota Depok yang mampu menghasilkan 3.000 ton per tahun. Pertumbuhan belimbing di Kota Depok pun banyak dikembangkan disepanjang kelurahan Tugu, Pondok Cina, Sawangan, Pancoran Mas, dan Kelapa Dua. Bahkan di kelurahan Pasir Putih, terdapat Agrowisata Belimbing dan Pusat Koperasi Pengembangan dan Pengolahan Belimbing Dewa yang didirikan oleh Pemkot Depok guna mengembangkan Belimbing Dewa juga sebagai tempat wisata di Depok. Menarik, bukan?

Tapi sayangnya, sekarang semua tidak lagi semenarik itu. 

Menurut berita yang gue baca, perlahan keberadaan belimbing semakin menyusut. Yang menyedihkan, lebih dari 36 hektar lahan belimbing beralih fungsi menjadi pemukiman, sejak 5 tahun terakhir. 

Dan begitulah kenyataan yang gue dapatkan. Setelah dipercaya menjadi Host Depok untuk Kumpul Kota, gue mencari ide untuk lokasi kegiatan tersebut. Tercetuslah ide untuk mengadakan agrowisata belimbing. Gue dengan semangat yang begitu tinggi, mendatangi lokasi agrowisata belimbing di keluarahan Pasir Putih tersebut. Berharap menemukan perkebunan belimbing yang luas dan rindang. Dan semangat gue semakin menjadi ketika menemukan tugu bertuliskan "Selamat Datang Primatani Kota Depok Agrowisata Belimbing."


Namun sayang, harapan dan semangat yang gue yang begitu tinggi mesti hancur berkeping-keping. Menerima kenyataan bahwa lahan yang dulu merupakan perkebunan belimbing sudah beralih menjadi pemukiman penduduk. Pusat Koperasi Pengembangan dan Pengolahan Belimbing Dewa pun sudah kosong, hanya bersisa plang tua yang sudah berkarat.

Sedih? Banget!

Gue, sebenarnya salah satu warga Depok yang mungkin hanya cuma 'numpang' hidup di Depok sejak lahir. Gue, sebelumnya gak pernah sepeduli ini, bahkan sebenarnya gue baru tau kalau ada pusat pengembangan belimbing itu di Depok. Buat gue, asalkan gue masih bisa hidup dengan damai di Depok, gak masalah buat gue mau Depok berubah sedrastis apapun, mau ikonnya apa juga terserah deh. Tapi kali ini beda. Seketika gue sedih menerima kenyataan itu. Kenyataan bahwa belimbing, yang digaungkan menjadi ikon Kota Depok terlupakan. Bahkan kehadirannya seakan tak diperdulikan dan mampu begitu saja digantikan.

Karena rasa penasaran, masa iya di Kota Belimbing tapi gak punya kebun belimbing luas yang bisa dijadikan tempat wisata seperti di Malang yang banyak memiliki kebun apel, gue pun mencari informasi lebih jauh dan menemukan Koperasi Belimbing di Pancoran Mas, Depok. Dan di sana gue memang gak berhasil menemui dan bertanya langsung tentang belimbing ke Bapak Nanang Yusup sebagai Ketua Asosiasi Belimbing Depok. Tapi di sana gue disambut dengan hangat oleh pengurus koperasi tersebut. 

Mereka bercerita, bahwa rasa sedih yang gue rasakan ketika menemui kawasan agrowisata belimbing berubah menjadi perumahan pernah mereka rasakan. Dan bahkan sampai saat ini, rasa sedih itu masih mereka rasakan. Di sana pun gak gue temui kebun belimbing yang luas seperti kebun-kebun teh di Puncak. Kebun belimbing yang mereka punya, ada di tengah-tengah pemukiman penduduk, yang tanahnya pun tanah milik keluarga. "Sekarang kita paling cuma bermitra sama petani petani kecil lainnya mba. Itu pun kebun milik pribadi mereka. Kalau gak gitu, gak bisa memenuhi permintaan pasar," Jelasnya. "Yang kami butuh sebenernya cuma dibantu pembebasan lahan sama pemerintah mba. Kami siap kok ngolahnya," Jelasnya lagi. Dengan memberanikan diri gue bertanya, apakah selama ini Pemkot Depok memberikan bantuan, lalu mereka hanya tersenyum,,.. tipis.

