Minggu, 01 Februari 2015

Teruntuk Kamu; Selamat Berbahagia!

2 komentar

Dear kamu,

Aku mungkin seharusnya malu menulis ini. Tapi sepertinya aku akan lebih malu jika akhirnya kamu tidak tau.

Malam ini kamu tau dengan siapa aku bertemu. Sebelumnya, terima kasih tetap membiarkan kami bertemu. Terima kasih karena tidak melarang kami bertemu. Terima kasih karena kamu masih memberi sebagian untukku.

Malam ini kami bercerita banyak. Cerita yang telah lama aku pendam yang sungguh ingin aku ceritakan. Cerita yang telah lama ingin aku ketahui. Yang sebagian besar adalah tentangmu.

Dear kamu,

Akhirnya malam ini aku tau. Beberapa potong rasa yang selama ini tak bisa aku raba tentangmu kala itu. Ah, sungguh maafkan aku. Namun rasanya maafku sudah tak perlu lagi kamu dengar. Biarlah aku ucap itu tanpa kamu tau.

Malam ini aku tau semua jawaban untuk pertanyaan yang tak pernah aku ucap. Dan semoga kamu juga akan tau semua tanya yang menggerogoti habis kita.

Dear kamu,

Jangan ragu untuk selalu menjadi yang lebih, karena dengan itu kamu tak akan pernah kalah. Terima kasih karena telah mengajariku itu. Untuk menjadi yang lebih dikemudian hari. Jika beberapa waktu lalu aku menganggap aku berada jauh di depanmu, kini aku sadar bahwa aku tak pernah ada diposisi itu. Aku di depanmu hanya karna kamu telah terlebih dulu melewatiku.

Dear kamu,

Selamat berbahagia. Majulah dengan bangga dan mari bersama tinggalkan yang berbau kita. Karena malam ini aku mengerti, bahwa aku belum benar benar meninggalkan itu.

-----------------------------------------------------------------

Ps: Ah iya, aku sudah lihat foto-foto pernikahanmu. Selamat untuk itu.

Dari Aku; Februari

0 komentar

Minggu ke satu aku,

Kepada semua pengirim surat untuku,

Perkenalkan, aku Februari.
Sebelumnya terima kasih sudah menghidupi kembali kotak posku yang sudah sebelas bulan mati.

Telah ku sempatkan membaca satu persatu surat kalian. Terima kasih telah menyambut aku dengan suka cita luar biasa. Kalian membuat tugasku semakin berat! Rasanya aku harus berusaha ekstra keras untuk menemani kalian selama duapuluh delapan hari kedepan.

Aku tersanjung kalian memujiku bulan penuh cinta. Kakak dan adik-adik bulanku iri mendengarnya. Aku juga ragu mengapa kalian begitu banyak berharap cinta kepadaku. Sebenarnya, aku tak punya cinta yang cuma-cuma. Tidakkah kalian tau cinta yang aku punya juga berasal dari kalian?

Tidak tau? Ah, baiklah aku jelaskan.
Aku memang punya cinta.
Yang asalnya dari diri kalian.
Cinta yang aku punya akan semakin terlihat ketika guratan senyum kalian terukir.
Cinta yang aku punya akan semakin menguat ketika tangan-tangan kalian saling menjabat.
Cinta yang aku punya akan semakin terasa ketika pelukan kalian menguat.
Cinta yang aku punya semakin sempurna ketika hati kalian saling percaya.

Lalu,
Jika kalian meminta begitu banyak cinta padaku namun tak pernah mengukir senyum, tak pernah saling menjabat, tak pernah saling memeluk juga tak saling percaya, dari mana akan aku bagi cinta yang kalian pinta?

Dan akan aku beri tau kalian suatu rahasia, cinta itu menular! Kalian akan dengan cepatnya terjangkit cinta karna satu virus mematikan. Kalian tau? Tidak tau? Baiklah aku beritau lagi. Kalian akan terjangkit cinta karna satu virus mematikan, yaitu kebahagiaan!

Maka,
Berbahagialah. Untuk kalian.
Untuk cinta yang kalian punya.
Demi cinta yang mereka pinta.




Bulan yang kalian bilang penuh cinta,
Februari.

Sabtu, 31 Januari 2015

Kepadamu Penyuka Salju

1 komentar

Hei kamu!
Bagaimana kabarmu? Sudahkah memakai baju hangatmu? Tutupi serapat mungkin tubuhmu atau akan terserang flu. Ingat, masih banyak mimpi yang menunggumu. Pun aku.

Hei,
Bagaimana rumahmu? Sudahkah dilengkapi pemanas ruangan? Lantainya terlalu dingin untukku berani menjejak. Aku takut dinginnya 'kan menghapus jejakku perlahan. Juga kita.

Hei,
Bagaimana kulkasmu? Sudahkah kamu mengubah isinya? Tinggalkan lah segala pengawet itu. Bersusahlah sedikit untuk asupan bergizi. Kamu tak perlu pengawet itu untuk tubuhmu apalagi hatimu.

Hei,
Kamu penyuka salju,
Aku rindu.
Aku harap matahari akan melelehkan salju yang menggunung dalam dirimu.
Sebelum kita bertemu.

Jika tidak...