Melalui tulisan ini, gue menggantungkan harap dan juga doa. Agar Depok dapat menjadi kota yang selalu peduli akan ikonnya, akan warganya, akan kelestarian lingkungannya. Juga semoga, Pemkot Depok dan masyarakatnya (gue pun) mampu bekerja sama menjadikan Depok kota yang layak huni. Menjadikan Depok kota yang tak kehilangan jati diri. Menjadikan Depok kota yang dapat kita banggakan sepenuh hati. Karena bagi kami, Depok adalah rumah, tempat kami pulang sejauh apapun kami pergi.

Minggu, 02 Agustus 2015

Matahari Dari Rumah Warna

0 komentar

Senin, 2 July 2007.

Pukul 03:00.

Hari ini alarmku berbunyi 2 jam lebih awal dari biasanya. Bukan karena hari ini senin dan aku sudah harus bersiap-siap kerja. Senin ini berbeda. Aku tak perlu grasa grusu berangkat lebih awal untuk bekerja. Senin ini aku sedang berada kurang lebih 442 km dari Jakarta, di Dieng tepatnya.

Aku memilih Dieng sebagai tempatku mengistirahatkan pikiran yang sudah lama berantakan isinya. Sudah kurang lebih 7 tahun aku terperangkam oleh sibuknya ibukota yang sepertinya tak pernah lelah. Lalu, mengapa Dieng? Dieng adalah tempat pertama kali orang tuaku bertemu. Dan selama 27 tahun aku hidup, belum pernah sekalipun aku menjejakkan kaki di Dieng.

Pagi ini adalah pagi pertamaku di Dieng. Senin pertamaku di tempat yang begitu damai dan sejuk ini. Aku bangun lebih pagi, tujuannya hanya satu; ingin menjadi saksi matahari terbit. Dengan persiapan seadanya, aku siapkan segala peralatan untuk mendaki Bukit Sikunir. Ini adalah pengalaman pertamaku mengejar sunrise.

Perjalanan menuju Bukit Sikunir begitu menantang. Lubang di sana sini ditambah penerangan seadanya. Namun, tak menyurutkan semangatku. Semoga aku beruntung pagi ini.

Namun kurang lebih 100 meter dari lokasi penanjakan, seorang warga lokal memberitau bahwa jalan menuju penanjakan Bukit Sikunir longsor. Huh, ternyata bukan jodohku bertemu sang matahari. Mungkin ia masih malu kehadirannya aku nantikan. Aku yang akhirnya jadi tak semangat memutuskan kembali ke penginapan.

Ditengah perjalanan, aku mampir ke sebuah warung kopi kecil dekat musolah. Menunggu adzan subuh seraya minum kopi untuk menghangatkan badan dan mengembalikan semangat. Selagi asik menyeruput kopi, konsentrasiku terpecah oleh sesosok perempuan berjilbab sederhana. Ia membawa beberapa mukena ke dalam musolah, setelahnya berlari kecil ke arahku. Ah, bukan ke arahku tapi ke arah warung kopi ini.

"Bu, pisang goreng 20 dan susu panasnya 10 ya. Aku ambil seperti biasa." Katanya lalu menyunggingkan senyum paling manis setelahnya ke arah Ibu penjual kopi. Dan ke arahku. Iya. Ke arahku.

Dengan canggung aku membalas senyumannya.

Adzan subuh pun berkumandang. Aku segera ke musolah untuk menunaikan solat. Setelahnya aku kembali lagi ke warung kopi, mengambil tas dan barang-barangku yang ku titipkan. Namun lagi lagi aku bertemu si pemilik senyum paling manis itu. Ia terlihat sibuk mengemasi pisang goreng ke dalam kantung plastik.

Aku dengan tingkat sok akrab paling tinggi memberanikan menyapanya, "beli pisang gorengnya banyak sekali." Seraya berusaha terlihat sekeren mungkin. Iya menoleh dan tersenyum. Lagi-lagi senyumnya begitu manis.

"Iya mas, untuk anak-anak." Jawabnya.

Anak-anak? Hatiku terperanga. Oh sudah punya anak ternyata. Batinku menggerutu. Ia pun pamit kepada Ibu pemilik warung dan kepadaku.

"Buat anak-anak didiknya mas pisang tadi tuh. Laras itu guru TK mas. Tiap pagi selalu pesen susu sama entah pisang atau roti bakar buat anak anaknya." Ibu warung kopi itu menjelaskan padaku. Sepeertinya si Ibu tau aku kecewa ketika si perempuan menyebut anak-anak.

"Gitu toh, Bu? Saya pikir sudah punya anak." Aku menjawab cengengesan.

"TK nya di situ mas. Cuma Laras gurunya." Ucap Ibu warung kopi seraya menunjuk ke arah rumah kecil dengan ayunan dan perosotan seadanya.

Aku memandang TK yang berpapan nama "Taman Kanak-Kanak Rumah Warna". Sungguh sangat seadanya. Aku pun pamit kepada Ibu warung kopi dan memberanikan diri untuk melihat TK itu dari dekat.

Sudah terlihat beberapa anak sedang bermain ayunan. Ini baru pukul 5:45 anak-anak ini udah dateng, rajin banget. Batinku. Sampai kemudian ada satu anak membuyarkan lamunanku.

"Mas, sedang apa? Mau jadi guru ya?"

"Heh? Um... Engga. Mas cuma numpang lewat." Jelasku.

"Eh tapi dik, memang sekolahnya masuk jam berapa? Kok jam segini udah dateng?" Tanyaku pada anak itu.

"Jam 6 Mas...."

"Iya Mas, karena saya mesti kerja jam 10. Jadi ya jam belajarnya singkat." Jelas Laras yang ternyata sudah menghampiriku atau mungkin menghampiri muridnya.

"Sebenernya gak pantes disebut TK cuma seadanya. Seadanya aja. Yang penting anak-anak ini bisa baca, menulis, berhitung dan bersosialisasi dengan baik. Saya cuma bantu seadanya." Jelasnya seraya menyunggingkan senyum lagi.

Aku terdiam mendengar penjelasannya. Kagum. Terpesona. Begitulah kiranya.

Perjalananku pagi ini sepertinya tak berujung sia-sia. Walau memang aku tak dapat melihat matahari muncul dari atas Bukit Sikunir. Tapi pagi ini aku dapat melihat 'matahari' dari Rumah Warna ini. Dari sesosok perempuan yang rela berbagi sinarnya untuk menerangi hidup orang lain. Yang kehadirannya dinanti oleh anak-anak ini tiap pagi.

Laras; perempuan pemilik senyum paling manis ini menjadi matahariku pagi ini. Dan aku rasa juga menjadi matahari untuk kesupuluh anak didiknya setiap hari.

Sehat selalu, Laras.

Salam,
Adam.





*Tulisan ini cuma fiksi. Tapi didedikasikan untuk kalian, siapapun, yang telah berbagi 'sinar' kalian untuk orang lain.*

Minggu, 14 Juni 2015

Semestamu...

0 komentar

Sudah hampir dua bulan sejak terakhir kali aku bercerita tentangmu. Padahal saat itu aku memutuskan untuk terus bercerita tentangmu agar kelak semesta tau bahwa aku sungguh sungguh menginginkanmu. Aku memutuskan untuk terus mendeskripsikan kamu agar kelak semesta tau siapa yang begitu aku inginkan.

Dua bulan berlalu namun rasanya semesta masih ragu akan kesungguhanku. Semesta sepertinya masih tak mampu mencerna pendeskripsianku tentangmu. Dan aku sepertinya kehabisan tenaga untuk bercerita. Aku sepertinya mulai kehilangan gairah untuk meminta. Aku sepertinya mulai jenuh untuk tetap berharap.

Haruskah aku berhenti bercerita, meminta dan berharap tentangmu?

Jika iya, lantas bisakah sekali saja aku meminta agar semesta rela membuatku lupa apa apa tentangmu?

Jika tidak, lantas bisakah sekali saja aku meminta agar semesta rela membuatnya tak lupa apa apa tentangku?

Kamis, 23 April 2015

Should I Give Up?

0 komentar

Hari ini kamu tak terlihat. Aku tak dapat menemukanmu dimanapun. Sepertinya kamu mulai mengurangi kemunculanmu (lagi). Sepertinya memang hanya aku yang terlalu berpikir jauh. Sepertinya memang kamu belum tau bahwa semua ini tentangmu. Tapi biarlah, anggap saja kamu sudah tau. Anggap saja kamu mendengarku setiap waktu.

Hari ini aku lelah. Sedih pula. Ingin rasanya menyerah begitu saja. Aku harus bagaimana? Menyerah atau tetap bertahan? Beri aku saran.

Ps: Aku akan bertahan sekali lagi jika kamu 'menyapaku' hari ini sekali saja.

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template