Hei,
Kamu penyuka salju,
Aku rindu.
Bersiaplah untukku lelehkan segala saljumu saat kita bertemu.

Senin, 26 Januari 2015

Selamat Ulang Tahun

1 komentar

Hi, Dear!

Sebelumnya, maafkan ingatanku yang sepertinya semakin melemah untuk hari terpenting kalian. Jauh-jauh hari, ketika Januari pertama kali terbangun dari tidur sebelas bulannya, aku sudah mengingatkan ingatanku untuk mengingat dua hari itu. Tapi apa daya, berakhir lupa. Sungguh, maafkan. Hiks. :(

Maka, sebagai gantinya ku kirim surat pertama ini untuk kalian.

-----------------------------------------

Hi, Dear!

Selamat merayakan tanggal 22 yang ke duapuluh tiga dan tanggal 24 yang ke duapuluh empat. Selamat untuk kalian berdua!

Berdoa lah yang banyak, Dear.
Sebanyak itu pun akan ku-amin-i.

Berbahagia lah setiap harinya, Dear.
Tebarkan pada siapa saja virus kebahagiaan kalian.

Bersemangat lah pada setiap perjalanan yang akan kalian tempuh, Dear.
Buktikan pada diri kalian bahwa kalian sehebat itu.
Paksa kami untuk mengangkat topi atas segala jerih kalian.

Bersyukur lah pada setiap detik yang masih kalian dengar detaknya, Dear.
Kencangkan yakinmu untuk mengalahkan setiap ketidakmungkinan.
Bungkam semua ragu yang terucap dari mulut-mulut jahil akan kalian.

Bersedih lah pada setiap kegagalan yang mungkin akan kalian hadapi, Dear.
Namun jangan berlama, bangkit lah segera.
Biarkan sedihmu menjadi saksi keberhasilan kalian kelak.

Dear,
Mungkin jarak sudah memisahkan paksa kita tapi percayalah aku masih akan tetap berlari untuk memeluk kalian saat semua mengacuhkan.
Mungkin waktu sudah banyak membuat aku lupa tapi percayalah aku tak akan pernah menghapus sedikitpun tentang kita.

Kalian, kita, adalah satu yang akan selalu aku syukuri. Percayalah.

Dan dari tiap kata dalam tulisan ini, aku pinta cinta pada-Nya untuk kalian.

Selamat ulang tahun, kalian berdua!

Penuh cinta,
Dalila.

-----------------------------------------
Ps: Bagaimana bila bertemu? Aku siapkan sabtu minggu bila mau. Aku tunggu! 👌

Kamis, 01 Januari 2015

1st Jan 2015

0 komentar

Hari pertama di bulan pertama di tahun 2015.

2014 sungguh tahun yang panjang, yang kadang ingin sekali cepat cepat aku akhiri. Sungguh tahun yang begitu melelahkan, menguras habis seluruh airmata. Hingga kadang ingin sekali cepat cepat berakhir.

Ada begitu banyak peristiwa yang menguji sabar kami. Menjatuhkan kekuatan kami. Menghancurkan harapan kami.

Awal tahun kami harus menerima kenyataan bahwa salah satu dari kami--beliau yang begitu aku butuhkan--didalam tubuhnya terdapat sel kanker ganas yang sudah menggerogoti. Aku rasanya sampai detik ini, masih tidak mampu bisa menerima kenyataan itu. Namun harus berpura-pura kuat demi beliau.

Setelahnya, rasanya waktu berjalan begitu lambat. Waktu tidak berjalan secepat perkembangan sel kanker tersebut. Kami, hari demi hari diharuskan tetap percaya tabah. Walau rasanya ingin sekali marah. Entah pada siapa.

Hidup rasanya hampa. Kebahagiaan yang dirasa begitu semu. Selalu ada pedih yang terasa ketika kami mampu tertawa bahagia. Ya, kami letih luar biasa.

Dan tidak sampai di sana saja, aku dan adikku--ia yang selama 15tahun tidak pernah dirawat--harus juga merasakan liburan di rumah sakit. Entah bagaimana caranya mama bisa tetap bertahan. Merawat kami bergantian. Sungguh Allah, beri lah beliau selalu kekuatan dan kesehatan seterusnya.

Hingga puncak pedih itu datang di minggu pagi yang tenang. Ya, tenang sungguh sangat tenang. Sampai kami tak mengira saat itu kedatangan tamu luar biasa sampai kami menyadari kepergiaan salah satu dari kami. Tamu luar biasa itu adalah malaikat Izrail.

Otakku seakan beku membuat hatiku begitu kelu sampai airmata tak tau bagaimana caranya untuk berhenti mengalir.... Sungguh Allah bukan ini yang aku harapkan. Bukan akhir seperti ini yang aku harapkan. Sungguh rasanya sesak masih saja menyelimuti dada sampai saat ini.

2014...
Kini telah berakhir. Meninggalkan luka yang rasanya ingin aku buang jauh jauh namun masih saja membuntutiku.

2015...
Sungguh aku berharap untuk secercah harapan yang baru. Kebahagiaan yang dapat membawa kami melupakan semua pedih ini. Aku berharap untuk itu.

Sungguh Allah,
Jadikan harapan kami nyata.
Aamiin.

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template